[Komentar 3]

Membahas Kekuasaan Tirani Partai Komunis Tiongkok

Saat membicarakan tentang tirani, orang Tiongkok akan selalu menghubungkannya dengan Qin Shi Huang (259-210 Sebelum Masehi), Kaisar pertama dari Dinasti Qin, yang memerintah dengan tangan besi, membakar buku-buku filsafat dan mengubur hidup-hidup murid-murid Konghucu. Kebijakan yang dikeluarkan Qin Shi Huang yaitu “mendukung pemerintah-annya dengan seluruh sumber daya yang ada di bawah langit” [1] diberlakukan sangat keras pada rakyatnya. Kebijakan ini mempunyai empat aspek utama yaitu membebankan pajak tinggi, memeras tenaga rakyat untuk proyek yang mengagungkan dirinya, memberlakukan hukuman yang kejam, dan menguasai pikiran rakyat dengan memblokade segala bentuk kebebasan berpikir dan berekspresi, membakar buku-buku dan bahkan mengubur hidup-hidup para intelektual. Di saat pemerintahan Qin Shi Huang, Tiongkok memiliki populasi sebesar 10 juta jiwa, kurang lebih 2 juta darinya dikirim dalam kerja paksa atau 1/3 dari jumlah penduduk usia dewasa. Qin Shi Huang juga memberlakukan hukumnya kepada kalangan intelektual, melarang kebebasan berpikir dalam skala besar. Selama masa pemerintahannya, ribuan murid Konghucu dan pejabat yang mengritik pemerintahannya mati dibunuh.

Dibandingkan dengan kekejaman tirani Dinasti Qin, kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) bahkan melebihi beberapa kali lipat. Seperti diketahui umum, filosofi PKT menganut filosofi kontradiksi. Kekuasaan Komunis dibangun dari serangkaian “konflik antar tingkat”, “konflik dalam jalur politik”, “konflik antar intelektual” terhadap berbagai kalangan dalam dan luar partai. Mao Zedong sendiri pernah berterus terang, “Apa yang Qin Shi Huang perbuat bukanlah sesuatu yang besar. Dia telah mengubur hidup-hidup 460 intelektual, sedangkan kita telah mengubur 46,000 intelektual. Orang memaki kita diktator, adalah [Komentar 3] Membahas Kekuasaan Tirani Partai Komunis Tiongkok Qin Shi Huang, kita mengakuinya karena itu sebuah kenyataan. Sayangnya, yang kalian ceritakan masih tidak cukup, jadi perlu kami tambahkan.” (2)

Mari kita melihat kesengsaraan yang dialami Tiongkok selama 55 tahun di bawah kekuasaan PKT, bagaimana setelah PKT merebut kekuasaan, bagaimana mereka menggunakan instansi pemerintah berdasarkan teori konflik antar kelas sosial untuk menjalankan pemusnahan kelas sosial, dan memerintah dengan teror yang merupakan manifestasi dari filosofi revolusi dengan kekerasan. “Membunuh orang” dan “menumpas hati” digunakan untuk menindas segala kepercayaan di luar Partai Komunis. Setelah itu membuat satu gerakan yang menggambarkan Partai Komunis sebagai Kesempurnaan dan Tuhan. Berdasarkan filosofi kontradiksi antar kelas dan revolusi kekerasan, Partai Komunis berusaha menghapus orang-orang yang tidak sepaham dan menentang persamaan kelas sosial, menggunakan kekerasan dan taktik untuk memaksa seluruh rakyat Tiongkok menjadi abdi yang patuh terhadap peraturan tirani.

Share

Video Popular