Oleh: Chen Simin

Beberapa hari ini, selembar foto yang menyayat hati dan memilukan mengundang sorot perhatian dunia. Foto ini sekaligus membuat masyarakat tanpa sadar teringat akan praktisi Falun Gong yang menghabiskan waktu sekian lama untuk melakukan klarifikasi fakta, serta makna luar biasa dibaliknya.

Perang saudara menyebabkan pengungsi Suriah membludak. Jasad seorang bocah Suriah Aylan Kurdi berusia 3 tahun yang tewas tenggelam terdampar di pantai Turki, setelah beredar luas lewat media komunitas dan diberitakan oleh media internasional. Foto itu mengundang banyak sekali respon. Nilufer Demir si wartawati foto yang mengambil foto mengungkapkan niat hatinya: hendak menyampaikan tragedi naas mereka (lihat foto).

Niat baik sang wartawati adalah menyampaikan derita para pengungsi. Namun seandainya, jika jasad bocah itu tenggelam di lautan, bahkan ditutupi atau dikamuflase oleh sesuatu/ kekuatan luar, bagaimana?

Bisa dikatakan demikian, tragedi terbesar adalah pada saat tragedi itu terjadi di depan mata, tapi masyarakat seolah tidak melihatnya. Dengan kata lain, sangat penting agar fakta yang dapat menghentikan tragedi tersebut dapat diketahui khalayak ramai. Yang lebih penting lagi adalah para penjahat kelas berat yang dilindungi, bahkan dilindungi oleh “kekuatan negara”, tapi bisa dibayangkan, betapa sulit misi untuk mengungkap fakta seperti ini.

Selama bertahun-tahun, praktisi Falun Gong di sekitar masyarakat tidak mundur meskipun dengan kemampuan terbatas, mengungkap kejahatan anti-kemanusiaan yang terjadi di tengah masyarakat yang beradab ini yang dilakukan dan ditutupi oleh PKT terhadap ratusan juta kelompok kepercayaan Falun Gong, yakni kejahatan genosida dan perampasan organ tubuh hidup-hidup untuk dijual.

Setelah praktisi Falun Gong di RRT mulai mengalami penindasan oleh diktator PKT Jiang Zemin sejak 20 Juli 1999, HAM dan keselamatan pribadi mereka seketika itu juga dalam kondisi bahaya. Penculikan, penggerebekan, kehilangan sanak saudara, diberhentikan dari sekolah dan pekerjaan, kehilangan tempat tinggal, dipenjara secara ilegal, divonis secara ilegal, seratus lebih jenis siksaan, adalah potret keseharian hidup nyata mereka, tapi fakta penindasan ini tidak pernah terlihat di media daratan Tiongkok.

Bukan hanya itu saja, stasiun TV resmi pemerintah yakni CCTV bahkan merekayasa “kasus bakar diri di Tiananmen”, yang telah dipastikan oleh Badan Budaya dan Pendidikan PBB sebagai kasus fiktif, tapi justru ditulis dalam buku pelajaran sekolah oleh rezim PKT sebagai propaganda cuci otak terhadap generasi berikutnya. Hal ini menyebabkan praktisi Falun Gong harus menyandang predikat sebagai pengikut “aliran sesat”, sehingga dikucilkan bahkan dimusuhi. Sementara ingatan kebaikan bagi masyarakat yang didatangkan oleh Falun Gong juga perlahan menjadi kabur.

Penindasan rezim PKT terhadap praktisi Falun Gong tidak hanya tanpa memiliki dasar hukum dan fakta apapun, terlebih juga mengacaukan kebenaran, memutarbalikkan fakta, dan membiarkan korupsi di kalangan pejabat, penjahat di masyarakat pun semakin merajalela, dan pengaruh negatif menyebar ke seluruh negeri.

Dilihat dari sebanyak 160.000 pucuk surat menggugat Jiang Zemin saat ini bisa dilihat, sejak penindasan itu, praktisi Falun Gong hidup di tengah situasi bisa disandera sewaktu-waktu, dirampok, ditangkap, disiksa, dijebloskan ke kamp kerja paksa dan divonis secara ilegal. Disaat tidak berperang, mereka harus menanggung derita sebagai pengungsi karena kehilangan tempat tinggal dan juga sanak keluarga mereka.

Meskipun demikian, praktisi Falun Gong tidak melepaskan kepercayaan “Sejati-Baik-Sabar” itu, dan tidak memilih untuk melawan dengan kekerasan, melainkan terus mengungkap fakta kebenaran penindasan tersebut pada masyarakat luas, dengan aksi damai mengajukan gugatan terhadap dalang penindasan tersebut yakni Jiang Zemin.

Gugatan praktisi Falun Gong terhadap Jiang Zemin, tidak hanya memaafkan dengan lapang dada orang-orang di sekitar yang terlibat dalam penindasan tersebut, tapi juga membantu mengakhiri penindasan yang tidak normal ini, agar Tiongkok dapat segera menjadi sebuah negara yang normal kembali. Negara yang normal, baru bisa kuat, dan negara Tiongkok yang kuat baru bisa memberikan sumbangsih yang lebih besar bagi dunia dan umat manusia.

Dengan memahami hal ini, maka akan lebih mudah memahami pengorbanan dan semangat praktisi Falun Gong melakukan “klarifikasi fakta” secara gigih dan tanpa keluhan serta penyesalan. (sud/whs/rmat)

 

 

Share

Video Popular