Erabaru.net. Menabuh adalah suatu bentuk ekspresi fundamental manusia seperti halnya berbicara, dan sepertinya menabuh ini sudah ada lama sebelum manusia mengembangkan kemampuan menggunakan bibir, lidah dan organ-organ vokal sebagai alat komunikasi.

Untuk memahami kekuatan transformatif menabuh, Anda harus benar-benar mengalaminya sendiri.

Siapa saja yang pernah ikut dalam kelompok penabung gendang atau yang pernah betah menyaksikan sekelompok penabuh gendang atau tambur dengan rasa ingin tahu dan pikiran yang terbuka.

Bahwa hiburan berirama ini serta pikiran yang muncul menyatukan perasaan dari seluruh kelompok penabuh gendang, dan kemudian membuat diri mereka semua menyatu, membuat kita mendengarkan kembali masa yang telah lama hilang, di mana kesadaran moral suku zaman kuno lebih kuat daripada sifat egoisnya, dimana sebuah pengalaman transendental mendalam yang langsung dan muncul bersama di dalam kelompok, yang bukanlah hal langka seperti sekarang.

Pengalaman ini sangat berhubungan dengan DNA kita secara biologis, secara sosial, dan secara spiritual, bahkan anak usia 2,5 tahun sepertinya mampu menyesuaikan gerak tubuhnya dengan suara dentuman akustik dari lingkungan sekitar, hal ini menunjukkan bahwa menabuh adalah kemampuan bawaan lahir dan aktivitas sosial yang umum.

Bahkan serangga tahu bagaimana menabuh

Tapi menabuh bukanlah teknologi khas milik manusia.

Penggunaan perkusi sebagai bentuk musik, komunikasi, dan organisasi sosial, dipercaya sudah ada sejak 8 juta tahun lalu pada leluhur gorila, simpanse dan manusia yang hidup di hutan Afrika.

Misalnya, penelitian baru-baru ini pada perilaku menabuh kera macaque yang mengindikasikan bahwa bagian khusus dari otak diaktifkan oleh suara tabuhan genderang atau oleh proses vokalisasi yang bersamaan di bagian caudal auditory cortex dan amygdala, yang menunjukkan “sebuah asal yang umum dari sistem komunikasi vokal dan non-vokal makhluk primata dan mendukung ide tentang asal dari bicara dan juga musik”.

Menariknya, pembuatan suara tabuhan bisa diamati pada beberapa spesies burung, hewan pengerat dan serangga tertentu.

Tentu saja Anda tahu tentang karakteristik patukan dari burung pelatuk, tapi tahukah Anda bahwa tikus seringkali menabuh menggunakan kaki mereka di tempat-tempat tertentu dalam lubangnya, bukankah kedua hal tersebut untuk menunjukkan wilayah kekuasaan dan memberi peringatan adanya predator?

Tahukah Anda bahwa anai-anai menggunakan sinyal tabuhan getaran untuk berkomunikasi di dalam sarangnya?

Misalnya, anai-anai tentara yang terancam akan menabuh dengan menggunakan kepalanya ke terowongan untuk memancarkan sinyal ke sepanjang liang bawah tanah, untuk memperingatkan anai-anai pekerja dan tentara lainnya untuk merespon sesuai sinyal yang diberikan.

Perkusi: Gelombang suara bawa informasi epigenetik, penuh arti secara biologis

Fakta yang lebih menakjubkan lagi adalah, lebah menggunakan tabuhan antenanya untuk mengubah pengembangan kasta atau fenotip dari larva mereka.

Pemikiran konvensional yang bertahan dalam jangka lama mengatakan hanya perbedaan nutrisi yang berperan untuk mengapa satu larva berkembang menjadi pekerja yang tidak dapat bereproduksi dan satu larva yang lain berkembang menjadi betina yang dapat bereproduksi (ratu).

Penemuan ini mengindikasikan bahwa sinyal akustik yang dihasilkan melalui tabuhan pada beberapa spesies tertentu membawa informasi biologis yang penuh makna (secara harfiah: ‘untuk membentuk’) yang bekerja secara epigenetik (contohnya bekerja di luar atau di atas susunan gen untuk memengaruhi ekspresi genetika).

Hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah ada, informasi penuh makna secara biologis maupun psikospiritual dari zaman kuno yang terkandung dalam pola tabuhan yang diturunkan dari leluhur kita?

Mungkinkah beberapa irama ini mengandung informasi epigenetik yang memengaruhi baik struktur maupun fungsi dari biomolekul dan mempunyai pola informasi/energi yang bermakna secara biologis di dalam tubuh kita?

Jika begitu, hal ini berarti bahwa pola suara kuno ini dapat dianggap sebagai “sistem pewarisan epigenetik” yang berhubungan dengan ekspresi DNA sebagai donor metil seperti folat dan betain, serta tidak sama seperti resep sup ayam nenek (resep secara harfiah berarti “resep obat”) yang masih ditambahkan paduan bahan kimia yang sempurna serta informasi yang spesifik, ke tubuh Anda untuk membantu Anda mengatasi pilek atau membuat Anda pulih dari kelelahan.

Ada beberapa bukti yang menarik dari studi klinis dan obervasional tentang manusia mengenai kekuatan menabuh yang memberi efek perubahan positif baik secara fisik maupun psikologis, hal yang sepertinya mengindikasikan jawaban atas pertanyaan kita tentang peran biologis dari informasi akustik dalam mengatur proses fisiologis dengan cara yang penuh makna.

6 manfaat menabuh yang sudah terbukti

Menabuh telah terbukti dalam riset klinis terhadap manusia, memberikan enam manfaat sebagai berikut:

1. Mengurangi tekanan darah, cemas / stres

Sebuah studi 2014 yang dipublikasikan dalam Journal of Cardiovaskular Medicine yang mengikutsertakan sekelompok penabuh gendang berpengalaman yang berusia paruh baya dan sekelompok pemuda penabuh gendang pemula dalam satu sesi selama 40-menit menabuh drum djembe.

Tekanan darah, laktat darah dan tingkat stres serta kecemasan mereka diperiksa sebelum dan sesudah sesi tersebut.

Selain itu, detak jantung mereka juga diamati pada setiap interval 5 detik selama sesi berlangsung.

Sebagai hasil percobaan ini, semua peserta menampakkan tingkat stres dan kecemasan yang menurun.

Tekanan darah sistolik turun pada kelompok paruh baya setelah selesai menabuh drum.

2. Menambah materi putih di otak dan fungsi eksekutif kognitif

Sebuah studi 2014 yang dipublikasikan di Journal of Huntington’s Disease menemukan bahwa dua bulan penambahan aktivitas menabuh drum pada pasien Huntington (penyakit saraf degeneratif yang mematikan) menghasilkan “peningkatan dalam fungsi eksekutif dan perubahan pada mikrostruktur materi putih, khususnya pada genu dari korpus kolosum yang menghubungkan korteks prafrontal dari kedua hemisfer”.

Penulis studi ini menyimpulkan bahwa studi percontohan menyediakan bukti awal baru bahwa menabuh (atau terkait stimulasi perilaku target) bisa menghasilkan “perbaikan dan peningkatan kognitif dalam mikrostruktur materi putih callosal”.

3. Mengurangi rasa sakit

Sebuah studi di tahun 2012 yang dipublikasikan Evolutionary Psychology menemukan bahwa pertunjukan musik yang aktif (menyanyi, menari dan menabuh) melepaskan endorphin (diukur dari meningkatnya toleransi terhadap rasa sakit setelah aktivitas) dimana hanya mendengarkan musik tidak menghasilkan hal semacam ini.

Peneliti mempunyai hipotesis bahwa hal ini mungkin berkontribusi dalam ikatan komunitas dalam kegiatan yang melibatkan tarian dan memainkan musik.

4. Mengurangi stres (kortisol/ rasio DHEA), menambah kekebalan

Sebuah studi di tahun 2001 yang dipublikasikan di Alternative Therapies and Health Medicine, telah melibatkan 111 orang dengan usia dan jenis kelamin yang berpasangan (55 pria dan 56 wanita; rata-rata 30,4 tahun) dan menemukan bahwa menabuh menyebabkan “rasio kortisol dehidroepiandrosteron bertambah, aktivitas sel pembunuh alami bertambah, dan aktivitas sel pembunuh yang diaktifkan oleh limphokin tanpa perubahan dalam plasma interleukin atau interferon-gamma bertambah, atau dalam Beck Anxiety Inventory dan Beck Depression Inventory II”.

5. Pengalaman transendental (rekreasi)

Sebuah studi di tahun 2004 yang dipublikasikan dalam jurnal Mulltiple Scleros ditemukan bahwa menabuh gendang dapat membuat peserta menjadi semakin dalam masuk kondisi terhipnotis, dan studi lain di tahun 2014 yang dipublikasikan di PloS menemukan bahwa ketika dikombinasikan dengan instruksi-instruksi shamanistik, menabuh dapat membuat peserta mengalami jumlah detak jantung yang berkurang dan pengalaman seperti mimpi yang konsisten dengan pengalaman transendental.

6. Gangguan sosio emosional

Sebuah studi tahun 2001 yang dipublikasikan dalam jurnal Evidence- Based Complementary and Alternative Medicine menemukan bahwa anak-anak dalam keluarga berpenghasilan rendah yang diikutsertakan dalam penelitian 12 minggu menabuh terlihat bahwa beberapa domain perilaku sosial-emosionalnya meningkat dengan signifikan, dari kecemasan menjadi perhatian, dari beroposisi menjadi pasca-gangguan trauma.

Mempertimbangkan manfaat dari peran evolusioner bahwa menabuh sepertinya ditampilkan dalam sejarah maupun prasejarah manusia, juga penelitian ilmiah baru yang mengonfirmasi manfaat kesehatan secara psikososial maupun fisiologis, kita berharap bahwa hal ini akan semakin dilihat sebagai intervensi medis, sosial, dan psikospiritual yang positif. (Greenmedinfo.com/Jls/Yant)

Share

Video Popular