Oleh:  Liu Yi

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dosen Ekonomi Universitas Harvard, Richard N. Cooper baru-baru ini mengatakan bahwa mata uang Tiongkok Renminbi (RMB) belum bisa dikategorikan sebagai mata uang yang dapat ‘bebas digunakan’, sehingga tidak memenuhi kualifikasi Special Drawing Rights (SDR) yang digariskan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). RMB mungkin sudah dapat memenuhi ketentuan SDR itu pada tahun 2020.

Laporan Wall Street Journal Tiongkok pada 14 September 2015 menyebutkan bahwa Cooper mengatakan dalam wawancaranya, “Saya secara optimis memandang RMB sudah bisa memenuhi ketentuan SDR saat IMF melakukan audit berikut pada tahun 2020. Karena RMB belum memenuhi kriteria ‘bebas digunakan’, misalnya tidak dapat secara bebas untuk berinvestasi di dalam negeri Tiongkok, begitu pula warga Tiongkok juga tidak bisa secara bebas berinvestasi di luar negeri. Berdasarkan ketentuan ini saja RMB sudah tidak memiliki kualifikasi untuk masuk keranjang SDR. Kehendak atau tekad dari suatu pemerintahan saja tidak mungkin bisa melanggar ketentuan itu.”

Cooper beranggapan bahwa jika Tiongkok terus mempertahankan jalan yang ada, maka RMB dalam 5 tahun ke depan bisa masuk kriteria bebas digunakan. Namun hal yang membingungkan adalah mengapa Tiongkok memilih data yang kurang tepat ini untuk meminta mata uangnya dimasukkan ke keranjang SDR, karena secara teknis saja sudah tidak bisa dipertahankan. Maka saya pikir Tiongkok kelihatannya lebih pada tuntutan untuk mendapatkan pengakuan status. Nah! Bila memang demikian, maka usulan itu dapat dinilai tidak bijaksana. Jika mata uang negara lainnya juga ikut-ikutan jejak Tiongkok minta dimasukkan ke dalam keranjang SDR, apakah status Tiongkok tidak terdilusi? Bagaimana Tiongkok menggapai status yang diharapkan?

Cooper juga mengatakan bahwa Dollar AS masih akan menempati posisi dominan dalam system moneter internasional untuk kurun waktu 20 tahun ke depan.

Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa Richard N. Cooper adalah seorang ahli terkemuka dunia dalam isu-isu ekonomi ekonomi internasional. Ia menduduki posisi penting di pemerintahan sejak zaman Presiden John F. Kennedy, Jimmy Carter dan Bill Clinton. Pernah juga menjabat sebagai Ketua Dewan Intelijen Nasional AS, Wakil Menlu AS urusan ekonomi, anggota senior Dewan Penasihat Ekonomi Pemerintahan AS, Presiden Direktur Federal Reserve Bank of Boston, Rektor Universitas Yale dan banyak posisi lainnya. ia juga mencapai prestasi luar biasa dalam berbagai penelitian akademik dan pengolahan analisis tentang ekonomi internasional.

Ada komentar yang beranggapan bahwa, apakah RMB bisa atau tidak masuk dalam keranjang SDR, apakah akan mampu memperoleh status sebagai mata uang internasional, yang paling penting adalah bagaimana pembangunan ekonomi dan sosial itu dilakukan sendiri oleh pemerintahan Tiongkok bukan menggantungkan pada suara dukungan internasional.

SDR merupakan aset cadangan internasional yang diciptakan oleh IMF pada 1969 untuk melengkapi cadangan resmi negara-negara anggotanya. Nilainya didasarkan pada sekeranjang mata uang internasional yang terdiri dari empat mata uang yakni Dollar AS, EURO, Yen Jepang dan Poundsterling Inggris. IMF akan melakukan penilaian ulang setiap 5 tahun sekali. Penilaian periodik kali ini sudah berjalan dan sesuai jadwalnya akan berakhir sebelum tahun ini. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular