Oleh: Zhou Xiaohui

Pada pagi hari, 3 September 2015, Parade Militer 70 tahun Kemenangan atas Jepang dilangsungkan di lapangan Tiananmen. Selain 7 Anggota Tetap Komisi Politbiro Pusat PKT, para mantan petinggi senior PKT lainnya termasuk Jiang Zemin, Hu Jintao, Li Peng, Zhu Rongji, Li Ruihuan, Wen Jiabao juga hadir di atas podium Tiananmen.

Melalui sorotan kamera CCTV (TV milik pemerintah RRT), dapat diperhatikan detail sebagai berikut. Untuk menaiki tangga menuju podium lantai 2, Jiang Zemin perlu bantuan dipapah oleh 2 orang asistennya. Hal ini menandakan kondisi kesehatannya masih lemah. Pada saat acara sesuai yang ditayangkan kamera, Hu Jintao yang berdiri disebelahnya seolah dengan sengaja menjaga jarak dengannya. Hu dengan wajah tanpa ekspresi terlihat tidak bertukar kata dengan Jiang. Ekspresi mantan PM Wen Jiaobao relaks. Para Anggota Tetap Komisi Politbiro Pusat PKT nampak serius, tiada berbincang satu sama lain. Masing-masing terkesan sedang memirkan suatu problema.

Kemunculan Jiang yang belakangan ini berada dalam pusaran anti korupsi, seharusnya baru sehari sebelumnya memperoleh izin dari Xi Jinping untuk menghadiri parade tersebut. Karena pada 26 Agustus lalu, sebuah media di luar RRT pernah memberitakan bahwa Jiang mengajukan izin absen dari parade berhubung “kurang enak badan” dan “tidak ingin merepotkan Pusat”. Hal ini minimal menunjukkan bahwa hingga saat itu, apakah Jiang menghadiri parade militer masih menjadi pertanyaan publik. Hal ini mengingat langkah kubu Xi yang tiada henti membabat sayap-sayap Jiang dan memepet Jiang beserta putranya dalam kasus KKN. Xi juga terus menerus menyindir tetua partai yang sudah pensiun tapi terus mencampuri politik praktis yang menyulitkan pekerjaan para pemimpin generasi baru.

Ketika kalangan luar masih menaruh ragu akan hal itu, Sekolah Partai Pusat PKT pada 21 Agustuts telah menggusur batu piagam dengan kaligrafi dibuat oleh Jiang, ini dipandang sebagai bentuk “de-Jiangisasi” yang paling gamblang dan sempat menghebohkan dalam dan luar negeri RRT. Bahkan ada reporter Barat yang mempertanyakan apakah itu menandakan ketidakpuasan Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap Jiang.

Oleh karena itu, boleh dikata kalangan luar terus pada menebak-nebak sikap sesungguhnya Xi terhadap Jiang. Tentu saja hati Jiang juga laksana terbakar saking paniknya. Bagi Xi, membiarkan Jiang muncul di parade militer ataupun tidak, bukan lagi suatu keputusan yang begitu penting. Karena sebelum parade, Beijing telah menggerakkan langkah pengamanan yang belum pernah ada sebelumnya, bahkan menggelar pasukan anti ranjau segala. Hal ini menandakan sikap keras Beijing bahwa dengan aktif menangkal sabotase yang mungkin saja dilakukan kubu Jiang, pengendalian terhadap Jiang tentu tidak menjadi masalah. Apabila Jiang tidak nongol, bagi kalangan luar, pada dasarnya sama dengan secara terbuka menjatuhkan “hukuman terberat” terhadap Jiang. Dari ritme dan cara Xi “menggebuk macan (koruptor)”, cara yang ia terapkan adalah maju secara bertahap yang agak aman. Maka itu, munculnya Jiang kali ini boleh dinilai sebagai semacam kondisi setor muka di bawah pengendalian Xi.

Sikap Jiang yang bergegas ingin muncul di publik, disikapi Xi dengan fleksibel. Berbuat demikian bisa mencapai target sebagai berikut:

  1. Melalui pameran kesetiaan pasukan terhadap Xi dan hubungan persahabatan dirinya dengan para pemimpin negara lain, ia menunjukkan kepada dunia dirinya sedang mengendalikan kekuasaan, sekaligus mengindikasikan bahwa Jiang Zemin telah kehilangan hak untuk berbicara, telah kehilangan pengendalian terhadap kekuasaan. Adegan kondisi kesehatan Jiang yang rapuh juga disorot, juga sedang memberi penilaian terhadap lemah atau kokohnya kekuatan. Posisi Jiang saat ini hanyalah semacam pelengkap penderita.
  1. Melalui parade militer hendak menggetarkan Jiang Zemin, mengisyaratkan kewibawaan kepada Jiang dan memperingatkan agar Jiang tidak sembarangan bergerak dan jangan lagi lempar batu sembunyi tangan.
  1. Melalui parade militer, memperingatkan kepada para antek Jiang di berbagai daerah yang masih bersembunyi, dan menghadang kekuatan ekstrem di dalam internal partai yang bersikap menentang terhadap reformasi, mereka harus melihat dengan betul apa yang terjadi.

Pendek kata, tak peduli berdasarkan alasan apakah, Jiang telah berhasil mendobrak untuk hadir di parade militer, tapi ini tidak serta merta menghindari nasib yang “sedang kena gebuk”. Lebih-lebih lagi tak bisa dikatakan ia sedang “come back” di pentas politik, padahal hanyalah sedang kebagian memperoleh waktu bernafas untuk sementara dan menangguhkan perhitungan akhir. Cepat atau lambat segala sesuatu yang seharusnya datang pasti akan datang. (whs/rmat)

 

 

Share

Video Popular