Oleh:  Wan Ping

Negara-negara Uni Eropa sedang menghadapi gelombang pengungsi terbesar setelah berakhirnya Perang Dunia 2. Austria pada 5 September telah mengijinkan ribuan pengungsi masuk dari perbatasan Hungaria, juga membantu mengirim sebagian pengungsi ke Jerman. Pemerintah Austria menyatakan bahwa program bantuan tersebut akan secara berangsur dikurangi, tidak akan menampung jumlah pengungsi tanpa batas sehingga perbatasan suatu saat akan ditutup kembali. Departemen Dalam Negeri Jerman juga mengeluarkan peringatan bahwa Jerman tidak mungkin menerima dan memberikan penampungan kepada pengungsi dengan jumlah sebesar gelombang sekarang.

Masuknya pengungsi ke Eropa selain membuat krisis politik, tetapi juga dapat menyebabkan ancaman keamanan.

Komisaris Tinggi UNHCR Antonio Guterres pada 6 September mengatakan, meskipun Eropa menghadapi kurang berfungsinya sistem suaka, tetapi bila negara-negara dapat bekerjasama, maka krisis pengungsi masih bisa terkontrol.

Masyarakat Eropa pada 6 September mendesak Amerika untuk membantu mencarikan tempat perlindungan bagi para imigran ke Eropa yang diakibatkan oleh perang dan kerusuhan di Suriah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby pada 5 September malam dalam wawancara dengan Reuters merujuk soal AS telah menginvestasikan dana USD. 4 miliar bantuan untuk pengungsi, dan menegaskan kembali pertimbangan pemerintah Obama, AS demi alasan keamanan menghindari para teroris mnyelinap masuk dengan berpura-pura jadi pengungsi. Dikatakan bahwa pemerintah AS telah memberlakukan pemeriksaan yang lebih ketat terhadap masyarakat pendatang dari Suriah. Dan itu perlu kita dipatuhi.

Gelombang pengungsi bisa menyebabkan ancaman bagi keamanan

Beberapa waktu lalu seorang pria berusia 30 tahun yang membantu IS (Islamic State) menyelundupkan manusia dengan tidak mau disebutkan namanya memberitahu media AS bahwa, sikap negara Barat terhadap pengungsi membuat Barat masuk perangkap IS. Sekarang sudah ada sekitar 4.000 orang anggota IS berani mati dan terlatih yang berada di Eropa. Mereka masuk sebagai pengungsi yang dikirim melalui organisasi penyelundupan manusia melalui baik jalur darat maupun udara. Dan mereka akan melakukan teror di Eropa begitu situasi memungkinkan.

Associated Press memberitakan, sejumlah buku paspor serta dokumen identitas para pengungsi tampak tercecer sepanjang beberapa kilometer di luar perbatasan Serbia. Dokumen-dokumen itu bisa jadi memang sengaja dibuang agar lebih ‘kelihatan’ seperti pengungsi Suriah dan memudahkan mereka untuk memperoleh suaka politik.

Pabean Jerman akhir-akhir ini menyita sejumlah paspor palsu yang dikirim melalui paket. Membuktikan bahwa banyak orang percaya suaka politik akan lebih mudah diperoleh bagi warga Suriah sehingga paspor palsu Suriah itu memiliki permintaan yang cukup tinggi.

Polisi perbatasan Serbia menjelaskan bahwa ada sekitar 3.000 orang setiap harinya yang masuk ke negaranya melalui Mekedonia. Dan 90 % di antaranya mengaku berasal dari Suriah dengan tanpa menunjukkan identitas diri.

Angela Merkel menghimbau Uni Eropa untuk mengulurkan tangan bantuan

Merkel pada 7 September menyatakan bahwa Jerman bersedia menampunng dan memberikan suaka kepada para pengungsi namun bersamaan itu ia juga menghimbau Uni Eropa untuk membantu mengatasi masalah pengungsi yang datang dari Timur Tengah dan negara Afrika. Menerima mereka yang mengunsi akibat menghindari perang saudara dan penganiayaan, membantu meringankan ketakutan mereka untuk dideportasi.

Jerman sudah menerima 25.000 orang pengungsi selama 3 hari. Partai koalisi yang berkuasa di Jerman sekarang pada 7 September memutuskan untuk menggunakan dana tambahan dari anggaran tahun depan sebesar EUR. 6 miliar (USD. 6.7 miliar) untuk menutupi biaya perawatan para pengungsi. Anti imigran dan pengungsi dari warga Jerman kembali berkobar seiring kian membesarnya gelombang pengungsi masuk Jerman.

Krisis pengungsi mungkin bisa menyebabkan runtuhnya Perjanjian Schengen

Presiden Prancis Hollande pada 7 September memperingatkan bahwa bilasaja negara-negara Eropa tidak memiliki kebijakan yang sama untuk berpartisipasi dalam menangani pengungsi. Maka wilayah Schengen yang berlaku tanpa sistem visa akan terancam runtuh.

Uni Eropa akan mengumumkan kuota wajib menerima pengungsi bagi negara-negaranya pada 8 September. Masing-masing anggota Uni Eropa akan kebagian sebanyak 160.000 orang pengungsi.

Untuk menghadapi besarnya gelombang pengungsi ini, Uni Eropa terpaksa menerapkan kuota wajib bagi negara-negara anggotanya. Bila mereka tidak bersedia memberikan penampungan, maka mereka wajib menggantikannya dengan sejumlah dana yang ditentukan. Ini mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar dalam mengatasi kebuntuan dalam mengambil kesepakatan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular