Proses kehancuran total ekonomi Tiongkok dipercepat pada semester pertama 2015. Banyak ekonom mengatakan, pemerintah Tiongkok membutuhkan stimulus yang kuat baru mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya. Bahkan spekulan keuangan Soros juga mulai khawatir akan terjadi masalah besar pada Tiongkok. Ia berharap agar pemerintah AS membuat konsesi dengan Tiongkok. Namun pada kenyataannya, Amerika Serikat sendiri sebagai negara utama pendukung ekonomi Tiongkok juga sudah susah bertahan. Setelah Fed Yellen menjabat, ia dipaksa menghentikan pelaksanaan QE, bahkan diputuskan akan menaikkan suku bunga. Dengan dolar mengalir kembali ke Amerika Serikat, pondasi ekonomi Tiongkok pun runtuh, tidak dapat terhindar dari percepatan keruntuhan. Meskipun pemerintah Tiongkok mengatakan, akan melakukan berbagai kebijakan stimulus ekonomi skala besar “pertumbuhan”, tapi karena mereka sudah tidak ada dolar, maka hanya meninggalkan propaganda kosong, hanya menarik umpan kosong dalam gelombang terakhir untuk mengisi lubang dalam perekonomian Tiongkok.

Ekonomi dunia mulai terguncang secara jelas. 20 tahun yang lalu, Tiongkok secara dasar dari sebuah negara yang menutup diri berubah menjadi ekonomi utama dunia. Setelah krisis keuangan pada 2008, Tiongkok mulai memainkan perannya sebagai penyelamat ekonomi dunia. Permintaan Tiongkok terhadap produk-produk dunia mulai meningkat tajam, di antaranya termasuk berbagai jenis barang-barang mewah, komoditas, semua jenis peralatan dan produk bernilai tinggi, komponen-komponen penting, serta semua jenis makanan dan lain sebagainya. Selain itu, sejumlah besar investasi asing masuk ke Tiongkok. Hal tersebut telah meningkatkan kapasitas produksi di Tiongkok. Para investor membeli properti Tiongkok bahkan melepaskan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok. Dengan percepatan runtuhnya ekonomi Tiongkok, baik penjualan produk ke Tiongkok maupun investasi asing semua negara di Tiongkok, menghadapi kondisi yang sulit dan menurun tajam. Dalam kondisi kebutuhan ekonomi negara Amerika, Eropa dan Jepang yang melemah serta struktur ekonominya yang semakin memburuk, mereka semakin menggantung diri pada Tiongkok agar dapat menyerap kelebihan kapasitasnya, dapat mendukung perputaran dasar ekonominya. Namun karena permintaan di Tiongkok juga turun tajam, menyebabkan perekonomian dunia semakin memburuk. Kinerja perusahaan multinasional besar juga sulit bertahan, penurunan tajam pun mulai tampak secara signifikan.

Dengan percepatan runtuhnya ekonomi Tiongkok, pemerintah di berbagai negara memiliki emosional kompleks yang sangat signifikan terhadap Tiongkok. Secara keseluruhan dapat dikatakan, dalam konteks pertumbuhan ekonomi yang lemah di Eropa dan Amerika, pemerintah di berbagai negara menganggap perekonomian Tiongkok sangat penting. Orang-orang juga melihat pertumbuhan ekonomi Tiongkok sedang melambat, mereka mulai terbentuk ketakutan psikologis. Di satu sisi, kekhawatiran orang-orang adalah bahwa perekonomian Tiongkok akan memburuk, bahkan akan melorot secara besar, sehingga mengakibatkan hambatan pada pertumbuhan ekonomi dunia. Selain itu, industri multinasional mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan penjualan, sehingga membuat begitu banyak orang khawatir.

Oleh sebab itu, orang-orang berharap agar Tiongkok mengadopsi kebijakan stimulus yang lebih agresif untuk meningkatkan perekonomiannya. Mentalitas ini mencerminkan negara-negara di dunia masih tidak yakin terhadap prospek pertumbuhan Tiongkok, khawatir akan terjadi masalah pada perekonomi Tiongkok. Di sisi lain, Tiongkok baru saja menjadi mesin ekonomi dunia, menopang pertumbuhan ekonomi dunia. Oleh karena itu, orang-orang menganggap walaupun ekonomi Tiongkok akan memburuk, akan terjadi setelah perekonomiannya memburuk sampai batas tertentu, mereka akan bangkit kembali dari bawah. Dalam kondisi ketakutan dan harapan orang-orang, mereka masih berharap perekonomian Tiongkok akan tumbuh dan pulih kembali. Selain itu, banyak perusahaan multinasional masih juga menambah kapasitas, dengan harapan yang mendesak setelah perekonomian Tiongkok bangkit kembali, mereka bisa meraut keuntungan besar. Secara umum, tidak peduli jenis apapun emosionalnya, semua termasuk dalam sistem pemikiran internal, hanya percaya bahwa ekonomi Tiongkok melambat, dan bukan runtuh secara keseluruhan. Hal yang lebih penting lagi, sebagian besar orang tidak akan pernah tahu bahwa sumber daya, material dan keuangan Tiongkok telah terkuras habis, terutama lingkungan sumber daya dan lahan pertanian telah hancur total, perekonomiannya benar-benar sedang dalam keruntuhan total.

Di masa depan, Grand Fisik Tiongkok secara menyeluruh akan berdampak di dunia. Dalam waktu jangka pendek, di Tiongkok akan terjadi ledakan kematian penduduk yang skalanya mencapai ratusan juta, ini juga merupakan suatu peristiwa yang angka kematian tertinggi dalam sebuah sejarah dunia, saya menyebutnya Grand Fisik Tiongkok. Setelah keruntuhan ekonomi Tiongkok dipercepat, bukan lagi perlambatan perekonomian, dan juga bukan bangkit dari bawah, tapi akan menyulut kerusuhan sosial. Selanjutnya, setiap saat bisa terjadi ledakan Grand Fisik, tatanan sosial benar-benar hilang. Setelah Grand Fisik, penduduk Tiongkok akan berkurang menjadi sekitar 400 juta orang, kemungkinan akan jauh kurang dari 400 juta. Selain itu, perputaran perekonomian Tiongkok pada dasarnya akan berhenti. Setelah Grand Fisik Tiongkok dimulai, secara menyeluruh dampaknya akan menyerang dunia. Karena peran penting dari Tiongkok dalam perekonomian dunia, Grand Fisik terbesar secara langsung akan mengakibatkan disintegrasi sistem perekonomian dunia, berikutnya akan memicu keruntuhan ekonomi dunia dalam skala besar. Setelah runtuhnya perekonomian dunia, berikutnya adalah gejolak besar dalam situasi politik dan ekonomi dunia, serta pengurangan populasi secara besar-besaran, selanjutnya akan terjadi depresi jangka panjang. Baik kedalaman dan luasnya, di masa akan datang akan terjadi keruntuhan ekonomi dunia dan depresi yang jauh lebih dari Depresi Besar pada 1929.

Grand Fisik Tiongkok adalah hasil dari mimpi buruk bersama-sama negara-negara di seluruh dunia. Dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat mendukung komunisme Soviet yang jahat. Dalam konferensi Yalta, Roosevelt mengkhianati sekutu Tiongkok Chiang Kai-shek, menjual kepentingan di timur laut Tiongkok dan Korea Utara ke Stalin. Setelah Perang Dunia II, Soviet melakukan invasi ke Tiongkok, melakukan penjarahan brutal, melakukan pemerkosaan dan pembunuhan di timur laut Tiongkok. Setelah itu, dibawah dukungan bersama antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengalahkan negara dan pemerintah demokrasi terbesar di dunia (Republik Tiongkok dan Pemerintah Nasional), dengan pemerintahan komunis yang brutal menguasai Tiongkok daratan. Dalam perpecahan Sino-Soviet, pada reformasi dan keterbukaan Tiongkok serta peristiwa lainnya, pemerintah AS berulang kali mendukung PKT yang mencelakakan Tiongkok.

Setelah pertengahan 1990-an, pemerintahan Clinton mendukung Tiongkok secara besar-besaran, mendukung peningkatan eksport Tiongkok yang ekonominya penuh dengan keringat dan pendarahan. Di bawah bimbingan dan dukungan Amerika Serikat, sejumlah besar investasi asing masuk ke Tiongkok, menggunakan ratusan juta tenaga kerja perbudakan, memproduksi produk murah. Di balik pasokan barang-barang murah Tiongkok ke konsumen internasional, produk Tiongkok telah mengalahkan produk low-end di negara-negara lain. Dalam keuntungan besar sejumlah kecil perusahaan multinasional besar. Pada saat yang sama sejumlah besar usaha kecil Eropa dan negara-negara lain tertekan, dan akhirnya gulung tikar. Hal tersebut juga mendorong terjadinya krisis subprime 208 dan krisis keuangan internasional.

Pasca 2008, Amerika Serikat tiga kali menerapkan QE dalam skala super besar, mempromosikan dana murah dan dengan momentum yang lebih garang masuk ke Tiongkok, ingin mencari keuntungan besar dari Tiongkok, mereka mendukung pembangunan basis konstruksi rel dan real estate Tiongkok secara gila-gilaan. Di bawah dukungan modal, teknologi dan produk internasional, lingkungan sumber daya dan lahan pertanian Tiongkok mengalami kehancuran, kehilangan dukungan basis sumber daya. Di samping itu dalam masyarakat, selain tenaga kerja budak yang penuh keringat dan darah, di luar itu adalah parasit sosial, kehilangan dasar pengembangan teknologi dan inovasi. Dengan berkurangnya budak yang penuh keringat dan darah, terutama setelah runtuhnya ekonomi Tiongkok, di Tiongkok akan terjadi skala Grand Fisik yang sangat besar dan mendadak yang dikarenakan terkuras habisnya berbagai aspek sumber daya.

Inti dari depresi besar dan runtuhnya ekonomi dunia adalah, disintegrasi dari integrasi ekonomi global. Dalam Perang Dunia II, sistem perekonomian dunia yang dipimpin oleh Amerika dan Soviet didirikan. Ekonomi Barat yang dipimpin AS disebut sebagai ekonomi kapitalis, sebenarnya itu juga ekonomi sosialis, hanya dengan cara lebih lambat menghancurkan sumber daya dan lingkungan, menghancurkan potensi masyarakat, dan ekonomi yang dipimpin Soviet adalah ekonomi komunis, cara itu dengan cepat merusak masyarakat, dan kemudian menghancurkan sumber daya alam.

Sampai awal 1990-an, Uni Soviet sedang menghabiskan semua sumber daya sosial, harga emas dan minyak merosot sampai dasarnya, sampai kondisi tidak bisa lagi meminjam uang dari Eropa Timur dan Tiongkok, maka yang tak terelakkan adalah terjadi keruntuhan ekonominya, dan secara alami terjadilah disintegrasi Uni Soviet. Setelah Amerika Serikat menjadi negara adidaya satu-satunya di dunia, maka integrasi ekonomi global dipercepat, dan juga lebih berkontribusi terhadap perekonomian nasional Kekaisaran Romawi. Di antara mereka, Tiongkok adalah pusat dari integrasi ekonomi global, ia menentukan proses integrasi ekonomi global. Pada 1949, Tiongkok condong ke Uni Soviet, bahkan tampil ke depan demi Uni Soviet, juga berpartisipasi dalam Perang Korea dan Perang Vietnam. Selain itu, Mao Zhedong secara besar-besaran mendorong revolusi penuh ke Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin, barulah terbentuk dasar bersaing antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Setelah reformasi pada 1978, Tiongkok secara sepenuhnya condong ke Amerika Serikat, hal ini secara total melemahkan kekuatan blok komunis, dan juga mempercepat anjlok dan disintegrasinya Uni Soviet.(secretchina/lim/rmat)

BERSAMBUNG

(Dipersembahkan oleh Lembaga Penelitian Ekonomi dan Budaya Tiongkok)

Share

Video Popular