Oleh: Zeng Boyan

Konferensi Kairo digelar menjelang berakhirnya PD-II, Roosevelt, Churchill, dan Chiang Kai-shek, masing-masing mewakili Amerika Serikat, Inggris, dan waktu itu masih Republik Tiongkok (Republic of China), hadir dalam konferensi tersebut. Waktu itu Mao Zedong masih sembunyi di suatu lembah dan membual bahwa dirinya bertempur di belakang garis lawan, padahal sebenarnya daerah tersebut berada di bawah pimpinan Komando Zona Perang II Tentara Nasionalis yakni Yan Xishan. Jadi, Mao membawa panji Kesatuan Rute 18 Tentara Nasionalis dan menerima ransum militer milik pemerintah Kuo Min Tang, melakukan separatisme di belakang garis musuh, bergerilya meluaskan wilayah pendudukan nyaris tanpa berperang.

Bagaimana pun juga Mao Zedong sama sekali tidak terkait dengan Konferensi Kairo pada saat itu. Kini, dalam film “made in China” ini yang mengisahkan konferensi tersebut, dalam iklan promosinya terpampang foto besar Mao Zedong, hal ini sontak mengejutkan dunia internasional. Bahkan surat kabar “Global Post” yang selama ini pro-PKT pun tidak terima dengan kejadian ini, artikel pun diterbitkan mengkritik film yang tidak menghormati sejarah itu.

Sejarah, sesungguhnya berada di tangan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Jangankan menghormati sejarah, bahkan memutar balikkan sejarah, merekayasa citra PKT yang sering mereka bangga-banggakan sebagai “agung-cemerlang-lurus (偉光正 / Wei-Guang-Zheng)” yang diciptakan dari seonggok demi seonggok kebohongan yang terus menumpuk.

Pemimpin agung mereka yakni Mao Zedong (dibaca: Mao Ce Tung), dengan Empat Kitab Kejayaan-nya, menurut Badan Riset Dokumen Sejarah PKT, adalah hasil tulisan dan rekayasa Mao sendiri hanya 27 bab. Berarti lebih dari 80% dari kitab tersebut ditulis oleh orang lain dan resolusi publik serta kutipan dokumen, Mao sendiri juga mengakui, kata-kata di dalam Kongres PKT VIII yang terkenal itu “Rendah hati membuat orang maju, sombong membuat orang tertinggal (Xūxīn shǐ rén jìnbù, jiāo’ào shǐ rén luòhòu)” adalah kontribusi dari sekretarisnya Tian Jiaying.

Dalam 4 buku berjudul “Pilihan Mao Zedong”, penulis, yang sama sekali tidak terkait dengan kekuasaan, pun dapat menemukan gaya tulisan dari para cendekiawan pendukung pemimpin partai itu, mereka adalah Hu Qiaomu, Ai Siqi, Chen Boda, Shi Zhe, Tian Jiaying dan lain-lain. Seorang pemimpin agung PKT dibentuk dan dibesarkan oleh sekretaris, pemikir dan para pendukungnya. Dari sini bisa dipahami apa yang disimpulkan Lin Biao (mantan pemimpin militer PKT dan pernah ditunjuk sebagai penerus Mao tapi dituduh telah mengkhianati Mao dan tewas di dalam pesawat terjatuh di Mongolia) dari pengalamannya di partai komunis: “Tidak bisa berkata bohong, tidak akan bisa merampungkan tugas besar”. Bukankah ini juga membuktikan semua predikat keagungan (agung-cemerlang-lurus) yang disebut-sebut PKT dibangun atas dasar kebohongan?

Penulis mendapati, kebohongan PKT adalah warisan turun temurun sejak dulu, mulai dari kebohongan atau rumor dari PD-II, cucu Mao sendiri yakni Mao Xinyu sempat membual, pamannya, Mao Anying pernah menyerbu Berlin, padahal Stalin belum pernah memberi ijin Mao Anying untuk maju ke medan perang. Bahkan mengatakan: kemenangan PD-II diraih oleh kakeknya, seolah kemenangan perang di Eropa dan Samudera Pasifik dan para tokoh pemimpin dunia kala itu seperti Roosevelt, Churchill dan Stalin dikomando oleh Mao Zedong. Kata-kata konyol tidak bermutu dan kekanakan seperti itu terlontar dari seorang jendral AD keturunan keluarga Mao, seolah cucu lebih ahli membual daripada kakeknya.

Cukup membuka-buka lembaran sejarah partai PKT akan mudah ditemukan kebohongan yang menumpuk, sebuah patung Mao Zedong di lokasi museum Kongres I PKT di Shanghai juga konon adalah Mao yang memprakarsai, padahal jelas-jelas adalah sebuah rekayasa sejati yang diciptakan dari kebohongan. Patung diri Mao memprakarsai Kongres I PKT sama sekali bertolak belakang dengan sejarah.

Pada 1921, Komisi Internasional III Partai Komunis Uni Soviet mengutus Marin dan Nikolski ke Tiongkok untuk membentuk Partai Komunis Tiongkok. Untuk pertama kalinya mereka mengincar Wu Peifu yang berpendidikan sekaligus memiliki pasukan militer. Perwira sekaligus cendekiawan itu menolak untuk menjadi perpanjangan tangan bagi orang asing. Lalu keduanya tertarik pada Cai Yuanpei yang berlatar belakang alumni dari Akademi Sastra Hanlin, merangkap lulusan Jerman, tapi karena Cai merasa dirinya tidak cocok memimpin partai politik, maka diusulkan Chen Duxiu yang memimpin Gerakan Budaya 4 Mei. Namun karena Chen belum bergabung dalam Kongres I PKT maka konferensi tersebut diorganisir oleh Li Da. Pemberitahuan konferensi dikirim ke provinsi Hunan dan jatuh ke tangan Mao Zedong, yang kemudian mengajak serta He Shuheng untuk menghadiri konferensi. Tiba di Shanghai Mao bertemu Li Da, dan Li bertanya, “Anda anggota partai komunis?”

Mao menjawab, “Bukan, hanya anggota Liga Sosialis.”

Li berkata, “Toh sudah tiba disini, kebetulan kami butuh orang untuk membuat notulen”.

Begitulah Mao menghadiri konferensi itu sembari menjadi pembuat notulen selama beberapa hari.

Setelah konferensi, Li Da masih memberikan masing-masing 150 keping uang kepada Mao dan He sebagai ongkos transportasi. Uang tersebut adalah pemberian Komisi Internasional Ketiga, honor setahun Mao yang kala itu menjadi guru di kampung bahkan sebesar itu. Dengan bergabung dalam kegiatan partai merah, majikan Soviet memberikan uang sebanyak itu, mungkinkah hal ini tidak mengobarkan semangatnya untuk melakukan revolusi?

Tapi Li Da tidak bisa menyimpan rahasia, fakta itu pun bocor, saat Revolusi Kebudayaan (di akhir 1960-an) Jiang Qing (dibaca: Ciang Ching,l istri ke 3 Mao) menghabisi teman-teman lamanya di kalangan seni peran Shanghai yang mengetahui latar belakang dirinya, Mao Zedong juga memerintahkan Wang Renzhong sebagai Sekretaris Komisi Propinsi Hubei, untuk menghabisi Li da yang waktu itu menjabat sebagai Rektor Universitas Wuhan.

Kini, patung Mao Zedong berdiri di lokasi Kongres I PKT Shanghai, seorang pencatat notulen eksternal partai yang tidak memiliki hak suara menjadi sosok pemimpin yang memprakarsai Kongres I PKT?

Sekarang bahkan menambahkan foto Mao Zedong di poster film Konferensi Kairo (1945) yang menyalahi sejarah dunia, sungguh sulit diterima akal sehat. Jika meneliti sejarah PKT, tidak ada satupun kebohongan luput dari polesan: perang melawan Jepang sejak 1931 hingga 1945 selama 14 tahun, namun di buku pelajaran sejarah dan sejarah PKT perang tersebut hanya disebutkan 8 tahun. Mengapa?

Karena waktu itu kaisar dinasti Qing terakhir Pu Yi menjadi perwakilan Jepang mendirikan negara boneka Manchuria di Timur Laut, Mao Zedong pun menjadi perwakilan bagi Uni Soviet dengan mendirikan negara kecil Soviet di provinsi Jiangxi. Karena malu telah mendirikan Soviet kecil yang setara dengan Negara Manchuria boneka Jepang, sejarah perang melawan Jepang 6 tahun (1931 hingga 1937) itu pun dihapus agar tidak diketahui generasi penerus.

Dari perhatian khusus mereka terhadap Konferensi Zunyi, dokumen asli berisi laporan hasil konferensi tersebut kepada Stalin telah diambil kembali dari Uni Soviet pada tahun 1985. Setelah dibaca, Chen Yun mengakui ia adalah orang yang waktu itu mengantarkan laporan tersebut kepada Stalin di Moskow. Tapi di dalam laporan tersebut tidak ada sepatah kata pun tentang “pergi ke utara melawan Jepang”, hanya disebut berkoalisi dengan pasukan dari Empat Penjuru milik Zhang Guodao menyerang Chengdu, dan mendapat hambatan dari pasukan Sichuan saat 4 kali berupaya menyeberang Chishui, dilanjutkan dengan perang menyerang Portal Baizhang di Mingshan.

Dan dalam sejarah partai selalu menyebut Konferensi Zunyi menobatkan hak kepemimpinan Mao Zedong yang sebenarnya adalah kebohongan, melainkan Sekjend Zhang Wentian mewakili Bo Gu, dan Mao hanya diberi jabatan sebagai asisten Zhou Enlai selaku Kepala Komisi Militer waktu itu. Penobatan status Mao Zedong sebagai pemimpin adalah karena Zhang Hao yang baru saja kembali dari Komisi Internasional Komunis untuk memalsu instruksi dari Komisi Internasional Ketiga, menipu Zhang Guodao agar tunduk kepada Mao dan mengecam paham dogmatis Wang Ming serta paham empirisme Zhou Enlai, jadi bukan pada Konferensi Zunyi pada 1935, melainkan pada Sidang Umum VII PKT pada 1945 Mao Zedong baru dinobatkan sebagai pemimpin.

Karya Gao Hua semasa hidup yang berjudul “How The Red Sun Rises” terdapat pembuktian yang didapat dari data sejarah partai. Bagi sejarah palsu yang direkayasa PKT, beban ini terpaksa harus dipikul terus dan kebohongan harus dilanjutkan. Namun para sejarawan dan akademisi di luar negeri, termasuk Profesor Song Yongyi yang merupakan pakar sejarah kebenaran telah mendapatkan jutaan data, mengungkap fakta di RRT adalah proyek beberapa generasi, karena kebohongan yang dibangun sejak berdirinya PKT telah menggunung.

Oleh sebab itu tidak heran jika Kitajima menulis: cela, adalah ijin lewat bagi orang yang tercela. Ungkapan rakyat menyindir: desa menipu kecamatan, kecamatan menipu prefektur, terus menipu sampai Dewan Negara, hal ini sudah biasa. Karena etika tradisional Tiongkok sudah dibohongi puluhan tahun oleh PKT. Kebijakan dan strategi menipu sudah merusak segalanya. Pernyataan oleh Mao Zedong yang tertulis dalam Buku Merah Kecil mencatat: “kebijakan dan strategi adalah jiwa partai”, bukankah mencakup berbagai trik menipu?

Oleh sebab itu, partai komunis paling mengutamakan bernorma khas Tiongkok untuk membendung nilai-nilai universal, bukankah itu termasuk untuk menjadi penipu kelas ulung dunia?

Cara inilah yang sangat bertentangan dengan etika yang paling berharga di tengah masyarakat yakni kepercayaan. Di tengah masyarakat beradab yang menekankan kepercayaan, satu kali saja menipu, maka jalan akan menjadi sulit, dan akan sulit melakukan apa saja, tidak seperti RRT sekarang, atau seperti ungkapan Lin Biao: jika tidak berbohong, pekerjaan sulit dirampungkan. Mao Zedong sendiri sejak mulai berkiprah di politik telah menipu pada Kongres I PKT, dari seorang anggota non-partai komunis sampai menjadi bapak pendiri PKT. Setelah 39 tahun meninggal, sosok penipunya masih menjangkau film Konferensi Kairo PD-II.

Sebenarnya, jika terus menumpuk kebohongan, sejatinya adalah mengumpulkan kuburan bagi diri sendiri. Komunis Soviet telah terkubur sendiri dengan kebohongan Revolusi November-nya (sebenarnya adalah Lenin mengambil 50 juta golden mark milik Kaisar Jerman untuk menggulingkan pemerintahan demokrasi yang melakukan Revolusi Februari). PKT masih terus berbohong untuk memperpanjang nyawa, ada yang berkata tak ada kekuatan politik di Tiongkok yang bisa menggulingkannya, siapa tahu, kebohongan yang telah ditumpuknya selama hampir seabad itu akan menjadi kuburan bagi PKT sendiri! (sud/whs/rmat)

 

 

Share

Video Popular