Sesungguhnya, ilmuwan yang pandangannya terhadap alam semesta sangat terbuka dan luas, tidak akan menggunakan pengetahuan yang terbatas untuk menyangkal “hal yang belum diketahui” yang tak terbatas. Ilmuwan yang ternama, Newton, pada 1678 menerbitkan karya besarnya “Prinsip Matematika”. Dalam buku itu Newton mengurai secara terperinci tentang prinsip mekanika, menjelaskan pasang dan surut, pergerakan planet, juga memperhitungkan pola pergerakan tata surya. Newton yang telah memperoleh keberhasilan dan kehormatan besar tentang bukunya, selalu menjelaskan bahwa semua hanya melukiskan semacam gejala saja, dia tidak akan berani berdiskusi tentang apa arti sebenarnya Yang Maha Kuasa menciptakan alam semesta ini. Sewaktu cetakan kedua “Prinsip Matematika” diterbitkan, dalam buku itu Newton pernah menuliskan sebait kata yang menyatakan keyakinannya: “Semua sistem besar yang sempurna dan indah ini termasuk matahari, planet dan komet, hanya tercipta dari tangan Tuhan Yang Maha Esa…sama seperti orang buta yang tidak akan pernah mengerti tentang warna, kita sama sekali tidak paham terhadap cara Tuhan memahami segala materi di dunia ini”.

Kita tidak perlu memasalahkan apakah surga itu ada, atau apakah seorang kultivator bisa mencapai kondisi kembali ke jati diri, orang yang benar-benar percaya pada agama ortodoks percaya akan adanya hukum karma, prinsip hubungan antara sebab dan akibat. Yang jelas kita akan sepakat bahwa kepercayaan ortodoks bisa mempertahankan moral manusia pada standar tertentu. Dari Aristoteles hingga Einstein, mereka semua percaya bahwa ada suatu hukum universal dalam alam semesta ini. Manusia dengan tak mengenal lelah, melalui berbagai macam cara meneliti prinsip alam. Maka selain penelitian melalui ilmu pengetahuan, bukankah agama, kepercayaan dan kultivasi juga mungkin merupakan jalan dan cara lain untuk menemukan kebenaran?

Share

Video Popular