Banyak orangtua karena anak-anak mereka tidak makan dengan baik maka lantas khawatir. Acap kali melihat para orangtua atau kakek-nenek kejar-kejaran dengan anak mereka yang berlarian kesana kemari, sambil membujuk menyuap mereka sesuap demi sesuap. Bahkan dengan cara berjanji memberi hadiah agar anak-anak mau makan, pokoknya beraneka macam metode, tetapi tampaknya pengaruhnya kecil. Mari kita simak bagaimana anak-anak di negara lain mau makan.

AS: Memikul tanggungjawab atas keputusan sendiri

Seorang ibu Asia yang tinggal di AS menulis di blog-nya berbagi pengalaman tetangganya dalam mendidik anak mereka agar mau makan. Tetangganya Carol, ibu dari dua anak lelaki, kedua anaknya sangat nakal, sering terdengar gaduh, tetapi begitu si ibu setiap kali meneriakkan ‘waktunya makan’, bagaimanapun sibuk dan bersemangatnya mereka bermain, pasti akan segera berhenti dan mencuci tangan siap menuju meja makan. Ibu itu sangat terkejut, Carol mengatakan: anak-anak setelah dihukum dengan kelaparan beberapa kali akan memahaminya.

Anak lelaki jika sedang bermain sering keterusan dan tidak mau makan, maka Carol lantas bertanya kepada mereka apakah telah memutuskan tidak ingin makan? Anak-anak itu menjawab dengan pasti: Ya. Setelah anak-anak tersebut puas bermain, perut mulai terasa lapar dan bertanya kepada sang ibu apakah boleh makan. Carol mengatakan bahwa bukankah tadi telah disepakati, itu sebabnya malam ini tidak boleh makan. Tidak peduli anak-anak sampai merengek-rengek, bahkan sepotong permen pun ditolak. Alhasil, anak-anak kelaparan semalam suntuk. Hal seperti itu, setelah beberapa kali, anak-anak mulai mengerti, jika jam makan berlalu, maka tidak ada makanan lagi, mereka harus menanggung konsekuensi dari keputusan mereka sendiri.

Jepang: Budaya kantin sekolah

Anak-anak Jepang mulai dari TK, sampai SD, SMP, SMA hingga universitas terbiasa makan di kantin. Dan pendidikan makan di kantin sekolah sangat menyeluruh, termasuk tidak membuang-buang makanan, mengambil makanan sendiri, mendistribusikan makanan dan membersihkan peralatan makan mereka sendiri.

Seorang guru dari Tiongkok, ketika membawa para siswa berkunjung ke Jepang, berbagi foto dan kesannya di blog-nya dia menulis: Disaat kami baru datang, kami melihat beberapa anak mengenakan jubah putih, memakai masker putih dan topi putih, membawa sendok garpu serta kotak susu yang berat berjalan ke arah kami. Perawakannya kecil, jelas masih SD. Dia segera bertanya kepada si penerjemah apa yang mereka lakukan, menurut si penerjemah, mereka itu adalah siswa yang sedang berdinas membantu di dapur, setiap hari bergilir satu kelas, tak peduli siswa besar atau kecil harus berpartisipasi dan terutama bertanggungjawab untuk membantu memasak, menyiapkan peralatan makan dan lain sebagainya.

Sesampainya di kantin, para anak Jepang itu telah duduk dengan rapi menunggu kedatangan kami, tidak ada yang mulai makan sampai siswa kami sudah duduk semua, mereka pun mulai menggerakkan sumpitnya.

Saat itulah dia melihat cara anak-anak Jepang makan, makan dengan lahap, tidak meninggalkan sup setetes pun dan juga menghabiskan sayuran dengan cepat. Sebaliknya para siswa dari daratan Tiongkok itu menyisakan makanan, yang membuat malu dirinya, karena tidak mendidik anak-anak untuk berhemat.

Sisa makanan, harus dipilah dan dimasukkan ke dalam tong masing-masing, peralatan makan harus antri dikembalikan ke tempat semula. Banyak anak-anak Jepang dengan sadar menyeka meja dan bekerja. Tidak ada pengawasan dan perintah, setiap orang mencari pekerjaan masing-masing. Beberapa siswa bertanggungjawab atas nampan ditumpuk tinggi sangat rapi, ada yang membersihkan mangkuk, beberapa membawa botol susu kosong dan ada yang memeluk periuk nasi entah diangkut kemana.

Inggris: Bebas makan sendiri

Seorang ibu Asia di blog-nya juga berbagi kisah hidupnya di Inggris. Pada tahun 2000, dia tinggal di rumah kakak iparnya di Inggris, keponakannya bernama Cameron, berusia kurang dari 2 tahun, makan sendiri, melihatnya duduk di kursi tinggi, “tangan kiri memegang mangkuk, di tangan kanan garpu. Pada saat itu saya pikir itu hanya untuk bermain agar menghiburnya, siapa tahu ia benar-benar makan malam dengan kami. Mangkuknya dari bahan plastik besar, garpu juga plastik tapi tidak tajam, banyaknya karbohidrat juga sama dengan punya kami yakni: Spaghetti Bolognese. Hanya saja dipotong-potong kecil. Gayanya terlihat sangat kaku tapi lucu, setiap kali menyuap dengan garpu spaghetti ke mulutnya, kami ikutan latah membuka mulut lebar-lebar, khawatir ia menyuapkan makanan ke tempat yang salah dan merasa gemas ingin sekali menjangkau dengan tangan untuk membantunya. Tentu saja, segera akan ditemukan bahwa semua kekhawatiran tidak diperlukan, karena ia sangat menikmati makanannya sendiri.”

Akhirnya si anak telah menyelesaikan makanannya sendiri, meskipun berkursi tinggi dan di lantai berserakan sisa spaghetti dan wajahnya terlihat berlepotan, tapi ia nampak puas dan bahagia.

Sang ipar mengatakan, ketika Cameron berusia 7-8 bulan, dia secara sadar membiarkannya melahap makanan padat dalam bentuk potongan kecil, seperti wortel yang dimasak lembut, brokoli, roti, biskuit. Pada tahapan itu adalah untuk menumbuhkan minat anak-anak terhadap makanan dan memuaskan rasa ingin tahunya, biarkan dia mengalami kenikmatan makan sendiri. Setelah 1 tahun dia bisa makan sendiri.

Selanjutnya ipar juga mengatakan, banyak orangtua mengeluhkan tentang anak-anak mereka yang tidak doyan makan, pada kenyataannya, anak-anak suka atau tidak suka makan tergantung pada sikap orang tua. Banyak orang tua khawatir anak-anak mereka tidak kenyang, jadi selalu mencoba untuk menemukan berbagai cara yang memungkinkan sang anak untuk makan lebih banyak, bahkan jika anak-anak sudah tidak mau makan lagi, orang tua pun selalu dengan tekun dan agak membabi buta memaksakan kehendak orang dewasa kepada mereka, hasilnya malah sering kontra-produktif, sehingga anak-anak membenci makan jadinya. (Hui/YAant)

Share

Video Popular