JAKARTA – Keluarga Kim yang menguasai Korea Utara benar-benar menciptakan teror sebenarnya teror mulai bencana kelaparan hingga nyawa yang berada di unjuk tanduk. Teror “Kematian itu bukan hanya dialami oleh segelintir orang, bahkan rakyat Korea Utara yang sejatinya tidak tahu apa-apa menjadi korban tragis atas ulah pemimpin komunis Korea Utara.

“Ibu saya kena serangan jantung karena salah makan, ayah saya meninggal kelaparan, saya menjadi Kokekbi yaitu pengemis anak bersama kakak saya sejak 1989,” tutur Kim Hyeok dalam jumpa pers di sela Pekan HAM Korea Utara di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2015).

Hyeok menuturkan sejak kecil, dia hanya mengambil sisa makanan dan sedikit membeli makanan tetapi lama kelamaan mulai mengemis kepada pelancong. Hingga akhirnya pria yang lahir di Chungjin, Hamkyeong Utara itu memutuskan untuk mencuri karena tidak mendapatkan makanan sama sekali. Namun kemudian keluarganya memutuskan untuk memasukkan ke panti asuhan.

Memasukkan anak di panti asuhan di Korea Utara, bukan sebagai agar kehidupan lebih baik. Hanya saja agar tidak lagi mengemis di jalanan. Walaupun petaka demi petaka masih saja terjadi di dalam panti itu. Menurut Hyeok, panti yang pernah dia tinggali berada di Kabupaten Onsung, Provinsi Hamkyeong Utara. Dia pun keluar dari panti itu saat menginjak usia 16 tahun.

Panti asuhan itu sekitar pada 1995 dihuni sekitar 250 anak, hanya berselang dua tahun kemudian hanya dihuni sebanyak 70 anak. Kemana anak-anak lainnya? Pastinya anak-anak itu dijemput ajal dalam kondisi menggenaskan. Di antara 70 anak itu 25 anak meninggal karena kekurangan gizi dan bermacam-macam penyakit. Umur anak-anak yang tewas sekitar karena kelaparan berusia 7-12 tahun.

Pria kelahiran 1982 silam menuturkan, saat di panti asuhan itu dua teman perempuannya yang berumur 16 tahun ikut tewas karena kelaparan. Konsumsi makanan merupakan suatu hal yang langka, walaupun sesekali anak-anak pada panti asuhan itu hanya makan nasi jagung dan sup lobak asing sebanyak 320 gram tanpa lauk pauk.

Hyeok yang kemudian hari akhirnya berhasil melarikan diri dari Korea Utara menuturkan dia pernah bekerja di bidang kehutan pada negara itu. Dia bekerja sekitar 6 bulan untuk menebang pohon dan memuat kayu log. Namun pekerjaan itu pun terhenti karena mengalami kekurangan gizi yang sangat parah. Hingga akhirnya dia memutuskan kabur ke Tiongkok walaupun masih di bawah ancaman penangkapan.

Kehidupan di penajara pun pernah dia rasakan, karena ketahuan kabur dari Korea Utara. Saat di penjara Onsung, para napi hanya makan nasi jagung dan sup lobak asing sebanyak 390 gram tiap hari. Para napi pun hanya bertahan selama 3 bulan, ajal pun akan menjemput mereka ketika memasuki bulan ke empat. Tak hanya kekurangan gizi dan kelaparan, tekanan mental pun menjadi momok bertambah parahnya penderitaan mereka. “Bukan hanya kekurangan gizi juga mental lemah, apakah anda bisa membayangkan kondisi ini, penderitaan dan kesengsaraan,” katanya dalam bahasa Korea diterjemahkan ke bahasa Indonesia melalui penerjemah.

Sementara Kang Chunhyok menuturkan sebelum melarikan diri dari Korea Utara, selama belasan tahun dia didoktrin bahwa tidak ada negara semakmur Korea Utara di dunia ini. Dia juga didoktrin bahwa tidak ada pemimpin selain Kim il sung dan Kim jung iL. Sejak kecil pun kawan-kawannya tidak masuk sekolah karena kelaparan.

Chunhyok yang kini berusia 29 tahun menceritakan dia memiliki seorang sahabat bernama Oh Eun Kyeong. Temannnya itu pada saat menginjak kelas 3 SD tewas menggenaskan karena sakit perut berjam-jam karena makan semangkok biji buah aprikot setelah sedemikian lama mengalami kelaparan.

Teman sebaya lainnya, Lee Kwang juga mengalami nasib serupa, meranggang nyawa karena kelaparan. Temannya itu memiliki seorang ayah yang sudah tidak bisa bekerja karena sakit. Ibu temannya itu soerang pedagang, namun tidak lancar. Bersamaan subsidi pangan terhenti, akhirnya temannya bersama keluarganya menderita kelaparan.

Hingga akhirnya ayah dan ibu temannya itu memilih kabur entah kemana. Kwang dan kakaknya harus menanggung penderitaan mereka. Mereka berdua semakin kurus sampai hanya tinggal tulang berbalut kulit. Kakaknya Kwang tewas karena kelaparan setelah beberapa waktu menjadi pengemis di pasar. Ajal pun menjemput Kwang saat kedinginan di tepi sungai pada musim dingin.

Dia menuturkan warga Korut pun terpaksa harus mengkonsumsi rumput untuk dimakan. Ketika musim semi tiba, masyarakat Korut mulai mengisi perut dengan rumput-rumput yang baru tumbuh. Chunhyok mengatakan ketika ada tugas dari sekolah yaitu mengumpulkan rumput untu kelinci yang dipelihara di sekolah. Hasil pengumpulan rumput itu setengahnya dikumpulkan ke sekolah dan setengah dibawa pulang untuk dimakan.

Sepanjang krisi pangan, ujar Chunhyok, saat itu jumlah siswa yang masuk sekolah hanya berjumlah 40 persen. Siswa yang masuk sekolah pun menderita sakit karena keracunan makan rumput liar. Muka membengkak karena keracunan rumput liar pun menghampiri para siswa hingga tak dapat melihat. Mereka hanya bertahan pada jam pelajaran pertama saat sekolah, karena tidak tahan menahan lapar. Tak hanya rumput, warga pun terpaksa makan kulit pohon cemara.

“Jika saya mengingat kembali masa-masa itu, kesengsaraan waktu itu adalah belenggu dan penderitaan yang dialami warga Korut pada umumnya yang membuat kami tak berdaya untuk melawan,” tutur Chunhyok pada kesempatan yang sama.

Share

Video Popular