Oleh: Ding Lukai

Pada 3 September 2015 lalu, Beijing menggelar parade militer akbar memperingati perang RRT melawan Jepang sekaligus peringatan 70 tahun kemenangan dunia melawan Fasisme. Kalangan luar menyoroti kehadiran Jiang Zemin dalam upacara parade militer dan ajang pamer senjata oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) ini.

Akan tetapi dalam proses parade tersebut, masih ada satu hal penting lain yang patut dicermati, yakni pidato yang disampaikan Xi Jinping, juga diumumkan bahwa PKT akan mengurangi sebanyak 300.000 personel militernya. Perkataan Xi Jinping ini mungkin bukan ditujukan pada Jiang Zemin, tapi bagi Jiang hal ini tak pelak cukup mengejutkan.

Setelah menyampaikan sambutannya pada pihak yang berpartisipasi dalam parade militer itu, hal pertama yang disebutkan Xi Jinping dalam pidatonya adalah: “Perlawanan rakyat RRT melawan Jepang dan perlawanan dunia melawan Fasisme adalah duel akbar antara kebajikan melawan kejahatan, perang antara yang terang melawan yang gelap, progresif melawan reaksioner.”

Saat ini konflik internal PKT sangatlah sengit, ledakan di Tianjin yang terjadi pada 12 Agustus malam hari, nara sumber internal menyebutkan jumlah korban yang tewas telah mencapai 1.400 orang. Menurut penuturan, peristiwa tersebut didalangi oleh kubu Jiang Zemin, dan salah satu tuntutan dari peristiwa tersebut adalah memperbolehkan Jiang Zemin hadir dalam parade militer.

Xi Jinping memang telah membiarkan Jiang Zemin menghadiri parade militer 3 September 2015. Bagi pihak luar, konflik sengit antara kubu Xi Jinping melawan kelompok Jiang Zemin sedikit banyak adalah refleksi dari “duel akbar antara kebajikan melawan kejahatan, perang antara yang terang melawan yang gelap, kemajuan melawan reaksioner.”

Menghadapi cara berlebihan kubu Jiang ini, kata-kata Xi Jinping pun dengan sendirinya menjadi agak tajam. Bagi seorang Jiang yang penuh niat iblis, kata-kata itu sepertinya tidak hanya serasa menusuk telinga, tapi juga menusuk hati.

Lebih lanjut Xi Jinping mengatakan, kemenangan rakyat Tiongkok melawan Jepang, “Kembali menegakkan posisi Tiongkok sebagai negara besar di dunia ini, memenangkan penghormatan bagi rakyat Tiongkok sebagai masyarakat dunia yang cinta damai.”

Bagi Jiang Zemin, kemenangan Tiongkok melawan Jepang pada masa itu (1945-an), justru merupakan suatu mimpi buruk. Alasannya sederhana, karena pada waktu itu Jiang Zemin dan ayahnya sama-sama telah menjadi mata-mata bagi jepang, apabila Jepang kalah perang, menandakan hari bahagia keduanya pun berakhir sudah.

Menurut buku “Seorang Jiang Zemin”, takut akan sanksi pemerintahan Kuo Min Tang (yang memerintah daratan Tiongkok sampai tahun 1949 yang kemudian hengkang ke pulau Taiwan) terhadap pengkhianat, baik ayah dan anak Jiang Shijun maupun Jiang Zemin bisa merasakan bahaya telah di depan mata, sehingga sang ayah pun melarikan diri ke kampung halaman untuk bersembunyi selama beberapa waktu dan mengganti nama aslinya “Jiang Guanqian” menjadi Jiang Shijun yang berprofesi sebagai seorang pedagang, teknisi, juga seorang penggemar sastra.

Sedangkan Jiang Zemin muda, mahasiswa yang sedang studi di Central University bentukan agresor Jepang, juga tercantum namanya dalam daftar mahasiswa yang dicurigai sebagai pengkhianat yang akan dieksekusi. Melihat nasib yang menimpa Chen Gongbo yang lebih dulu dieksekusi, Jiang Zemin yang berikutnya giliran dieksekusi sontak melarikan diri dari sekolah dan terlantar di suatu tempat bernama Mianhuaping di Yongxin, propinsi Jiangxi. Kemudian seorang petani setempat menampung Jiang selama lebih dari setengah tahun lamanya, sebelum akhirnya Jiang dijemput oleh keluarganya.

Saat berbicara soal perang dan perdamaian, Xi Jinping menyebut istilah “kesamaan nasib manusia”, dan Xi menyatakan bahwa militer PKT adalah “tentara milik rakyat”, yang “harus melayani rakyat dengan segenap hati, serta melindungi keamanan tanah air dan kehidupan rakyat yang damai, menjaga perdamaian dunia”, dan lain sebagainya. Kemudian Xi mengumumkan, Tiongkok akan mengurangi sebanyak 300.000 personel militernya.

Angkatan bersenjata PKT saat ini beranggotakan 2,3 juta personel, jika Xi Jinping sekaligus memangkas 300.000 personel, ini jelas adalah gerakan besar yang akan berdampak pada kepentingan banyak orang di dalam tubuh militer.

Mengapa harus memangkas 300.000 personel?

Makna yang mendalam mungkin karena sebagian dari pasukan militer PKT yang ada sekarang bukan “tentara milik rakyat”, dan tidak melayani rakyat, juga tidak melindungi keamanan tanah air dan kehidupan rakyat yang damai, apalagi soal “menjaga perdamaian dunia”.

Ketika Jiang Zemin berkuasa, pasukan militer PKT perlahan menjadi pasukan pribadi bagi Jiang Zemin, jual beli jabatan sudah menjadi tradisi, sehingga terjadilah dilengserkannya perwira tinggi yang menjabat sebagai wakil ketua Komisi Militer yakni Xu Caihou dan Guo Boxiong. Dan kejahatan terbesar yang dilakukan Jiang dengan memanfaatkan militer PKT adalah menindas Falun Gong, dan menggunakan berbagai sarana dan prasarana militer untuk melakukan perampasan organ tubuh praktisi Falun Gong dalam skala besar.

Sejak Maret hingga September 2014, pihak militer PKT melakukan investigasi berskala besar terhadap RS militer. Menurut narasumber, investigasi tersebut dilakukan oleh pihak Zhongnanhai untuk menyelidiki kasus kejahatan perampasan organ tubuh yang dilakukan oleh kubu Jiang Zemin, terutama dalam hal ini lembaga medis terpenting yang terlibat dalam perampasan organ tubuh adalah Rumah Sakit Polisi Bersenjata.

Selain itu diberitakan, rencana reformasi di tubuh militer PKT akan diumumkan secara resmi setelah parade militer berakhir, diantaranya termasuk pembentukan Markas Besar 3 Angkatan, 7 zona militer diubah menjadi hanya 4 zona militer, pada setiap zona militer dibentuk Pusat Komando Gabungan, para jendral di zona militer hanya punya jabatan tanpa kuasa.

Sejak awal Xi Jinping telah menyelidiki kasus perampasan organ tubuh oleh militer PKT, ditambah lagi dengan reformasi besar-besaran di tubuh militer dengan mengurangi 300.000 orang personelnya, intinya Xi Jinping akan melakukan pembedahan besar-besaran terhadap tubuh militer PKT, yang sangat mungkin berlanjut mengadili kekuatan kubu Jiang Zemin yang terlibat dalam perampasan organ tubuh.

Di akhir pidatonya Xi Jinping mengatakan, “Mari kita bersama mengingat kebenaran yang agung dalam sejarah ini: Kebenaran pasti menang! Perdamaian pasti menang! Rakyat pasti menang!”

Ungkapan Xi Jingping sangat mengejutkan banyak orang. Akan tetapi, yang sedang dihadapi oleh Xi Jinping adalah kejahatan yang dilakukan oleh lawan politik terbesarnya Jiang Zemin, yang sangat bertentangan dengan kebenaran serta mencelakakan rakyat, melihat dari sudut pandang ini, maka tak heran jika Xi Jinping melontarkan kata-kata seperti itu. Situasi memaksa, Xi Jinping sangat mungkin tanpa disadari bisa merasakannya.

Jiang Zemin menghadiri upacara parade militer, mendengar pidato Xi Jinping dengan statusnya sebagai mantan pengkhianat negara yang masih tersisa, pasti merasa ibarat duduk di atas tumpukan jarum. Jiang Zemin tidak menyangka, tadinya menghadiri parade militer berniat “menyombongkan diri”, tapi sekarang justru di hadapan seluruh dunia karena dianggap sebagai pihak yang bertentangan dengan kemenangan perang dan anti-Fasisme, di luar dugaan Jiang seolah “ditampar” telak, mungkin inilah takdir. (sud/whs/rmat)

 

Share

Video Popular