Jakarta – Pemberian Soekarno Award untuk pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un menuai kontroversi hingga di kalangan internasional. Pemberian award ini bahkan dianggap sebagai nista bagi bangsa Indonesia. Apalagi jutaan rakyat Korut menjadi korban kelaparan serta yang menghuni kamp konsentrasi di negara itu.

“Pemberian award ini menjadi kontroversi yang luar biasa dan yang dapat dianggap memberikan dan menyebabkan nista bagi bangsa Indonesia,” kata Pelapor Khusus PBB untuk HAM di Korea Utara, Marzuki Darusman di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2015).

Mantan Ketua Komnas HAM RI itu menyatakan tidak begitu jelas apa yang menjadi motivasi bagi Rahmawati untuk memberikan penghargaan itu untuk Kim Jong Un. Dia menilai penghargaan itu hanya sebagai cara untuk menarik perhatian dari masyarakat luas atas pemberian Soekarno Award itu.

Tak hanya itu, penghargaan ini bahkan menjadi pukulan telak terhadap ribuan rakyat Korut yang menjadi korban kediktatoran pemimpin Korea Utara. Terlebih khusus kepada rakyat Korea Utara yang menjadi penghuni pada pusat-pusat kamp penjara konsentrasi politik yang diinisiasi oleh pemimpin Korut.

Marzuki menyampaikan banyak mendapatka peertanyaan dari rekan-rekannya di luar negeri mengenai pemberian penghargaan ini. Dia mengaku tidak bisa menjawab secara rinci mengenai penganugerahan Award ini. Apalagi sosok Jong Un adalah seorang pemimpin yang melakukan pengingkaran terhadap HAM di Korut.

Pendiri Universitas Bung Karno (UBK), Rachmawati Soekarnoputri tetap bersikukuh untuk memberikan penghargaan Soekarno Award kepada Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un. Rachmawati bahkan menuding adanya propaganda Barat tentang pemimpin tertinggi Korea Utara berpaham komunis.

Sebagai kepastian, Rachmawati sudah memberikan surat kepada Ketua Dewan Presidium Korea Utara, Kim Jong Nam. Tak hanya Kim Jong Un, petinggi negara yang dianugerahi penghargaan serupa adalah Mahatir Muhammad, Fidel Castro, Hugo Chaves, Raja Abdullah, dan Raja Muhammad VI. Rencananya penghargaan ini akan diberikan pada 27 September 2015 di Jakarta.

Share

Video Popular