Menurut sejumlah ilmuwan, bahwa dunia tempat kita hidup ini adalah ilusi, sama seperti dunia simulasi komputer. (Sumber: NASA)

 

Apakah dunia yang kita lihat itu nyata? menurut ilmuwan, “hidup ibarat mimpi itu ” bukan hanya sekadar peribahasa, tetapi merupakan suatu pemahaman yang tepat tentang konsep dunia di depan mata.

Melansir laman astronomy.com, meskipun teknologi manusia saat ini sangat maju, namun, ilmuwan masih merasa pengetahuan kita sangat sulit untuk memahami secara mendalam tentang alam semesta, astronomi, manusia dan masalah dasar lainnya. Menurut sejumlah ilmuwan, dunia yang kita tempati ini adalah ilusi, sama seperti dunia simulasi komputer.

Konsep alam semesta yang semu ibarat “hidup bagaikan mimpi”

David Brin, ilmuwan sekaligus penulis asal Amerika mengatakan bahwa terkait konsep alam semesta itu ilusi, atau sebagai konsep fiktif atau simulasi itu sangat mirip dengan konsep tradisional, bahkan pemahaman yang sama, seperti konsep dalam peribahasa Tiongkok bahwa “Hidup itu bagaikan mimpi”.

Menurut penjelasan Brin, karena indera penglihatan, pendengaran dan peraba kita dan sebagainya itu ada kekurangannya, tidak lengkap, seperti misalnya ketika seseorang duduk di atas kursi, ia tidak bisa merasakan keseluruhan dari kursi itu. Namun, untuk memahami alam semesta dan pengetahuan ilmiah dengan konsep ini, kita tidak akan pernah tahu tentang segenap alam semesta, dan besar kemungkinan yang dipahami itu adalah sesuatu yang semu ; yang disebut dengan fakta-fakta ilmiah yang diperoleh itu tak lebih dari sensasi yang tidak lengkap.

Brin juga menjelaskan bahwa era kita sekarang adalah dunia ilusi versi tertentu, seperti versi virtual tahun 2050, atau versi virtual miliaran tahun hingga sekarang. Lagipula orang-orang hidup dalam suasana virtual di planet primitif, dan begitulah wujudnya sekarang orang-orang zaman dahulu.

Filsuf Nick Bostrom dari universitas Oxford menjelaskan bahwa terkait konsep alam semesta yang semu, dapat dibayangkan sebagai perangkat lunak komputer canggih yang mensimulasikan manusia secara cermat yang diciptakan oleh peradaban tinggi yang sangat maju, dan konten dari ilusinya itu termasuk nenek moyang manusia.

Menurut Bostrom, bahwa konsep jagad raya ilusi bisa juga dipahami seperti “The Matrix” : otak bukanlah sinyal sensor yang dipenuhi dengan informasi ilusi, tetapi otak itu sendiri adalah isi dari ilusi. (Segenap alam semesta) seperti sebuah computer yang besar yang dapat menciptakan ilusi apapun, mampu mensimulasikan semuanya di otak, termasuk kontak antara neuron dengan neuron.”

Ditilik dari sudut pandang ilmiah, alam semesta yang kita tempati ini hanyalah salah satu di antara benda langit yang tak terhitung banyaknya, karena masih ada alam semesta lain. (Sumber: NASA)

Menurut pandangan direktur teknis Google sekarang yang juga seorang futuris dan penemu asal Amerika, Raymond Kurzweil, mereka telah mensimulasikan alam semesta secara komputerisasi berdasarkan data astronomi dan berbagai hukum fisika, yang dapat melihat “informasi dari simulasi itu terus berubah, dapat dikendalikan, bisa terus beroperasi melalui beberapa algoritma”, sehingga dengan demikian dapat memahami bahwa segenap alam semesta itu adalah sebuah computer.

“Suasana alam semesta yang kami amati itu adalah “ilusi”. Dan diri kita sendiri adalah “kombinasi dari informasi” terkait,” ujar Kurzweil.

Terkait apakah dunia ini hanya ilusi, astronom teoretis terkemuka, matematikawan dan mantan presiden “The Royal Society Inggris”, Martin Rees mengatakan, “Pandangan terkait itu agak aneh, tapi sangat menarik.” Dan menurut Rees, dengan adanya komputer yang cukup besar memang dapat mensimulasikan dunia.

“Kita tidak bisa menempatkan planet dan galaksi untuk dijadikan percobaan, tetapi kita dapat mensimulasikan alam semesta melalui komputer, dapat menghitung tabrakan antar galaksi, evolusi benda langit, dan fenomena astronomi di komputer. Jadi, dari beberapa sudut pandang karakteristik alam semesta yang disimulasikan secara garis besar, mungkin ada suatu jenis komputer yang dapat mensimulasikan sebuah jagad raya dalam lingkup yang sangat besar, pungkas Kurzweil.

Menurut laporan terkait, bahwa meskipun tidak percaya alam semesta itu adalah ilusi, namun, jika konsep ini direnungkan secara mendalam, akan dapat membantu kita memahami tentang realitas, teori multi alam semesta, batas pengetahuan dan sebagainya. (jon/ran)

Share
Tag: Kategori: ASTRONOMI SAINS

Video Popular