Jakarta – Tingginya urbanisasi, pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya jumlah wanita bekerja, khususnya di banyak negara berkembang, diperkirakan menstimulasi pertumbuhan penjualan makanan dan popok bayi secara global.

Angkan yang diperkirakan oleh Nielsen atas makanan bayi akan mendekati angka 30 miliar dolar di tahun 2015 dan pada pasar untuk popok bayi yang diproyeksikan melampaui 29 miliar dolar, menurut laporan terbaru yang dirlilis baru-baru ini oleh Nielsen, perusahaan pengukuran kinerja global kepada erabaru.net.

Untuk lebih memahami tren kategori produk perawatan bayi seperti makanan bayi dan popok bayi, dan alasan konsumen memilih satu merek dibandingkan merek lainnya, Nielsen melakukan survei online di 60 negara kepada konsumen yang telah membeli produk perawatan bayi dalam lima tahun terakhir.

Hasil survei tersebut mengungkapkan penemuan penting dari proses perjalanan pembelian yang dilalui dan mengidentifikasi sumber online maupun offline yang paling mempengaruhi proses tersebut.

Survei dilakukan, Pertama, berdasarkan data penjualan ritel Nielsen untuk kategori produk nutrisi bayi, bubur bayi dan susu formula bayi di negara-negara terpilih, meliputi sekitar 95% produk makanan dan formula bayi di pasar global. Kedua, berdasarkan data penjualan Nielsen untuk popok dan tisu bayi di 63 negara, yang mencakup sekitar 90% dari nilai penjualan di pasar global.

Laporan Nielsen ini membahas tren dalam kategori produk perawatan bayi seperti makanan bayi dan popok bayi serta alasan konsumen memilih satu merek dibandingkan merek lainnya, menyoroti adanya peluang yang ada di Asia Tenggara bagi para produsen perawatan bayi berkat populasi penduduk yang masih muda dan berkembang di kawasan ini.

Satu dari 10 konsumen di Asia Tenggara memiliki seorang anak berusia di bawah satu tahun dalam rumah tangga mereka, salah satu yang tertinggi di wilayah manapun dan jumlah ini adalah dua kali lipat dari rata- rata pasar global yang hanya 5%. Di Asia Tenggara juga terdapat 13% konsumen yang memiliki anak berusia 1-2 tahun dalam keluarga mereka, dibandingkan dengan rata-rata global yang hanya 9%.

“Para orangtua sangat bijaksana dan cerdas untuk segala hal yang berkaitan dengan perawatan anak mereka, mulai dari makanan yang diberikan hingga popok yang digunakan, hanya sedikit ruang untuk kompromi, dan mereka bersedia menghabiskan lebih banyak biaya untuk mendapatkan kualitas,” kata Connie Cheng, Head of Shopper Insights untuk Nielsen di Asia Tenggara, Asia Utara dan Pasifik.

Ia mengatakan tingkat kemakmuran yang masih bertumbuh, urbanisasi dan meningkatnya jumlah wanita pekerja menjadi faktor utama yang mempengaruhi penerimaan atas produk-produk yang memberikan kenyamanan seperti susu bayi, makanan bayi siap jadi dan popok bayi.

Namun demikian, persaingan pada pasar perawatan bayi saat ini cukup sengit, dan berbagai macam merek dan produk bermerek maupun bermerek dari toko dengan berbagai pilihan harga, bersaing ketat untuk menarik perhatian konsumen. Selain itu, jangka waktu untuk membeli produk perawatan bayi relatif singkat.

Menurut dia, terlepas dari tantangan yang ada, peluang di pasar produk perawatan bayi masih besar. Apalagi untuk bisa meraih keunggulan kompetitif di ruang yang didominasi hanya oleh sejumlah merek-merek besar, perlu ada pemahaman yang mendalam mengenai faktor apa yang mendorong pemilihan produk.

The Nielsen Global Baby Care Survey dilakukan pada 23 Februari-13 Maret 2015, dan mensurvey konsumen di 60 negara di kawasan Asia Pasifik, Eropa, America Latin, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Utara.

Mereka yang disurvei adalah melakukan pembelian produk perawatan bayi dalam 5 tahun terakhir. Kuota sampel berdasarakan usia dan gender dari masing-masing negara menurut jumlah pengguna internet di negara tersebut yang mewakili total keseluruhan konsumen internet. Survei dilakukan dengan margin eror ±0.6%.

Share

Video Popular