Oleh: Cao Changqing

Pada 3 September 2015 lalu PKT (Partai Komunis Tiongkok) menggelar parade militer, tidak hanya media massa membantu mempromosikannya, juga mengundang para pemimpin negara dunia, akan tetapi pemimpin dari 7 negara industri besar dunia (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, Italia, Jepang) yang juga 7 negara demokrasi dunia, semuanya menolak untuk hadir. Karena masyarakat dunia sangat paham, parade militer Beijing berkedok peringatan atas kemenangan melawan Fasisme, tapi sebenarnya adalah propaganda untuk menciptakan sosok PKT sebagai “pasukan andalan” perlawanan tersebut, disaat yang sama sekaligus memamerkan kekuatan militer dan menghasut patriotisme, serta menguatkan posisi partai komunis.

Namun seabrek materi sejarah menunjukkan PKT sama sekali bukan pelopor dan andalan perlawanan, melainkan hanya pembantu, bahkan dalam banyak momentum justru menjadi penghambat yang merusak upaya perlawanan.

1. Hak memimpin. Semasa perang melawan Jepang, yang memerintah Tiongkok waktu itu adalah Kuo Min Tang (Partai Nasionalis disingkat pasukan KMT yang didirikan oleh Dr Sun Yat Sen) dan pemimpin negaranya adalah Chiang Kai Shek, sedangkan PKT sama sekali tidak memegang kekuasaan apapun, dari segi akal sehat maupun logika, perang perlawanan itu tidak mungkin dipimpin oleh PKT.

2. Upacara penyerahan. Pada upacara menyerahnya Jepang di kapal perang AS Missouri saat sekutu menerima penyerahan dari Jepang, adalah jendral Xu Yongchang dari pemerintahan Nasionalis Tiongkok yang mewakili Tiongkok menghadiri upacara tersebut, di atas kapal itu sama sekali tidak ada PKT selaku “pasukan andalan”. Jika PKT memimpin perlawanan tersebut, lalu mengapa “sang pemimpin” tidak hadir pada upacara penyerahan Jepang itu?

3. Medan perang utama. Sepanjang masa berperang Pasukan KMT berjuang di medan perang utama, PKT hanya bergerilya di belakang garis lawan. Menurut catatan sejarah, selama 8 tahun peperangan Pasukan KMT yang tewas dan terluka mencapai 3,41 juta personel, sedangkan pasukan PKT yang tewas dan terluka hanya 610.000 personel. Dari jumlah korban saja bisa diketahui siapa yang sebenarnya berjuang di garis depan, yang pantas disebut pasukan andalan atau pemimpin.

4. Skala pasukan. Setelah insiden Xian (dibaca: Si An), Pasukan Merah (komunis) sepakat digabungkan dibawah Pasukan Nasionalis, dengan kode Pasukan Rute Kesatuan Ke-8 (Ba Lu Jun) dan Pasukan Baru Ke-4 (Xin Si Jun), total sekitar 20.000 personel. Waktu itu Pasukan KMT mencapai lebih dari 300.000 personel, atau 15 kali lipat pasukan komunis. Satu cabang pasukan yang berjumlah 20.000 personel bagaimana mungkin dikatakan sebagai “andalan”?

5. Jendral yang gugur. Selama 8 tahun peperangan itu, perwira tinggi dari Pasukan KMT (tingkat divisi ke atas) yang gugur sebanyak 206 orang, diantaranya termasuk perwira berpangkat mayor jendral ke atas yang gugur sebanyak 115 orang (diantaranya 8 orang laksamana, 42 orang letnan jendral, dan 65 orang mayor jendral). Sedangkan dari pasukan PKT hanya seorang Jendral Zuo Quan yang tewas. Rasio perbandingan jendral yang gugur antara Pasukan KMT dengan Pasukan Komunis adalah 100:1. Bagaimana mungkin “1” ini mempelopori perang di medan perang utama?

6. Jendral musuh yang ditumpas. Bahkan dalam data sejarah ofisial RRT tercatat, sebanyak 126 orang perwira tinggi Jepang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Kuo Min Tang; sedangkan 3 jendral lainnya tewas dalam peperangan dengan Rute Kesatuan ke-8. Rasio jendral musuh yang berhasil dikalahkan oleh pasukan KMT dan pasukan PKT adalah 40:1.

7. Jumlah tentara musuh yang ditumpas. Dalam medan perang frontal, Pasukan KMT telah terlibat dalam 22 kali perang berskala besar, sebanyak 1.117 kali perang penting, lebih 380.000 kali perang berskala kecil, berhasil menewaskan sebanyak 580.000 pasukan Jepang (statistik pihak Jepang sebanyak 420.000 orang). Sedangkan pasukan PKT membesarkan angka “belasan ribu pasukan musuh tewas di perang di Pingxingguan” yang sama sekali tidak benar, bahkan direkayasa. Faktanya, dalam perang tersebut, sebanyak 261 pasukan Jepang jadi korban (167 orang tewas, dan 94 lainnya luka-luka), kendaraan angkut yang rusak sebanyak 140 unit. (beberapa tahun lalu PKT diam-diam mengganti angka tersebut menjadi 1000 personel)

8. Perang pasif. Mao Zedong pernah mengkritik keras Jendral Peng Dehuai yang melancarkan serangan “Seratus Resimen” (pasukan PKT menewaskan 306 pasukan Jepang), karena dianggap telah melanggar instruksi internal PKT yakni “70% mengembangkan diri, 20% berunding, 10% melawan Jepang” (keputusan pada rapat rahasia PKT di Luochuan di bulan Agustus 1937). Padahal pasukan PKT yang dipimpin Wang Zhen melakukan “produksi masal” di Nanniwan, Yanan, yakni menanam ganja dan memperjual belikannya.

Dari angka-angka tersebut bisa dilihat dengan jelas, siapa sebenarnya kekuatan utama dalam perang melawan Jepang. Jika PKT adalah pasukan andalannya, bagaimana mungkin jumlah korban di pihak PKT begitu sedikit, jendral yang gugur sedikit, musuh yang dibunuh juga sedikit, jendral musuh yang dibunuh juga sedikit, keterlibatan perang juga sedikit?

Partai PKT tidak hanya bukan sebagai andalan, tapi kemudian justru mencelakakan “andalan” yang sesungguhnya. Sebanyak 206 perwira tinggi Kuo Min Tang mengorbankan jiwa demi melawan serangan Jepang, sementara jendral KMT lainnya yang berhasil selamat akhirnya banyak yang dipenjara oleh partai komunis sebagai “tawanan perang” dan ditindas. Melulu di Unit Tawanan Perang Fushun saja pernah dipenjara 354 orang jendral Pasukan KMT seperti Du Yuming, Huang Wei, Wang Yaowu, Liao Yaoxiang, yang telah berjasa melawan Jepang. Dan perlakuan yang mereka lebih buruk dibandingkan pasukan Jepang yang ditawan disana.

PKT pernah menawan sebanyak 1.062 tawanan perang pasukan Jepang, pada tahun 1956 sebanyak 1.017 orang di antaranya dibebaskan dari tuntutan dan dikembalikan ke Jepang; selebihnya 45 orang tak seorang pun dijatuhi hukuman mati dan telah dibebaskan kembali ke negaranya pada tahun 1964. Sedangkan para jendral Kuo Min Tang tersebut justru divonis penjara seumur hidup dan kerja paksa, banyak diantaranya kemudian berubah menjadi “boneka politik”, yang selalu memuja partai komunis.

Jendral Du Yuming yang pernah dengan gagah berani melawan Jepang dan menentang komunis pada akhirnya berubah menjadi idiot politik. Seperti pada tahun 1960 ketika PM Zhou Enlai menjamu Marshal Montgomery dari Inggris, meminta Du mendampingi. Waktu itu Marshal Montgomery bertanya pada Du, kemanakah “Jutaan Resimen” milik Kuo Min Tang dulu? Du menunjuk pada Jendral PKT Chen Yi sambil berkata, “Semua sudah diberikan padanya”. Montgomery bertanya lagi, “Satu pun tidak tersisa?” Du Yuming tercenung sejenak lalu menjawab, “Hanya saya yang tersisa.” Zhou Enlai menimpali, “Du juga sudah menjadi penganut paham sosialisme.” Menghadapi jawaban dari Du, Marshal Montgomery yang tidak memahami kekejaman komunis dan tidak tahu menahu berkata, dirinya melihat kekuatan Tiongkok yang baru pada diri Du Yuming, ia pun menjadi sangat kagum.

Karena jawaban Du Yuming yang ‘tepat’, tak lama kemudian ia dipromosikan menjadi Komisi Koordinasi Politik PKT. Seorang Jendral Du yang dulunya pernah memimpin pasukan besar melawan Jepang, dengan tunduk dan taat pada sang diktator, menjilat dan memuja, pada akhirnya berubah menjadi bagian dari mesin kediktatoran.

PKT bukan tidak tahu menahu tentang fakta sejarah dalam perang melawan Jepang. Tapi rezim Beijing sengaja mendistorsi sejarah, berusaha merampas kehormatan selaku “hak memimpin” dalam perang melawan Jepang, memoles diri seolah Pasukan Nasionalis yang telah berkorban melawan Jepang, memanfaatkan patriotisme rakyat Tiongkok dalam melawan penjajah Jepang untuk menggantikan “Tiongkok yang sejati” dengan “PKT” agar rakyat mengakui (me-legitimasi) rezim Beijing. Dalam parade militer Beijing kali ini kembali menunjukkan bahwa kebohongan PKT besarnya seperti skala parade militer yang digelarnya, yang harus ditopang dengan tangan besi. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular