Setiap Anak di Jerman, Tak Peduli Warna Kulit dan Bahasa adalah Orang Jerman

762
Yang dipelajari di sekolah oleh seorang Imigran RRT generasi kedua di Jerman adalah: apapun warna kulitnya, seperti apapun wajah orang tuanya di rumah, bahasa apapun yang digunakan, di Jerman setiap anak adalah anak Jerman. Foto adalah pemandangan indah di Jerman. (Huang Qin/Epoch Times)

Oleh: Wu Yin

“Mama, bin ich Chinese oder Deutsche? (Mama, apakah saya ini orang Tionghoa atau orang Jerman?) Putri saya yang berusia 6 tahun buru-buru ke dapur, menengadahkan kepalanya dan melontarkan pertanyaan itu pada saya. Saya menunduk memandangnya: mata almond (berbentuk lancip dan agak sipit), hidung yang cukup mancung bagi seorang Asia, walaupun dibandingkan dengan orang-orang Eropa, ibarat bukit kecil dibandingkan dengan Gunung Alpen. Saya menjawab, “Tentu saja orang Tionghoa”, dalam hati saya berpikir begitu sambil bertanya kembali, “Menurutmu?” Putri saya memiringkan kepalanya dan dengan sangat tegas menjawab, “Orang Jerman.”

Itu adalah kejadian 2 tahun lalu, selama 2 tahun ini, dia sempat beberapa kali menanyakan hal yang sama, dan setiap kali dia bertanya, jawaban saya selalu sama, “Menurutmu?” dan jawabannya selalu berubah-ubah, kadang menjawab “Orang Jerman”, kadang menjawab “Orang Tionghoa”. Masalah status dirinya cepat atau lambat akan dihadapi oleh generasi kedua imigran seperti putri saya, ini sudah terpikirkan oleh saya sejak lama, hanya tak disangka akan tiba jauh lebih awal.

Putra saya lebih tua 2 tahun lebih dibandingkan putri saya, termasuk bocah bandel yang sangat cuek, sebelum duduk di bangku kelas 3 SD ia sama sekali tidak memikirkan status dirinya apakah seorang Tionghoa atau Jerman, sebaliknya justru saya sendiri yang merasa penasaran karena sekolahnya.

Sama sekali tidak berlebihan jika dikatakan sekolah putra saya saat duduk di kelas 1 dan 2 SD adalah sebuah sekolah penampungan ras dari seluruh dunia, orang tua murid sekolah tersebut berasal dari lebih 50 negara di seluruh dunia, lebih dari 20 orang teman sekelasnya, hanya 2 orang adalah orang Jerman asli.

Suatu kali saya bertanya pada teman Jermannya yang bermata biru dan berambut pirang, apakah temannya itu merasa anak saya yang berambut hitam dan bermata hitam adalah anak Asia atau anak Jerman? Temannya itu berpikir sejenak, lalu dengan nada tegas menjawab, “Anak Jerman.”

Jawaban ini justru membuat saya agak kaget, bagaimanapun juga saya tidak dapat menyamakan anak saya dengan orang Jerman. Tapi sejak saat itu pulalah saya memahami, yang diajarkan oleh guru sekolah di Jerman pada anak didiknya adalah: apapun warna kulitnya, seperti apapun wajah orang tuanya di rumah, bahasa apapun yang digunakan, di Jerman setiap anak adalah anak Jerman.

Tapi pada masalah ini, jawaban yang diberitahu setiap orang kepada anak saya adalah jawaban yang berbeda. Musim panas tahun lalu mertua saya datang berkunjung, beliau kerap mengajarkan anak-anak saya: orang tua kalian adalah orang Tionghoa, mereka berbahasa Tionghoa, jadi kalian adalah orang Tionghoa.

Seorang Jerman teman kami yang bernama Monika berusia 70 tahun lebih juga merasa bahwa anak-anak saya dengan sendirinya adalah anak-anak Tionghoa. Ini mudah dipahami, saat dia bersekolah, waktu itu PD-II baru saja berakhir, anak-anak negara asing sangat jarang, bisa berasimilasi atau tidak adalah masalah masing-masing imigran, pokoknya dampaknya tidak begitu besar terhadap masyarakat, jadi tidak ada yang memperhatikan.

Sekarang semuanya telah berubah, asimilasi yang gagal telah berdampak pada tatanan ketertiban masyarakat Jerman, contohnya imigran asal negara tertentu memiliki tingkat drop-out juga tingkat kriminalitas yang lebih tinggi. Pemerintah Jerman memutar otak agar para imigran dapat berasimilasi diterima di tengah masyarakat Jerman, tentunya satu langkah teramat penting adalah mengubah pola pikir masyarakat Jerman sendiri yakni “imigran adalah imigran, kita adalah kita”. Maka dari itu yang dipelajari anak-anak di sekolah adalah: kita dan para imigran adalah satu keluarga besar.

Setelah generasi berikutnya menjadi dewasa, mereka mungkin akan berpikir demikian, karena pandangan yang terbentuk sejak kecil biasanya dapat berpengaruh selama hidup seseorang. Tapi orang Jerman di generasi kita ini dengan generasi sebelumnya telah memiliki pandangan yang sangat kuat, sepertinya masih membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menerima “orang Jerman” yang berkulit kuning atau berkulit hitam. Lain halnya dengan di lapangan bola.

Dua tahun lalu saya berlibur di Amerika Serikat, di sebuah kota bertemu seorang supir taksi yang berasal dari Bangladesh, ia telah 20 tahun menetap di AS, semua anaknya lahir di AS. Ia berbicara dengan bahasa Inggris yang tidak begitu lancar, tapi ketika ia mengucapkan “my country”, ekspresinya sangat bangga. Dan “my country” atau “negara saya” yang dimaksud disini adalah Amerika Serikat.

Sembari berbincang saya tak kuasa menahan haru, harus diakui, AS memang hebat dalam hal ini. Amerika mampu membuat seseorang yang bahkan tidak fasih berbahasa Inggris untuk sungguh-sungguh mengakuinya sebagai negaranya. Padalah bahasa Jerman saya 10 kali lipat lebih lancar dibandingkan bahasa Inggris etnik Bangladesh itu, tapi saya tidak mungkin melukiskan Jerman sebagai “negara saya”.

Jika saya mengatakan “negara saya”, toh tidak akan ada orang Jerman yang akan beranggapan bahwa yang saya maksud adalah Jerman, melainkan Tiongkok, karena memang tidak salah, hampir tidak ada seorang Jerman pun yang mengakui dari lubuk hatinya bahwa saya adalah orang Jerman. Meskipun mereka melihat paspor Jerman saya, meskipun secara verbal mereka mengakui status saya sebagai orang Jerman “di atas kertas”, tapi sebenarnya apa yang mereka rasakan terhadap saya tetap saja tidak sama, karena penampilan, juga karena logat bahasa Jerman saya yang tidak begitu mirip dengan mereka, juga mungkin karena pola pikir tertentu saya.

“Sebetulnya orang apa?”

Ini biasanya tidak terkait dengan negeri pemberi paspor, yang lebih penting adalah perasaan di nurani. Jika ada yang bertanya saya orang apa, biasanya saya langsung menjawab, “Orang Tionghoa.”

Tapi bagaimana dengan anak-anak saya? Saya ingin tahu setelah mereka dewasa kelak, bagaimana mereka akan menyikapi hal ini. Jerman adalah tanah kelahiran dan pertumbuhan mereka, jika negeri ini dianggap sebagai kampung halaman mereka sepertinya sangat wajar. Mungkin pada saat itu Jerman telah berubah seperti AS, yang memperlakukan siapapun sebagai orang Amerika. Tapi mungkin orang Jerman sendiri tetap merupakan orang local/pribumi, di dalam diri mereka yang terdalam tidak akan terjadi perubahan terlalu besar.

Sampai sekarang, sebagian besar hidup anak-anak saya dihabiskan di Jerman, kebanyakan teman-teman mereka berbahasa Jerman, yang dipelajari di sekolah adalah tentang “Perdana Menteri Jerman adalah Merkel”, sejak Sekolah Dasar mereka memberi suara untuk memilih ketua kelas.

Setelah dewasa nanti jika mereka pergi ke RRT dan melihat pengemudi ugal-ugalan di jalanan, apakah akan terlontar “umpatan nasional”? Jika mereka tahu berurusan dengan polisi RRT harus ada “sedikit pelicin”, apakah mereka akan terheran-heran?

Ketika hendak browsing situs berita asing untuk melihat berita dunia, apakah mereka akan marah saat mengetahui internet telah disensor dan diblokir?

Melihat konstitusi RRT yang tertulis “hak untuk memilih” tapi tidak seorang pun kerabat di RRT yang pernah ikut dalam pemilihan kepala negara atau dewan rakyat (perwakilan rakyat), yang dimaksud disini adalah pemilu yang sebenarnya, apakah mereka akan merasakan bahwa negara ini sangat palsu?

Mereka berbeda dengan kita, mereka tidak lahir dan tumbuh dewasa disana, mereka tidak memiliki perasaan apapun terhadap negeri itu. Saya pikir mereka akan lebih banyak memahami tentang negeri Tiongkok dari sisi rasional, lalu apakah mereka akan mengakui negara ini? Jika tidak ada pengakuan itu, apakah mereka masih akan merasa dirinya sebagai orang Tionghoa?

Saat anak saya bertanya, jawaban saya pada mereka akan selalu sama, “Menurutmu?”

Dalam proses bertumbuh dewasa selalu akan ada orang yang akan memberitahu mereka pemikiran yang berbeda, tapi semua jawaban ini akhirnya harus ditemukan sendiri oleh mereka. (sud/whs/rmat)