Emily adalah seorang penulis rubrik traveling yang percaya bahwa ia memiliki kepekaan khusus ke tempat-tempat yang dianggap angker. Menurutnya, ia sudah “terlalu empati” sepanjang hidupnya, sehingga jika seseorang dengan sakit kepala yang parah berjalan ke dekatnya, Emily mungkin juga akan merasakan sakit kepala, atau jika seseorang telah menarik punggungnya, punggungnya akan segera terasa sakit.

Emily pernah menderita sindrom iritasi usus besar dan sekarang menderita fibromyalgia (sakit otot di sekujur tubuh). Ketika sakit kronisnya tersebut mencapai puncak, itulah saat sensitivitas psikisnya berada di titik tertinggi. Dia dapat merasakan energi emosional di rumahnya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, menyaksikan radio dan benda-benda lain bergerak di hadapannya, dan ia percaya bahwa ia mengalami pengalaman spiritual. Mungkinkah terdapat hubungan, antara keajaiban yang dirasakan Emily, sensitivitas, dan pengalaman-pengalaman anehnya?

Hank memiliki usaha kecil. Ketika ia berusia 5 tahun, ia tertabrak mobil dan mengalami trauma kepala. Sejak saat itu, ia mengaku memiliki afinitas untuk merasakan apa yang ada dalam pikiran orang lain. Hank tidak menyadari bahwa hal ini tidak “normal” sampai ia bertemu dengan seseorang yang menganggap bahwa kemampuannya itu merupakan semacam telepati, dan membantunya untuk mengasah kemampuan. Saat ini, Hank memiliki teman-teman yang sepertinya, dimana banyak dari mereka mengatakan bahwa mereka memiliki masalah dengan jam tangan, komputer, dan peralatan lainnya yang tidak berfungsi di hadapan mereka.

Sally mengalami perceraian dengan membawa tiga anak yang telah dewasa. Dia mengidap banyak alergi sepanjang hidupnya. Dia menganggap dirinya sensitif terhadap listrik dan pustakawan setempat kerap menyuruhnya untuk menjauhi katalog buku online yang akan segera padam ketika ia mendekat. Sally kadang-kadang akan merasakan kehadiran sesuatu ketika tidak ada orang atau mendengar suara tanpa sumber yang jelas. Persepsi ini telah terjadi sepanjang hidupnya, namun terutama terjadi ketika ia akan melalui saat-saat tersulit dalam cobaan pernikahannya.

Edward adalah seorang dokter medis, seorang atlet, dan sadar akan kesehatan, meskipun selama 15 tahun terakhir ia berada dalam kondisi yang sensitif dengan bahan-bahan kimia. Sekarang ia membatasi penggunaan pembersih, cat, pestisida, penyegar udara, dan cologne, serta membuka klinik untuk orang lain yang tampaknya menderita penyakit yang sama dengannya. Kadang-kadang, Edward dapat merasakan kehadiran sesuatu yang tak kasatmata atau semacam melihat penampakan. Beberapa pasiennya juga mengalami pengalaman serupa.

Keempat orang di atas telah saya wawancarai dalam sebuah studi yang sedang berlangsung mengenai persepsi anomali yang telah dilakukan dalam kurun lima belas tahun terakhir.

Responden biasanya melaporkan memiliki satu atau beberapa hal berikut: alergi, sakit kronis, kelelahan kronis, migrain, kesulitan tidur. Mereka juga melaporkan memiliki sensitivitas ekstrim terhadap lampu, suara, bau, tekstur, dan perasaan. Dalam hampir semua kasus, mereka tampil sebagai orang yang ramah, dan dapat menyesuaikan diri dengan baik. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah orang-orang ini hanya menipu? Berfantasi? Ataukah hypochondriacs (ketakutan bahwa dirinya tengah mengidap penyakit serius)?

Selama penelitian ini, saya telah berasumsi bahwa “sensitivitas neurobiologi”, kombinasi unsur-unsur alami dan kebiasaan, menjelaskan bahwa ini merupakan persepsi yang aneh daripada yang lain, jawaban yang standar. Jelas, banyak dari sesama manusia yang dapat sengaja menipu diri sendiri atau sengaja menyesatkan orang lain. Namun layak dipertimbangkan apakah beberapa individu, setidaknya, mungkin bereaksi terhadap rangsangan eksternal sebagaimana sebagian orang yang rentan terhadap migrain dapat bereaksi terhadap lampu, suara, bau, rasa, atau perubahan tekanan udara. Dalam hal ini, apa yang kita marjinalkan sebagai “ekstra” sensorik mungkin bukan demikian. Ini mungkin merupakan cara untuk memersepsi bahwa makhluk-makhluk asing tersebut bagi kebanyakan dari kita, adalah hal alami untuk mengingat bagaimana otak mereka, tubuh mereka, dan perasaan mereka bekerja.

Kita semua berbeda

Kita semua mengetahui bahwa orang-orang tertentu dapat mendengar, mencium, atau merasakan hal lainnya dengan sangat tajam. Orang-orang tertentu bisa membedakan bahan makanan yang kompleks, misalnya, atau bereaksi terhadap tekstur tertentu seolah-olah itu akan menyerang mereka. Sepanjang hidup, kita berbeda dalam jenis dan tingkat sensasi kita dalam bereaksi terhadap sesuatu. Wanita biasanya lebih sensitif daripada pria, meskipun sensitivitas mereka akan berfluktuasi selama periode seperti pubertas, ovulasi, kehamilan, dan menopause.

Karena pengaruh faktor keturunan, keadaan pribadi, atau usia, sensitivitas itu sendiri tidak pernah berlangsung secara konstan. Pikirkan bagaimana Anda kini dapat mengalami rabun jauh dibandingkan dengan Anda sepuluh tahun yang lalu, atau seseorang yang telah kehilangan penglihatannya dapat memperoleh pendengaran atau penciuman yang lebih tajam.

Kita semua mengetahui bahwa terdapat orang-orang yang lebih reaktif daripada yang lain, yakni sifat yang biasanya dimulai sejak masa kanak-kanak.

Fakta dari masalah ini adalah (seperti yang dijelaskan dalam cerita sampul di majalah New Scientist), “Tidak ada dua orang yang tinggal di dunia sensorik yang sama…. Ketika seseorang menganggap bahwa hampir segala sesuatu yang kita ketahui tentang diri sendiri dan dunia didasarkan pada informasi yang diperoleh melalui indera, fakta tentang perbedaan objektif eksis di antara orang-orang yang menunjukkan bahwa realitas ‘konsensus’ kita dapat mencakup spektrum yang jauh lebih luas dari yang dipikirkan sebelumnya.”

Pertanyaan saya: Apakah realitas consensus telah kehilangan sebuah komponen, di antara garis komponen, dimana orang tertentu yang sangat sensitif “mendapatkan” hal itu karena adaptasi emosional mereka sendiri? Mungkin kita tidak boleh begitu cepat untuk mengabaikan laporan berulang tentang berbagai penampakan ketika orang-orang yang melaporkan itu cenderung dipengaruhi oleh alergi akut, sakit kepala migrain, sindrom kelelahan kronis, fibromyalgia, sindrom iritasi usus, gangguan stres pasca-trauma, atau sinestesia (fenomena yang luar biasa dimana seseorang mengalami tumpang tindih sensasi, seperti mendengar warna atau mencicipi bentuk).

Cerita hantu, tentu saja, telah bertahan di setiap zaman dan setiap lapisan masyarakat, tidak peduli seberapa modern atau ilmiah zaman telah berubah. Sesuatu yang begitu luas, sehingga memengaruhi karakteristik manusia, layak untuk mendapatkan penelitin yang serius. Menurut perkiraan saya, korespondensi laporan tentang orang-orang yang peka terhadap lingkungan memberi kita cara baru yang signifi kan untuk mulai membuka teka-teki masalah ini. (Osc/Yant)

Bersambung

Michael Jawer: Telah menyelidiki pikiran tubuh dengan berlandaskan kepribadian dan kesehatan selama 15 tahun terakhir. Artikel dan makalahnya telah dimuat di Spirituality & Health, Explore: The Journal of Journal of Science and Healing, Noetic Now, and Science & Consciousness Review.

Share

Video Popular