Komunis Tiongkok menghancurkan kepercayaan lurus ortodoks manusia

Semua bangsa dalam sejarah dunia ini percaya akan adanya Tuhan, atau yang maha tinggi. Kepercayaan ini, dan juga kepercayaan akan hukum sebab dan akibat bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, kejahatan akan dibalas dengan kejahatan membuat manusia bisa mengekang diri, dan dapat mempertahankan moral masyarakat pada standarnya. Dari dulu hingga sekarang, baik aliran ortodoks di Barat maupun aliran Konfusius, Budha dan Tao di Timur, semua mengajarkan kepada manusia bahwa kebahagiaan yang sejati adalah datang dari kepercayaan pada dewa, hormat pada langit, baik pada sesama, menghargai berkah yang diterima dan tahu membalas budi.

Pemikiran dasar paham komunis adalah atheisme, mempropagandakan tidak adanya dewa, Budha, dan Tao, tidak ada kehidupan sebelumnya dan kehidupan mendatang, tidak ada karma. Karena itu, negara-negara komunis memberi semangat pada rakyat jelata dan para gelandangan proletar untuk tidak percaya pada dewa, tidak perlu membayar karma, tidak perlu patuh pada hukum, sebaliknya harus memberontak untuk menjadi keluarga kaya dengan jalan kekerasan dan tipu muslihat.

Jaman dulu di Tiongkok, walaupun para kaisar menganggap diri mereka tinggi, namun masih menyebut diri mereka sebagai anak-anak surga. Di bawah kuasa dan kendali “takdir dari surga” sering kali kaisar mengeluarkan maklumat menyalahkan diri sendiri, mohon pengampunan padaNya. Komunis menetapkan diri mewakili “takdir dari surga”, dengan apa yang disebut tiada hukum, tiada Tuhan, sama sekali tanpa batasan, akibatnya tercipta dunia neraka di mana-mana.

Marx, bapak komunisme, beranggapan bahwa agama ibarat candu yang melumpuhkan semangat rakyat. Dia takut jika semua orang percaya akan dewa dan Tuhannya, maka tidak akan menerima paham komunisnya. Bab pertama dari buku Dialektika Alam yang ditulis oleh Engels berisi kritikan terhadap hal-hal mistik.

Engels pernah berkata: “Segala hal yang ada pada abad pertengahan dan sebelumnya, harus dibuktikan alasan-alasan keberadaannya di depan meja pengadilan rasional manusia”. Dengan ucapannya ini, dia telah menempatkan dirinya dan Marx sebagai hakim di belakang meja pengadilan. Bakunin, seorang anarkis yang juga adalah teman Marx, telah menggambarkan Marx sebagai, “Dia bagai Tuhan bagi orang-orang. Dia tidak bisa menerima orang lain sebagai Tuhan kecuali dirinya. Dia menghendaki orang lain memujanya bagai dewa, menjadikannya idola untuk disembah sujud, jika tidak, akan dihukum atau dianiaya”.

Share

Video Popular