“Melangkahi ribuan gunung dan sungai, sekali demi sekali saya datang demi Anda. Saya datang karena menyayangi Anda…….. wahai orang Tiongkok yang sangat berharga, apakah Anda tahu seluruh dunia mengatakan, Falun Dafa baik, jangan sampai melewatkan jodoh pertemuan abadi ini.”

Syair lagu ini menceritakan masa-masa paling kejam Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang menindas Falun Gong. Sekelompok demi sekelompok praktisi Barat Falun Gong secara spontan pergi ke lapangan Tiananmen menyampaikan suara hati, memberitahukan fakta kenyataan “Falun Dafa Hao (Falun Dafa itu Baik)” kepada orang-orang Tiongkok yang sangat berharga di hati mereka. Maria Salzman wanita bule Polandia adalah salah satu dari mereka.

Menurut berita Minghui.net, pada pertengahan Mei 2015, Maria bersama-sama dengan 8000 praktisi Falun Gong dari seluruh dunia berkumpul di New York mengikuti serangkaian acara peringatan 23 tahun Falun Dafa menyebar di dunia, mengenang kembali 18 tahun lalu ketika dia pertama kali melihat Falun Gong, dia masih tetap begitu tersentuh hingga berlinangan air mata.

Mengikat jodoh dengan Falun Gong di Harvard

Maria berkata: “Saat itu tahun 1997, saya menuntut ilmu di Harvard Boston, sedang mencari mentor spiritual dan ajaran yang sesungguhnya. Suatu hari, saya melihat selembar poster seorang praktisi Falun Gong bermeditasi, terlihat begitu hening, apalagi bebas biaya, saya lalu memutuskan untuk mencoba, pertama kali berlatih saya sudah merasakan energi yang sangat besar, dalam hati saya tahu telah menemukan.”

Mungkin inilah Yuanfen / jodoh yang sering dikatakan oleh orang Tiongkok, sejak itu Maria berkultivasi menjadi seorang pengikut Falun Gong.

Penindasan yang memilukan hati

Maria berkata: “Terhadap diri saya pribadi, terindah dari berkultivasi Falun Dafa adalah mendapatkan ketenangan dalam hati. Dan hal yang membuat saya paling sedih adalah mendengarkan Falun Dafa mengalami penindasan di Tiongkok serta diumumkan sebagai kegiatan ilegal. Saya mendengarkan kejadian seperti ini, Jiang Zemin mengatakan bahwa Sejati, Baik, Sabar, tidak sesuai dengan (kepentingan)PKT, maka dari itu adalah ilegal. Mana mungkin bisa seperti itu? Berkata jujur, ramah, bermurah hati adalah nilai-nilai moral yang selalu diajarkan ayah-ibu serta kakek-nenek kepada saya. Namun, orang yang benar-benar melakukan nilai moral yang demikian ini sedang dianiaya, disiksa dan dibunuh.”

SOS disaat aksi damai, berjalan kaki bertemu dengan Presiden Polandia

Maria mulai memahami lebih banyak penganiayaan tersebut, sebagai seorang praktisi Falun Gong dan sebagai seorang Polandia yang telah terbebas dari pengendalian komunisme, terhadap menghentikan penganiayaan tersebut dia sepertinya telah mengemban misi dan tanggung jawab.

Pada Oktober 2001, Maria ikut aksi damai berjalan kaki di sektor Eropa, SOS urgent Penyelamatan Falun Gong, dia telah berjalan kaki selama 11 hari menempuh jarak 480 km. Masa berjalan itu dia bertemu dengan Presiden Polandia. Maria memperkenalkan Falun Dafa serta praktisi Falun Gong di Tiongkok sedang mengalami penganiayaan kepada Presiden Polandia. Presiden Polandia mendengarkan dengan saksama dan menyatakan akan memberi dukungan yang paling besar kepada para praktisi Falun Gong dan mendesak PKT segera menghentikan penganiayaan tersebut.

Menghadiahkan buku Zhuan Falun kepada Sri Paus

Pada 14 Mei 2002, Paus Yohanes Paulus II secara pribadi bertemu dengan Maria, dalam pertemuan yang relatif singkat itu, Maria bercerita kepada Sri Paus tentang Hari Falun Dafa Dunia pada 13 Mei serta fakta kenyataan Falun Gong dianiaya secara kejam dan brutal oleh PKT dibawah pemerintahan Jiang Zemin. Paus mendoakan Falun Dafa serta menerima buku Zhuan Falun karya klasik Falun Dafa pemberian Maria.

Kesannya tetang seorang Tiongkok

Ketika Maria diwawancarai di New York mengatakan bahwa dia terinspirasi oleh kisah dari seorang Tiongkok lansia: “Seorang Tiongkok lansia berjalan kaki menempuh jarak ribuan km ke Beijing, demi mengatakan kepada dunia: Falun Dafa itu Baik. Sebuah bungkusan selalu menyertainya, di dalam bungkusan itu penuh terisi sepatu yang telah jebol solnya.”

Berkata sampai disini, sekali lagi Maria terisak berhenti sejenak lalu dia melanjutkan: “Ialah yang mengnspirasi saya untuk berjalan ke seluruh penjuru dunia, mengatakan kepada semua orang: Falun Dafa itu Baik.”

Perjalanan ke Tiongkok yang tak terlupakan

Pada Februari 2002, demi memberitahukan fakta Falun Gong kepada warga Tiongkok, Maria pergi ke Tiongkok. Dia berkata: “Saya pergi ke banyak kota-kota di Tiongkok, saya berlatih di taman. Teringat ketika itu adalah Tahun Baru Imlek di sebuah taman di Nanjing, hampir saja menjadi ‘objek wisata’ orang-orang meletakkan anak mereka di atas paha saya dan mengambil gambar. Orang-orang bercerita kepada saya kisah mereka berkultivasi Falun Gong, saya memberitahukan kepada mereka seluruh dunia menaruh respek dan menyayangi Falun Dafa, hanya di daratan Tiongkok saja yang mengalami penganiayaan, hal tersebut sangat menyemangati mereka.”

”Seorang pria berjalan ke hadapan saya, memberitahukan kepada saya bahwa istrinya seorang anggota PKT, ketika kami berbicara, sang istri sedang memasang earphone mendengarkan musik. Pria itu berkata: “Saya berlatih Falun Dafa dan berhenti karena penganiayaan, saya sangat bersyukur Anda datang kesini.” Kemudian dia mengundang saya untuk makan bersama diluar.”

Di akhir perjalanannya, Maria ke Beijing bergabung dengan beberapa puluh praktisi Barat Falun Gong yang lain mengadakan aksi damai di lapangan Tiananmen, sempat ditangkap dan diperlakukan kasar oleh polisi PKT, sebelum dideportasi, sempat ditahan dalam sel selama 30 jam.

Akan tetapi kata Maria, apa yang dialami oleh praktisi Tiongkok jauh lebih berat dari dirinya. “Jika melalui diri saya, bisa membuat dunia luar mendengarkan suara mereka, bisa memberikan keberanian kepada mereka, hal itu adalah hal yang paling mulia yang bisa saya kerjakan.”

Keyakinan memberi manusia keberanian

Ketika Maria diwawancarai dia menyinggung negara asalnya yakni Polandia, sebuah Negara yang memiliki semangat dan tradisi, juga adalah bekas negara komunis yang pertama di dunia yang meninggalkan paham komunisme. 30 tahun yang lalu Paus Yohanes Paulus II (etnik Polandia) pernah mengatakan: “Iman, keberanian, iman”, keyakinan memberikan manusia keberanian. Di Tiongkok adalah Falun Gong yang memberikan keberanian kepada manusia.

Keindahan berkultivasi Sejati Baik Sabar

Berbicara tentang perubahan diri setelah berkultivasi Falun Gong, Maria berkata: “Bagi saya, berkultivasi adalah hal yang sangat indah, saya paling tertarik dengan ‘Sejati, Baik, Sabar’, semakin belajar semakin memahami.”

Bagaimana merealisasikan ‘Sejati, Baik, Sabar’ dalam kehidupan sehari-hari?

Maria berkata: “Sangat mudah tetapi sekaligus juga sangat sulit, karena ini tentang mengubah diri sendiri, mengubah perilaku diri sendiri. Guru memberikan kepada kita sebuah cermin, dari diri orang lain saya bisa melihat saya sendiri berada dimana, apakah diri saya sudah melakukan Sejati, Baik, Sabar. Karena segala hal yang kita lihat dari orang lain adalah cerminan dari diri sendiri. Melalui mengubah diri sendiri, saya bisa melihat perubahan di sekeliling saya. Saya mewujudkan prinsip-prinsip Sejati, Baik, Sabar, dunia di sekeliling saya juga berubah.”

Berterima kasih atas keberanian orang Tiongkok

Setelah selesai wawancara, Maria bertanya apakah dia boleh menambahkan beberapa kata, saat itu juga sepasang matanya menjadi merah lagi. Akhirnya orang Polandia bebas itu dengan tulus mengatakan: “Saya mau berterimah kasih kepada semua orang Tiongkok yang berkeberanian, orang-orang Tiongkok yang berani mundur dari PKT. Berterima kasih kepada orang Tiongkok yang memiliki budaya mulia seperti ini dan mau berbagi dengan dunia, marilah kita menghargai dan bangga akan hal ini, karena mata dunia sedang memandang kalian dan kalianlah yang sedang menciptakan sejarah. Kami sangat berterima kasih kepada kalian.” (lin/whs/rmat)

Share

Video Popular