- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Dialog Yama (Raja Neraka) dengan Hantu Miskin Yang Mencengangkan

Melihat semakin banyak orang yang melarikan diri dari bencana kelaparan, Tuan Wang lalu segera mengambil seluruh hartanya, sekantong ubi jalar, dan bergabung dengan barisan orang-orang yang melarikan diri dari bencana kelaparan.

Sampai di tengah perjalanan, Tuan Wang melihat dua orang yaitu anak dan bapak yang hampir mati kelaparan, di atas punggung bapak itu terlihat juga membawa sebuah kantong yang berat.

Melihat tuan Wang membawa begitu banyak ubi jalar, bapak itu kemudian meminta satu ubi jalar untuk anaknya, tapi Tuan Wang tidak memberinya.

Bapak itu kemudian bertanya, “Jual sama saya ya?”

Sambil bertanya demikian sambil meletakkan sekantong uangnya di atas tanah. Melihat uang tersebut, mata Tuan Wang pun tidak berkedip, karena ia hidup miskin seumur hidup, dalam mimpi pun tidak pernah melihat begitu banyak uang.

Tuan Wang kemudian melanjutkan perjalanannya sambil membawa sekantong uang, karena takut anak dan bapak itu menyesal, ia lalu mempercepat langkahnya.

Beberapa hari kemudian, Tuan Wang tidak sanggup lagi berjalan, karena di sepanjang perjalanan, ia tidak bisa membeli apa pun untuk mengisi perutnya yang lapar.

Tak lama kemudian, bapak dan anak yang membeli ubinya itu segera menyusulnya. Tuan Wang memandangi uji jalar di punggung bapak itu, dan mulai menyesal, kemudian ia menghampiri bapak itu bermaksud hendak membeli ubi jalarnya kembali, tapi, bapak itu bersikeras tidak mau menjualnya.

Dengan kecewa Tuan Wang pun terkulai lemas duduk di atas tanah, tak lama kemudian ia pun tewas karena kelaparan sambil memeluk kantong uangnya.

Tuan Wang bertemu dengan Yama (Raja neraka)

Yama berkata, “Sebenarnya saya ingin memberi kamu satu kesempatan menjadi orang kaya, tapi tak disangka malah menewaskan dirimu. Benar kata pepatah, manusia mati karena harta, burung mati karena makanan!”

Tuan Wang berkata, “Saya sudah trauma hidup miskin dalam kehidupan saya sebelumnya, dalam kehidupan sekarang, saya tidak mau lagi menjadi orang miskin.”

Mendengar ucapan tersebut, Yama lalu berkata, “Sebenarnya, nasibmu seharusnya tidak miskin dalam kehidupanmu sebelumnya, jika saja ubi jalarmu itu kamu jual setengahnya, maka kamu pun tak bisa disebut miskin lagi, siapa suruh kamu jual semuanya? Dan dalam kehidupan sekarang, saya ingin tanya padamu, dalam kehidupan sekarang, kamu punya dua pilihan; pertama, 10.000 orang akan menghidupimu sendiri, dan kedua, kamu seorang diri menghidupi 10.000 orang, kamu mau pilih jalan yang mana?”

Mendengar itu, tanpa banyak pikir lagi, Tuan Wang langsung menjawab, “Pastilah saya memilih 10.000 orang yang menghidupi saya sendiri!”

Kemudian, sambil mengucapkan terima kasih, tuan Wang lalu pergi dengan ceria.

Setelah 30 tahun berlalu, Tuan Wang kembali lagi di hadapan Yama, sambil berseru dengan kencang bahwa Yama atau sang raja neraka telah menipunya.

Yama lalu bertanya sambil tertawa, “Mengapa kamu bilang aku membohongimu?”

Tuan Wang lalu berkata, “Setelah mendengarkan Anda, saya menjadi pengemis seumur hidup.”

Mendengar itu, Yama lalu berkata, “Ya, benar! 10.000 orang yang menghidupimu sendiri, maksudnya ya pengemis! Kamu tidak bisa menyalahkan saya, kamulah yang salah karena serakah!”

Mendengar perkataan Yama, tuan Wang lalu berkata pada Yama, “Tuan Yama, dalam kehidupan saya berikutnya nanti, tolong limpahkan hidup yang lebih baik pada saya ya.”

Yama berkata, “Tenang saja, sekarang ada dua pekerjaan yang bagus; pertama, sebagai penjaga Jinshan (gunung Jin), sedangkan pekerjaan yang kedua adalah sebagai penjaga sebidang tanah, kamu pilih yang mana?”

Kali ini, Tuan Wang merenungkannya dengan seksama, setelah mempertimbangkannya, ia merasa lebih baik menjaga Jinshan.

Sambil memandangi punggung Tuan Wang yang pergi menjauh, Yama berkata, “Nasib orang ini memang digariskan hidup miskin!”

Segerombolan setan kecil bertanya, “Mengapa?”

Yama lalu mengatakan, “Pekerjaan sebagai penjaga di sebidang tanah itu sebenarnya adalah menjadi pejabat tinggi di suatu tempat, sedangkan pekerjaan sebagai penjaga Jinshan, itu sebenarnya menjadi tikus, menjaga sebidang lumbung!”

Dalam perjalanan hidup ini, anda sendiri yang menjalaninya. Jalan yang sama, ada yang berjalan lambat, ada yang berlari, ada yang mengendarai mobil dan sebagainya. Cara yang berbeda, hasilnya juga tidak sama. Nasib yang sama, ada yang membrontak sambil tertawa, ada yang memohon sambil menangis, ada yang pasrah menerima nasibnya…. Sikap yang berbeda, hasilnya juga tidak akan sama.

Tidak ada yang bisa menentukan gaya hidupmu sendiri, semuanya adalah pilihan Anda sendiri. Setiap orang, punya karakter atau kepribadian yang tidak sama, maka pilihan juga pasti akan berbeda; memilih yang berbeda, maka nasib juga akan ikut berbeda. (NTDTV/jon/ran)