Sebuah kawah “aneh” di Mars menarik perhatian para ilmuwan. Sebuah perhitungan sederhana tidak hanya menjelaskan bagaimana ia mendapatkan bentuknya yang aneh, tetapi juga mengangkat beberapa pertanyaan tentang cuaca masa lalu di Mars.

“Kawah seharusnya berbentuk mangkuk, namun yang satu ini justru memiliki teras di dinding,” kata Ali Bramson, seorang mahasiswa pascasarjana di Lunar and Planetary Laboratory (LPL) di University of Arizona, AS. Teras dapat terbentuk bila ada lapisan bahan yang berbeda di bawah permukaan planet, seperti kotoran, es, atau rock.

“Ketika kawah terbentuk, gelombang kejut dari sebuah objek yang menghantam permukaan planet merambat secara berbeda tergantung pada substrat apa yang di bawah area terdampak,” tutur Bramson. “Jika Anda memiliki bahan yang lebih lemah di satu lapisan, gelombang kejut dapat mendorong keluar bahan tersebut dengan lebih mudah, dan hasilnya adalah terasering pada permukaan antara bahan yang lebih lemah dan lebih kuat.”

Sesuatu yang aneh sedang terjadi

“Perlu untuk disebutkan bahwa kawah dengan ukuran teras semacam ini cukup langka,” kata Shane Byrne, profesor di LPL. “Namun di area ini (Arcadia Planitia), memang terdapat banyak kawah bertingkat. Kawah-kawah itu mungkin telah terbentuk pada waktu yang berbeda, tetapi mereka semua memiliki teras, yang menunjukkan sesuatu yang aneh sedang terjadi di bawah permukaan.”

Tingkat kemiringan sumbu perputaran Mars yang tidak stabil berakibat sering terjadinya perubahan iklim. Tidak seperti Bumi, Mars tidak memiliki bulan besar untuk tetap membuatnya stabil. Sebaliknya, Planet Merah itu justru kerap bergetar pada porosnya, dan bergoyang-goyang yang mengarah ke perubahan iklim yang dramatis. Mereka terus mengalami pergeseran, yang pada gilirannya, telah menyebabkan zaman es intermiten (berhenti untuk sementara waktu dan menyambung semula).

Dengan menggunakan kamera di Mars Reconnaissance Orbiter NASA, peneliti menciptakan model 3D dari kawah di area itu, yang memungkinkan mereka untuk mengukur kedalaman teras di sana. Para peneliti kemudian memancarkan pulsa radar ke Mars untuk mengukur waktu yang dibutuhkan bagi sinyal radar untuk menembus lapisan yang terkubur di bawah permukaan dan memantul kembali ke atas.

Mereka kemudian menggabungkan dua set data untuk mengukur kecepatan, petunjuk penting dalam komposisi gelombang radar lapisan kawah. Temuan mereka diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters.

Di dalam kawah tersebut, lapisan-lapisan itu ternyata memang adalah es, dan terdapat dalam jumlah besar. Tepat di bawah permukaan tanah Mars, para peneliti menemukan sebuah lempengan besar es, setebal 40 meter dan meliputi area yang setara dengan gabungan California dan Texas.

Sementara keberadaan es tidak terlalu mengejutkan, usia, jumlah, dan lokasinya yang justru membuat para ilmuwan geleng-geleng kepala.

Salju dan es

Meskipun para ilmuwan telah mengenal tentang kandungan es di bawah tanah kutub Mars selama beberapa waktu dan telah menggunakan mereka untuk melihat sejarah iklim, pengetahuan tentang lapisan es, namun analogi luas lapisan es yang setara dengan perbatasan Kanada-AS dan Kansas adalah sesuatu yang baru.

“Mengetahui di mana terdapat es dan seberapa tebal hal itu dapat memberitahu Anda tentang iklim masa lalu Mars,” kata Byrne. “Fakta bahwa es begitu tebal dan luas membawa kita untuk berpikir bahwa hal itu tentunya hadir melalui salju yang turun, kemudian terakumulasi menjadi es, terkubur, dan kemudian terawetkan.

“Terdapat banyak perubahan iklim antara masa sekarang dan puluhan juta tahun yang lalu ketika kita menduga bahwa es ada di sana. Namun hal itu (iklim di Mars) terus mengalami ketidakstabilan di hari ini, dan iklim masa lalu lainnya turut mengakibatkan ketidakstabilan es di wilayah ini. Hal itu berarti bahwa es seharusnya sudah disublimasikan lenyap ke atmosfer Mars yang kering sekarang. Jadi, itulah yang ingin kita selidiki, yakni Apa yang membuat es tetap bertahan di bawah tanah selama ini? Tidak ada model iklim kita sekarang yang mampu menjelaskan hal ini.” (Osc/Yant)

Share

Video Popular