[Komentar 7]

Mengomentari Sejarah Pembunuhan dari Partai Komunis Tiongkok

Sejarah pemerintahan yang didirikan oleh Partai Komunis Tiongkok selama 55 tahun adalah sejarah yang ditulis dengan darah segar dan kebohongan. Cerita-cerita yang di balik darah segar itu tidak hanya sangat mengerikan bagi dunia manusia, juga jarang diketahui oleh orang. Sekarang, setelah pengorbanan nyawa sebanyak 60 – 80 juta rakyat Tiongkok yang tidak bersalah serta kehancuran keluarga yang lebih banyak lagi, orang masih berpikir: Mengapa Partai Komunis Tiongkok (PKT) membunuh orang? Hingga hari ini Komunis Tiongkok masih membunuh pengikut Falun Gong, bahkan di awal bulan Nopember 2004, terjadi penembakan yang merupakan penindasan terhadap masyarakat yang sedang mengajukan protes, membuat orang kembali berpikir: Apakah pada suatu hari Komunis Tiongkok bisa berhenti membunuh orang, belajar berbicara dengan mulut, bukan dengan senapan?

Mao Zedong ketika membuat kesimpulan tentang Revolusi Kebudayaan mengatakan : “Terjadinya kekacauan di dunia, membuat dunia sangat tenteram, setelah lewat 7-8 tahun ulangi lagi.” Jabarannya adalah setelah 7-8 tahun melakukan aksi lagi, 7-8 tahun membunuh sekelompok orang lagi.

Partai Komunis mempunyai landasan teori dan keperluan realitas dalam membunuh orang. Berdasarkan teori, Partai Komunis menganut dan menjunjung teori “diktator proletariat” dan “di bawah diktator proletariat tidak hentinya mengadakan revolusi”. Maka setelah mendirikan pemerintahan, PKT “membunuh tuan tanah” untuk mengatasi masalah hubungan produksi di pedesaan; “membunuh kelas kapitalis” untuk menyelesaikan perombakan perusahaan industri dan perdagangan swasta, mengatasi hubungan produksi di kota. Setelah golongan kedua kelas tersebut dihabisi, masalah dasar ekonomi secara keseluruhan sudah terselesaikan. Penyelesaian masalah kelas menengah ke atas (kalangan intelektual) juga mengandalkan pembunuhan, termasuk menindas kelom-pok anti partai Hu Feng dan anti golongan kanan demi membenahi kaum intelektual. Membunuh perkumpulan keyakinan yang dianggap takhayul untuk menyelesai-kan masalah agama, membunuh orang di saat Revolusi Kebudayaan untuk menyelesaikan hak absolut partai memimpin bidang politik dan kebudayaan. Membunuh orang pada peristiwa 4 Juni di lapangan Tiananmen adalah untuk menghindari krisis politik, menyelesaikan masalah tuntutan demokratis. Melakukan penindasan Falun Gong untuk menyelesaikan masalah kepercayaan dan olahraga jasmani, dan lain-lain. Semuanya ini merupakan proses PKT dalam rangka memperkuat kedudukannya, mempertahankan kekuasaannya, sebagai reaksi yang tak terelakkan atas aksi-aksinya mengatasi krisis berkepanjangan. Dimulai dari krisis ekonomi (harga-harga meroket sejak berdirinya pemerintahan, ekonomi yang nyaris hancur setelah Revolusi Kebudayaan), krisis politik (pembangkangan dan perebutan kekuasaan politik dalam partai), krisis kepercayaan (runtuhnya Uni Soviet dan perubahan drastis di Eropa Timur, isu Falun Gong). Terkecuali isu Falun Gong, semua gerakan politik yang disebut di depan, hampir semuanya adalah untuk menghidupkan roh jahat PKT, sebagai proses membangkitkan semangat revolusi, juga sebagai upaya pembersihan tubuh organisasi partai, bagi anggota partai yang tidak memenuhi persyaratan akan tersisih keluar.

Bersamaan itu, pembunuhan orang juga bertolak dari keperluan realitas Partai komunis. Kala itu PKT didirikan dengan mengandalkan berandalan dan pembunuh. Sekali pembunuhan dimulai, mutlak tidak bisa berhenti di tengah jalan, malah harus terus menerus menciptakan teror, agar rakyat gentar berhadapan dengan lawan yang sangat kuat dan hanya bisa menerima kenyataan, tunduk pada yang berkuasa.

Share

Video Popular