Jakarta – Pertumbuhan likuiditas perekonomian M2 (Uang Beredar dalam arti luas) kembali melambat. Posisi M2 pada akhir Juli 2015 tercatat sebesar Rp 4.383,0 triliun, atau tumbuh 12,7% (yoy), mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan pertumbuhan M2 pada Juni 2015 yang sebesar 13,0% (yoy).

Data yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) dikutip, Kamis (10/9/2015) menyebutkan berdasarkan komponennya, pertumbuhan M2 yang melambat tersebut bersumber dari komponen Uang Kuasi (Simpanan Berjangka dan Tabungan baik dalam rupiah maupun valas serta Simpanan Giro Valuta Asing). Pada Juli 2015, Uang Kuasi tumbuh sebesar 12,3% (yoy) atau melambat dari bulan sebelumnya yang sebesar 13,9% (yoy).

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, melambatnya pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan kredit yang disalurkan perbankan. Kredit yang disalurkan oleh perbankan pada Juli 2015 tercatat sebesar Rp3.859,6 triliun, atau tumbuh 9,4% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 10,5% (yoy). Hal ini sejalan dengan masih melambatnya pertumbuhan ekonomi. Perlambatan kredit tersebut terutama terjadi pada Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI).

Suku bunga simpanan dan suku bunga kredit mengalami penurunan sejalan dengan melambatnya pertumbuhan kredit. Pada Juli 2015, suku bunga deposito berjangka 3 dan 6 bulan masing – masing tercatat sebesar 8,13% dan 8,71%, atau turun dibandingkan bulan sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 8,27% dan 8,73%. Sementara itu, rata-rata suku bunga kredit turun dari 12,97% pada Juni 2015 menjadi 12,92% pada Juli 2015.

BI menjelaskan Uang Beredar dapat didefinisikan dalam arti sempit (M1) dan dalam arti luas (M2). M1 meliputi uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro berdenominasi rupiah), sedangan M2 meliputi M1, uang kuasi dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem monter yang dimiliko sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun.

Share

Video Popular