Tulisan ini adalah bagian ke-2 dari artikel sebelumnya “Melihat Sesuatu yang Tak Kasat Mata” yang di tuli oleh Michael Jawer, dari penyelidikan selama 15 tahun tentang pikiran tubuh dengan berlandaskan kepribadian dan kesehatan.

Penyelidikan saya yang diterbitkan dalam jurnal peer review beberapa tahun terakhir ini, telah melengkapi bukti bahwa individu yang sangat sensitif jauh lebih mungkin untuk melaporkan tentang perasaan terhadap suatu kehadiran yang tak terlihat, melihat, atau merasakan energi di sekitar, atau sebaliknya mencatat kejadian anomali, dibandingkan dengan populasi pada umumnya.

Secara signifikan, orang-orang seperti itu juga lebih mungkin untuk melaporkan bahwa anggota keluarga mereka juga mengalami jenis kepekaan yang sama, menimbulkan pertanyaan tentang pengasuhan dari alam dalam konteks baru.

Saya berjalan di jalan ini dari arah yang tak terduga. Dalam pekerjaan saya pada waktu itu, saya bertanggungjawab untuk mewawancarai penghuni gedung perkantoran yang merasa bahwa mereka telah dipengaruhi oleh apa yang disebut sebagai “bangunan sakit”, (informasi dari wawancara) dan lain-lain dilakukan dengan manajer bangunan dan para insinyur. Dibandingkan dengan laporan masyarakat tentang imajinasi hiperaktif atau beberapa jenis penyakit mental, saya menduga bahwa mereka mungkin memiliki sensitivitas yang jauh lebih rendah di bawah rata-rata. Ketika beberapa orang mengaku bahwa mereka juga memiliki pengalaman spiritual, roda tampaknya mulai berputar.

Sejak itu, saya telah menyelidiki secara mendalam kemungkinan bahwa berbagai kepekaan aneh yang mungkin memiliki dasar neurobiologis, yang secara umum berasal dari tubuh sebagai otak.

Survei awal yang saya rancang melibatkan 62 orang yang termasuk dalam golongan “sensitif” bersama dengan 50 orang bertugas sebagai pengontrol yang tidak mengakui segala bentuk luar biasa dari sensitivitas. Orang-orang di kelompok pertama rata-rata 3,5 kali lebih mungkin untuk menegaskan bahwa mereka akan memiliki pengalaman spiritual (didefinisikan sebagai mengamati sesuatu yang tidak dapat diverifi kasi secara fisik). Individu yang sensitif juga 2,5 kali lebih mungkin untuk menunjukkan bahwa anggota keluarga dekat mereka juga dipengaruhi oleh kondisi fisik, mental, atau emosional yang sama.

Secara keseluruhan, 6 dari 54 faktor yang ditanyakan dalam survei menemukan susunan kepribadian sensitif secara signifikan dalam:

  • Menjadi seorang wanita
  • Menjadi sangat pandai dan tangkas
  • Menilai diri sendiri sebagai sosok imajinatif
  • Menilai diri sendiri sebagai introvert
  • Mengingat peristiwa traumatik yang jelas di masa kecil
  • Mempertahankan satu hal yang memengaruhi atau dipengaruhi oleh lampu, komputer, dan peralatan listrik lainnya dengan cara yang tidak biasa.

Dua faktor lainnya yaitu menjadi anak sulung atau anak tunggal dan menjadi lebih menonjol di antara responden yang sensitif, namun tidak begitu kentara.

Menariknya, sinestesia (fenomena dimana seseorang mengalami sensasi yang tumpang tindih, seperti mendengar warna atau mencicipi bentuk) dilaporkan sekitar 10 persen dari kelompok yang sensitif tapi sama sekali tidak terjadi pada kelompok kontrol. Karena sinestesia diketahui terjadi secara turun- temurun, temuan ini memberikan tambahan bobot kemungkinan bahwa persepsi anomali memiliki akar genetik.

Sama dengan hasil yang tak terduga bahwa 21 persen dari sensitivitas dilaporkan menjadi sangat berpengaruh dibandingkan dengan hanya satu orang pada kelompok kontrol. Namun, sensitifvitas ini dapat dengan mudah dikondisikan oleh pengasuhan alam. Hal ini ditunjukkan oleh hasil pertanyaan saya mengenai peristiwa traumatis di masa kecil. Tiga kali lebih sensitif dibandingkan dengan kelompok kontrol (55 persen vs 18 persen) menjawab dengan tegas mengenai masalah ini.

Selain itu, 14 persen dari sensitivitas melaporkan telah disambar petir atau menderita sengatan listrik, sedangkan tidak ada kelompok kontrol yang mengalami hal ini. Jadi, mungkin listrik turut berperan dalam memperoleh sensitivitas.

Sejak zaman kuno, berbagai penduduk asli telah mencatat efek kuat transformatif petir. Disambar petir merupakan “panggilan” untuk menjadi dukun, karena diyakini hal itu untuk melepaskan kekuatan penyembuhan penyakit bersama dengan kemampuan luar biasa lainnya. Kita seharusnya tidak menertawakan hal ini , karena salah satu dari pakar medis terkemuka saat ini, Dr. Oliver Sacks, telah menulis tentang seorang pria yang setelah disambar petir, tidak hanya mengalami pengalaman menjelang kematian, tetapi setelah pulih, ia mulai mendengar musik yang terus mengalun sendiri di dalam kepalanya dan ia tidak berdaya untuk mengatasinya. Terinspirasi dari hal ini dan juga didorong untuk mengatasi gangguannya itu, ia menyalurkan musik-musik itu menjadi sebuah komposisi piano yang kini ia mainkan di depan publik.

Jika musik dapat dianggap sebagai seni penyembuhan, maka orang ini pun akan berpaling ke arah penyembuhan. Mungkin terdapat lebih banyak interaksi antara listrik dengan manusia daripada yang kita bayangkan sebelumnya. (Michael Jawer /Osc/Yant)

Selesai

Michael Jawer: . Artikel dan makalahnya telah dimuat di Spirituality & Health, Explore: The Journal of Journal of Science and Healing, Noetic Now, and Science & Consciousness Review.

Share

Video Popular