Oleh:  Xia Lin

Pedang Damocles berasal dari legenda Yunani kuno yang mengisahkan: Kaisar Dionysius mengundang menterinya Damocles untuk menghadiri pesta, dan memerintahkannya untuk duduk di kursi yang di atasnya terjuntai sebilah pedang terhunus ke bawah dengan hanya digantungkan dengan sehelai surai kuda. Coba bayangkan, bagaimana perasaan sang menteri?

Setiap saat nyawanya terancam oleh pedang karena surai itu setiap saat bisa putus. Mantan wakil ketua Komisi Militer Pusat PKT Guo Boxiong ibaratnya telah duduk di bawah pedang Damocles selama setahun lamanya.

Lengsernya Guo Boxiong sangat berbeda dengan para pejabat negara lainnya. Dimana letak perbedaannya? Pejabat tinggi sebelumnya, sebelum lengser banyak dikomentari berbagai media asing, ada yang mendoakan keselamatannya, sebaliknya ada juga yang memperkirakan pasti akan ditangkap. Hanya Guo Boxiong, seluruh media asing entah dari latar belakang apapun, semua menyatakan Guo pasti akan ditangkap. Berita/opini media massa RRT pun terus menggedornya.

Saat Guo masih berjaya, putranya Guo Zhenggang yang berpangkat mayor jendral telah lebih dulu ditangkap bulan Februari lalu. Pada Maret lalu, situs China Youth Network dan Sino secara terang-terangan mempublikasi komentar jendral Liu Yuan (putra mantan presiden RRT Liu Shaoqi yang tewas dianiaya sewaktu Revolusi Kebudayaan) selaku anggota Komisi Politik Divisi Logistik Tentara Pembebasan Rakyat serta komentar Liu Jian selaku mantan dekan Institut Perlengkapan Militer mengenai kasus ditangkapnya Guo Zhenggang.

Liu Jian berkata, “Orang tua adalah guru anak yang pertama, jika anak tidak dididik dengan baik, tanggung jawab terbesar adalah pada orang tua.”

Saat menjawab pertanyaan apakah ayah Guo Zhenggang juga akan ditangkap karena keterlibatannya, Liu Yuan memberi jawaban dengan kata-kata yang paling kerap digunakan di kalangan para pejabat korup PKT (Partai Komunis Tiongkok), “Anda pasti mengerti.”

Dan pada April, media corong PKT yakni CCTV dan kantor berita Xinhua menuding Biro Urusan Sipil provinsi Shanxi terlibat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, dan kepala biro tersebut adalah Guo Boquan, yang notabene adalah adik kandung Guo Boxiong. Juni lalu kembali diberitakan, di Hutan Jendral (Jiangjun Lin) dekat perbatasan RRT-Vietnam di Gunung Laoshan tadinya terdapat dua prasasti batu yang terukir nama mendiang jendral Xu Caihou dan jendral Guo Boxiong (sedang diproses hukum), mendadak hilang. Wajar jika prasasti Xu Caihou yang telah tercemar nama dan jabatannya itu disingkirkan, tapi mengapa prasasti Guo Boxiong juga telah disingkirkan? Sepertinya status Guo Boxiong waktu itu juga akan mengalami perubahan besar.

Hingga akhir Juli 2015, kasus Guo Boxiong telah dirilis secara resmi oleh kantor berita Xinhua. Pedang Damocles yang digantungkan di atas kepalanya selama setahun tiba-tiba jatuh mengakhiri karir politiknya. Sementara secara fisik, kalaupun Guo bisa melalui siksaan penyakit kanker dan gangguan jiwa tingkat sedang, sepertinya juga tidak akan mampu melewati persidangan hukum dan harus menghabiskan sisa usianya dengan tersiksa. Ancaman penjara di depan mata serta siksaan ketakutan selama setahun yang dialami Guo, tidak terlepas dari keterlibatannya dengan Jiang Zemin yang melakukan penindasan terhadap Falun Gong. Dalam kejahatan yang dilakukan oleh Guo Boxiong selama hidupnya, ada dua hal yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah:

Pertama, pada saat Jiang Zemin seharusnya telah pensiun penuh, karena takut diadili atas kejahatan menindas Falun Gong, Jiang Zemin terus mencengkeram kekuasaan militer. Pada Rapat Pleno ke-4 Komisi Tetap Biro Kelompok Tetua dalam Kongres ke-16 PKT, Guo Boxiong bekerjasama dengan jendral Zhang Wannian tiba-tiba menekan Hu Jintao dengan mengajukan “usulan khusus” yang ditandatangani bersama oleh 20 anggota biro (semuanya perwira tinggi militer), menuntut agar peserta rapat menyetujui Jiang Zemin tetap menjabat sebagai Kepala Komisi Militer Pusat PKT (secara riil memegang kuasa atas militer), sekaligus menolak pensiun penuh Jiang Zemin yang telah ditetapkan sebelumnya. Akhirnya Hu Jintao terpaksa menyetujui Jiang Zemin tetap memegang jabatan sebagai Kepala Komisi Militer.

Kedua, untuk bekerjasama dengan Jiang Zemin menindas Falun Gong dengan berbagai metode “pencemaran nama, penghancuran ekonomi, dan pemusnahan fisik”, Guo Boxiong telah membentuk suatu sistem yang menyeluruh untuk merampas organ tubuh praktisi Falun Gong hidup-hidup dan menjualnya. Penderitaan luar biasa dan darah praktisi Falun Gong telah digunakan untuk mendapatkan uang dan kemakmuran.

Pedang Damocles di atas kepala Guo Boxiong telah jatuh, sejarah akan mengingat selamanya, Guo Boxiong bersama Jiang Zemin menindas Falun Gong, telah melakukan kejahatan paling kejam di atas planet ini. Lalu bagaimana nasib dalang utama penindasan Falun Gong yakni Jiang Zemin?

Di tengah fenomena lengsernya satu persatu kaki tangannya dijerat hukum dan gelombang menuntut Jiang dari dalam maupun luar negeri yang begitu menggelora, satu lagi pedang Damocles yang penuh keadilan telah digantungkan di posisi di atas kepala Jiang. (sud/whs/rmat)

 

 

Share

Video Popular