Oleh: Zhou Xiaohui

Dalam dua tahun belakangan ini di dalam operasi anti korupsi dari pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT), hingga Jumat (28/08/2015) sudah terdapat sekitar 70 orang lebih pejabat tinggi diatas level provinsi yang dipecat, yang melakukan KKN dan memiliki banyak WIL. Uang sitaan dari mereka berjumlah ratusan juta yuan, dan mereka hampir seluruhnya adalah orang kepercayaan Jiang Zemin atau termasuk kelompok faksi Jiang.

Tidak sedikit dari mereka yang dipromosikan dan diangkat di zaman Jiang berkuasa misalnya seperti petinggi militer pusat jendral Guo Boxiong dan mendiang jendral Xu Caihou, mantan kepala Komite Politik/Hukum Pusat Zhou Yongkang dan mantan walikota Chongqing Bo Xilai yang ambisius.

Dimata Jiang “Pejabat korup yang memerintah” bukanlah hal buruk, seseorang jika akan membuat orang lain setia kepada dirinya harus ada alasan. Justru karena Jiang itu tidak cerdas dan terpilih tidak melalui mekanisme pemilu bebas, jikalau semua pejabat yang ia angkat jujur dan bersih maka malah akan menonjolkan ketidakmampuan dan sifat KKN-nya. Dan manfaat yang paling besar dari pejabat korup adalah amat dibenci rakyat, jadi dari sisi reputasi mereka tidak sampai mengancam kedudukan Jiang.

Tentunya para pejabat tinggi tersebut harus berperilaku asor di hadapan marga Jiang. Karena marga Jiang di daratan Tiongkok dikenal sebagai “Koruptor Nomor 1 Dunia”, dua putra Jiang Zemin yakni Jiang Mianheng dan Jiang Miankang yang sangat mengandalkan kekuasaan sang ayah, mereka secara diam-diam berkolusi dengan pengusaha besar dan telah meraup harta kekayaan yang tidak terhitung.

Menurut laporan media luar negeri, pada 1994 Jiang Mianheng mencampakkan jabatan sebagai ketua Lembaga Riset Pendulangan Emas Shanghai, dan beralih membeli Perusahaan Investasi Gabungan Shanghai yang bernilai miliaran Yuan dengan hanya beberapa juta Yuan. Tahun 2000 Jiang Mianheng mendirikan lagi perusahaan Mikroelektonik Hong Li, berinvestasi 6,4 miliar US dollar, dananya diambilkan dari kas Negara. Pada Mei 2001 di “Fortune Global Forum” yang digelar di Hong Kong, Jiang Zemin memperkenalkan Jiang Mianheng kepada para taipan/miliarder bereputasi internasional guna memperluas kekuatan kerajaan marga Jiang.

Seperti diduga, hari kedua setelah PKT sukses mendapatkan ijin untuk menyelenggarakan Olympiade, Jiang Mianheng mulai menandatangani order besar. Sejak saat itu Jiang Mianheng menjadi wakil tertinggi PKT dari kalangan “kolusi antar pengusaha dan penguasa”. Selain itu Jiang Mianheng juga menjadikan Shanghai sebagai basis untuk mengembangkan “kerajaan telekomunikasi”nya serta berkaitan dengan banyak kasus mega korup Tiongkok yang mengejutkan dunia internasional, seperti “Kasus Zhou Zhengyi”, “Kasus Liu Jinbao”, “Kasus Wang Weigong mantan skretaris Huang Ju” dan lain-lain, “Kasus pelelangan Shanghai” senilai 120 miliar juga menunjuk langsung ke Jiang Mianheng.

Adapun Jiang Miankang, dikenal memiliki posisi sebagai inspektur setingkat direksi dari Komite Manajemen Transportasi dan Konstrusi Kota Shanghai, bertanggung jawab atas koordinasi pertanahan, pembongkaran, perencanaan dan pelaksanaan konstruksi seluruh kota megapolitan. Menurut pengacara terkenal Shanghai Zheng Enchong, walaupun inspektur bukan jabatan resmi akan tetapi posisi jabatannya sangat tinggi, kuasanya sebenarnya setara dengan Direktur Komisi Kontruksi. Mumpung bersandarkan bidang Konstruksi dan Transportasi Shanghai maka Jiang Miankang mendirikan lembaga penelitian, pusat penelitian, perusahaan, asosiasi, penerbit dan lain sebagainya yang juga telah meraup banyak keuntungan.

Sebenarnya marga Jiang telah mengkorup berapa banyak duit?

Tidak diragukan adalah sebuah black hole. Menurut majalah “China Affairs”, “Di Bank Swiss Jiang Zemin memiliki akun rahasia senilai 350 juta USD (5 Triliun rupiah), di pulau Bali-Indonesia Jiang per 1990 membeli sebuah rumah mewah senilai 10 juta USD (142 miliar rupiah) yang diurus oleh Tang Jiaxuan mantan Menlu RRT.”

Selain itu menurut laporan media Hong Kong, Bank for International Settlements pada Desember 2002 pernah menemukan sejumlah dana keluar dari Tiongkok sebesar 2 miliar lebih USD (28,4 triliun rupiah) tanpa diketahui siapa pemiliknya. Setelah itu Liu Jinbao direktur Bank of China cabang Shanghai dalam penjara mengakui bahwa dana itu milik Jiang Zemin yang ditransfer keluar untuk persiapan jalan mundur menjelang Kongres XVI PKT yang diadakan pada November 2002.

Yang dimaksud dengan “guru kencing berdiri murid kencing berlari”, maka para anak buah Jiang dari berbagai tingkatan mana mau ketinggalan. Mendiang jendral Xu Caihou dan jendral Guo Boxiong sebagai pemangku jabatan paling tiggi dalam tubuh militer kala itu, telah menjual pangkat, Zhou Yongkang ber-KKN-ria dalam Komite Politik/Hukum dan Departemen Petroleum dan lain sebagainya. Justru disaat Jiang berkuasa, korupsi menjadi trend dan merajalela di seluruh masyarakat, kesenjangan antara kaya dan miskin pun semakin melebar serta moralitas anjlok drastis.

Hal yang sangat ironis ialah Jiang bersama para pejabat tingginya berteriak lantang “Anti Korupsi” di segala pertemuan, namun sebenarnya itu hanyalah kedok untuk menipu rakyat dan alat untuk menyerang pesaing politiknya. Dengan kata lain para ‘pejabat korup’ yang setia dengan Jiang, karier dan jabatan mereka naik dengan pesat dan bagi mereka yang tidak setuju akan ditindak keras mengatasnamakan anti korupsi, juga terdapat kasus pion kecil yang tak berguna bagi Jiang dijadikan sasaran tembak yang sial guna menakuti yang lain. Misalnya seperti mega korupsi “Kasus Yuanhua Xiamen” dan kasus suap Cheng Kejie adalah permainan Jiang yang terang-terangan meringkus orang-orang yang bertentangan dengan dirinya, sandiwara klasik yang membela antek/orang kepercayaannya dengan mati-matian. Kasus Xiamen bersangkutan dengan orang kepercayaannya yakni Jia Qinglin dan sekretaris satu Jia Yanan, kematian Cheng Kejie adalah karena terlampau ‘perhatian’ terhadap gundik Jiang yakni penyanyi kondang Song Zuying.

Jika dibandingkan dengan pejabat tinggi yang memiliki banyak WIL, Jiang Zemin sedikitpun tidak mau kalah, tingkat kecabulannya dalam bidang itu juga mengejutkan. Daftar nama-nama WIL-nya termasuk spion wanita ex Uni Soviet, Chen Zhili mantan Menteri Pendidikan, Huang Liman mantan sekretaris komite kota Shenzhen, Li Ruiying penyiar CCTV, penyanyi Song Zuying dan lain-lain. Diantaranya yang paling sok berkuasa adalah Song Zuying dan status ejekannya sebagai “Ibu Negara”sejak awal sudah menjadi bahan olok-olokan masyarakat kala senggang.

Dengan panutan sekjen (di negeri komunis, sekjen identik dengan pemimpin-red) seperti itu, bagaimana para pejabat PKT besar-kecil tidak meniru? Dengan demikian perilaku bobrok berupa korupsi dan mata keranjang ala Jiang, lantas ramai-ramai menjadi gaya hidup para pejabat PKT di seantero negeri. Pada saat PKT kehilangan hati kepercayaan dari rakyat, bersamaan itu pula telah mempercepat proses pemakaman diri PKT sendiri. (lin/whs/rmat)

 

Share

Video Popular