Jakarta – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Anang Iskandar, segera menampati posisi Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim Polri) yang kini dijabat oleh Komjen Budi Waseso.

Sementara Komjen Budi Waseso akan menggantikan Komjen Anang Iskandar sebagai Kepala BNN. Pergantian jabatan ini lumrah terjadi didalam sebuah organisasi. Ini merupakan dinamika organisasi dalam rangka perkembangan lingkungan strategis, baik nasional, regional maupun global.

Pergantian jabatan ini berdasarkan Keputusan Presiden RI No : 139/M Tahun 2015 tentang pemberhentian dan pengangkatan dari dan dalam jabatan Kepala BNN serta Surat Telegram yang dikirim oleh Kapolri, Nomor : ST/1847/IX/2015, tanggal 03 September 2015 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Polri.

Anang Iskandar mengatakan dirinya adalah sosok tukang cukur dengan lahir dari keluarga yang sederhana dan tradisional. Sedangkan ibunya, bernama Raunah tidak sekolah sehingga tidak bisa membaca dan menulis. Menurut dia, saudara-saudaranya menggunakan bahasa jawa, dengan tradisi budaya religius jawa kuno yang cenderung mengajarkan tradisi-tradisi leluhur, tanpa mengajarkan latar belakang maupun tujuannya.

“Saya mewarisi darah seni dari ayah sebagai tukang potong rambut, ketika kelas IV SD saya sudah dikenalkan alat-alat potong rambut,” tulis Anang dalam blog pribadinya.

Tak hanya itu, semasa mengikuti pendidikan militer AKABRI, Anang sering membantu para taruna memotong rambut mereka. Anang juga pernah mendalami ilmu fotografi saat duduk di bangku SMA. Kecintaannya terhadap seni membuatnya kerap menghabiskan waktu bersama kanvas dan kuas lukisnya dirumah.

Kecintaannya terhadap seni membuatnya kerap menghabiskan waktu bersama kanvas dan kuas lukisnya dirumah. Keterampilannya mencukur terbawa hingga ia menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian. Tak jarang Anang dimintai bantuan untuk mencukur rambut rekan-rekannya bahkan para seniornya.

Anang menceritakan, Ayahnya yang bernama Suyitno Kamari Jaya adalah seorang tukang cukur dahulu di Jalan Residen Padmudji, di depan losmen Merdeka Mojokerto. Selama hidupnya berprofesi sebagai tukang potong rambut sampai akhirnya meninggal dunia pada 1983. Saat itu, tulisnya, anaknya yang pertama masih dalam kandungan.

Tulis Anang, kemampuan mencukur rambut dan fotografi, dan melukis inilah yang sengaja dia siapkan untuk menjadi bekal dalam berjuang menjalani kehidupan setelah lulus SMA. Anang juga menulis, pada saat masuk AKABRI dia mengalami polemik, karena dia bukan anak Jendral atau orang besar yang banyak uangnya.

Anang menulis, ayahnya hanyalah anak tukang cukur dibawah pohon asem, sehingga pada saat itu miris waktu menjalani tes masuk AKABRI. Namun pada saat pengumuman hasil seleksi, dia dinyatakan lulus AKABRI dengan nomer urut 43 dari 203 peserta yang dinyatakan lulus. (Muhamad Asari)

Share

Video Popular