Keterangan foto: Xi Jinping (ke 3 dari kanan) ingin menjadi orang kuat politik, mengungguli Mao Cedong (ke 1 dari kiri) dalam hal politik? Atau dalam hal ekonomi melampaui Deng Xiaoping (tengah)? Apakah semudah membalikkan tangan? (internet)

Oleh: Chen Pokong

Di awal tahun 2015, profesor ilmu politik New York City University Xia Ming memperkenalkan karya terbarunya “Red Sun Empire – Pembagian jarahan terakhir Partai Komunis Tiongkok (PKT) / Hong Tai Yang Di Guo 紅太陽帝國”. Kumpulan dari pemikiran dan kritikan sastranya terhadap kekuasaan PKT dan perpolitikan Tiongkok beberapa tahun belakangan ini.

Judul buku tersebut mengasosiasikan penulis pada buku lain yang berjudul: “Bagaimana terbitnya Mentari Merah?” yang merupakan karya peninggalan mendiang profesor jurusan sejarah Gao Hua dari Universitas Nanjing, yang mengungkap ilmu pengendalian kediktatoran Mao Zedong (dibaca: Mao Tse Tung). Sedangkan “Red Sun Empire” karya Xia Ming mengungkap watak hakiki dan situasi aktual pemerintahan PKT dewasa ini. Setelah diperbandingkan, Gao Hua membicarakan satu orang sedangkan Xia Ming membicarakan satu Negara. Karya tulis Gao Hua bernuansa sejarah sedangkan Xia Ming memberi nuansa kontemporer.

Memberi nama “Red Sun Empire” kepada kediktatoran Tiongkok yang negaranya lagi naik daun dengan pesat, berasal dari inspirasi Xia Ming. Inspirasi kata-kata sejenis ini yang merupakan keunikan Xia Ming dalam berkarya, bermunculan dimana-mana dalam bukunya. Misalnya seperti sistem Kongres Rakyat Nasional yang diumpamakan sebagai “Politik Bunga Kaktus epiphyllum”, kekuasaan tertinggi PKT diumpamakan sebagai “Sebuah Lord of the Ring”, Hak khusus PKT diumpamakan sebagai “Seutas jerat”, Kebijakan Zhongnanhai (kompleks perkantoran dan perumahan mewah para petinggi PKT di Beijing) dewasa ini diumpamakan sebagai “Jalan sesat lama”. PKT mendirikan Institut Konfusius di seluruh dunia, diumpamakan sebagai “Penghancuran ke 4 bagi Konfusianisme”, “Model Tiongkok” yang mengasyikkan bagi Beijing diumpamakan sebagai “Kanker Dunia abad ke 21”.

Perumpamaan-perumpamaan yang mengesankan itu telah sangat meningkatkan kelenturan kalimat-kalimat dalam buku tersebut dan juga sangat meningkatkan mutu baca dari buku bergenre politik ini.

Xia Ming menyebut “Red Sun Empire” sebenarnya merupakan sindiran terhadap Wang Huning yang mengagumi “Sun Empire”. Wang Huning pernah memastikan, “Sun Empire”-Jepang akan mengungguli sistem kebebasan dari Amerika Serikat. Setelah ramalan ini meleset, Wang Huning berfantasi lagi bahwa Tiongkok mampu meneruskan Jepang menjadi sebuah bangsa timur berikutnya yang bisa menantang AS.

Menyinggung tentang Wang Huning, siapapun tahu ia adalah ahli siasat/pemikir tertinggi di Zhongnanhai yang dijuluki sebagai “Guru imperium 3 generasi” (mengalami 3 generasi pemimpin RRT yakni: Jiang Zemin (1989-2002), Hu Jintao (2002-2012) dan Xi Jinping (sejak 2012), saat ini menjabat sebagai anggota Politbiro dan kepala kantor Penelitian Kebijakan Pusat PKT. Sama-sama sebagai alumnus Universitas Fudan, hubungan Wang Huning dan Xia Ming pernah sebagai guru-murid dan kolega, pernah bersama-sama selama 1 dekade. Namun 2 orang itu ternyata menapaki jalan hidup yang sama sekali beda. Wang masuk ke partai (PKT) dan menjadi pejabat serta karirnya terus melambung hingga akhirnya menjadi anak kesayangan bidang teori di dalam sistem, menjadi penjunjung tandu sang kaisar. Sedangkan Xia malah melompat keluar dari sistem, mengabdikan dirinya di gerakan demokrasi, mengalami “pembaptisan” darah dan api pada peristiwa Tiananmen 1989, akhirnya menetap di tanah kebebasan Amerika Utara sebagai seorang ilmuwan independen.

Dalam buku, Xia Ming dengan menggunakan pengamatan jarak dekatnya menganalisa lintasan ideologis Wang Huning. Kenyang membaca karya ilmu sosial Barat tetapi masih tetap tersesat pada pintu samping Marxisme, pernah mengikuti studi tour ½ tahun di AS, tetapi senantiasa tidak bisa mengatasi antipati dan ketidakpahaman terhadap AS, memutar-balik “Eurocentrism”, beranggapan bahwa Barat pada akhirnya terjungkal dan Timur dipastikan bangkit (Jepang lalu disusul Tiongkok).

Xia Ming tak segan menunjukkan secara blak-blakan kontradiksi pemikiran logis Wang Huning: Percaya membuta “Paham Marxisme adalah kebenaran mutlak”, tetapi juga percaya “Relativisme Ilmu Ekologi Politik”; menggunakan Teorema Marxisme dari Barat untuk menyangkal nilai-nilai universal Barat, demi menciptakan yang disebut “rasionalitas” Timur bagi “Jalan Perkembangan Tiongkok”.

Sesungguhnya, hubungan antara Wang Huning dengan pimpinan di Zhongnanhai adalah guru dan murid. Secara permukaan Wang adalah penasihat, konsultan dan penasihat pribadi, memberi perencanaan dan siasat/ pemikiran kepada pimpinan. Kenyataannya, Wang adalah pembantu, penjilat, murid yang mencoba menduga maksud atasan dan bersilat lidah mencarikan serta menelurkan ‘Landasan teori’ bagi kekuasaan tangan besi kediktaktoran. Sebelumnya ada Yao Wenyuan (pada zaman Revolusi Kebudayaan) dan sekarang Wang Huning, keduanya berasal dari “pemuda piawai” dari Shanghai juga keduanya melejit dalam karier karena bersandar pada penguasa yang bertengger dalam Politbiro Zhongnanhai. Intelektual yang dibayar oleh penguasa, sebatas itu saja.

Tidaklah sulit bagi Xia Ming jika saja ia mau memilih ‘jalan besar menembus langit’ itu. Setelah peristiwa 4 Juni (Tiananmen 1989) walaupun Xia Ming study di luar negeri dan mengajar disana, akan tetapi ia masih bebas keluar-masuk Tiongkok, bahkan pernah menjadi obyek utama pemerintah PKT untuk digaet, dibujuk, dibeli dan dipersatukan (dengan PKT). Namun, dalam tahun-tahun ia keluar-masuk Tiongkok, gelora hati seseorang dari luar Tiongkok yang berniat awal melakukan sesuatu hal nyata dan mempersembahkan hal yang bersifat konstruktif bagi negeri leluhurnya, menyaksikan sendiri lingkungan pejabat PKT, berbagai fenomena aneh dalam masyarakat, kekacauan, kemerosotan, ekstrim korup, bejat tak terbatas, keganjilan dimana-mana. Ia merasa teramat sangat kecewa hingga sangat membenci. Pada akhirnya lantaran syuting sebuah film dokumenter berjudul “Air mata Tianfu bercucuran pasca bencana” mencerminkan kesengsaraan korban bencana gempa besar di provinsi Sichuan, ia pun memutus total hubungannya dengan Dinasti Merah, berpisah jalan dengan para Wang Huning.

Perbedaan yang sangat jelas dengan orang semacam Wang Huning adalah, Xia Ming juga kenyang melahap karya-karya ilmu sosial Barat, tapi ia piawai dalam menyerap intisari/esensinya. Dalam buku Xia Ming, pemanfaatan ilmuwan Barat beserta teorinya, dengan lancar dan melimpah, membuktikan bahwa ia berpengetahuan sangat luas, mahir dan trampil dalam bidang ilmu politik, sosial dan sejarah Barat. Sebagai seorang akademisi yang berhati nurani dan menjunjung: HAM, kebebasan, Demokrasi dan Konstitusionalisme, barulah pencapaian taraf ideal yang bisa menggerakkan hatinya dan membuat hatinya merindukannya. Menjunjung tinggi kepribadian independen, meyakini nilai-nilai universal, telah menjadi koordinat kehidupan profesor Xia Ming yang teguh tak tergoyahkan.

Misalnya seperti: Ini adalah sebuah kekuasaan yang memupuk dendam, “Belum lagi PKT pasca berkuasa, sudah mulai berkhianat terhadap sekutu mereka (Gerakan anti sayap kanan pada 1955-an), rakyat sendiri mati kelaparan (bencana besar kelaparan Lompatan Besar ke Depan, 1958-1960), menganiaya pejabat/menteri sendiri yang berjasa (Revolusi Kebudayaan), mencaplok anak sendiri (program pemuda-pemudi putus sekolah karena Revolusi Kebudayaan dikirim ke pelosok pedesaan dan pegunungan pada masa 1966-1976), akhirnya sang janda pemimpin (Mao) sendiri dijebloskan ke dalam penjara, dia yang merasa telah menemui jalan buntu, lantas menggantung dirinya di dalam sel penjara, juga menjadikan ‘pemimpin agung (Mao)’ sendiri menjadi anggota ‘keluarga kontrarevolusioner’.”Betul-betul sebuah drama kolosal aneh yang tidak masuk akal!

”Pembagian jarahan terakhir PKT”, ini merupakan sub judul karya tulis Xia Ming. Benar, hanya ungkapan ‘pembagian jarahan’ baru bisa menginterpretasikan lebih akurat pemikiran dan tindakan dari level penguasa saat ini. Ketika berita Ling Jihua, mantan Ketua Bidang Umum Pusat PKT dan internal GM senior dari mantan Sekretaris Jendral PKT Hu Jintao diseret ke pengadilan, tuduhan terhadapnya persis sama dengan Bo Xilai, Xu Caihou, Zhou Yongkang dan lain-lain: KKN, Perzinahan dan Pencurian rahasia (negara). Perdagangan antar uang dan kekuasaan, perdagangan antar sex dan kekuasaan.

Bisa diprediksikan, meski menangkap lagi para pejabat korup yang lain, anggota Partai Komunis yang tidak pernah habis ditangkap dan dieksekusi akan sama seperti satu cetakan: KKN, Perzinahan dan Pencurian rahasia (negara). Perdagangan Uang dan Kekuasaan, Perdagangan Sex dan Kekuasaan. Kuncinya hanya satu, semuanya adalah kebobrokan moral, yakni identik dengan pembagian jarahan.

Menolak demokrasi adalah demi mempertahankan kekuasaan. Mempertahankan kestabilan politik adalah demi melindungi keuntungan yang dijarah. Bagi partai komunis, ini merupakan zaman pembagian hasil jarahan. Hanya saja, pembagian jarahan itu tidak merata, dipastikan akan menyebabkan perselisihan yang memicu pertikaian. Yang menang menjadi raja, berada di atas singgasana, lingkaran cahaya memendar ke empat penjuru. Lalu yang kalah menjadi pecundang, masuk penjara, reputasi tercemar. Grup manapun yang biasa melakukan pembagian jarahan, termasuk bandit, triad serta bereneka rupa organisasi bawah tanah, tidak ada satupun yang menjadi perkecualian, itu sebabnya lantas sering terjadi pertentangan, suara kepala manusia menggelinding ke tanah terdengar terus menerus di telinga.

”Red Sun (Mao)” sudah jatuh dari langit selama 39 tahun (Mao meninggal dunia pada 1976), ada orang yang masih berilustrasi menjadi “Red Sun” terkini. Berita hangat dalam dan luar negeri sedang memperdebatkan apakah Xi Jinping akan menerapkan kebijakan politik tangan besi. Namun, untuk bisa menjadi orang kuat dalam politik, dasarnya apa?

Mao Zedong menjadi orang kuat politik, dengan mengandalkan menggulingkan satu kekuasaan dan mendirikan kekuasaan lain serta mengganyang semua musuh politiknya dalam internal partai. Deng Xiaoping menjadi orang kuat politik yang diandalkan adalah mensubversi garis kebijakan ekonomi Mao Zedong, dan membereskan seluruh musuh politiknya di dalam partai. Xi Jinping ingin menjadi orang kuat politik, mengungguli Mao dalam hal politik? Atau dalam hal ekonomi melampaui Deng?

Caranya yang terkesan ketinggalan zaman, condong ke kiri daripada ke kanan, dan sama sekali tidak menunjukkan gejala melampaui; Sebaliknya anti korupsi mengalami hambatan dan memukul harimau (koruptor) tersendat, hendak memberantas lawan-lawan politik dari berbagai aliran dalam partai, tidak semudah yang dibicarakan?

Apalagi, Mao Zedong memegang kekuasaan selama 27 tahun, Deng Xiaoping memerintah selama 20 tahun, bisa bertahan berapa tahunkah Xi Jinping? 10 tahun? Lebih panjang atau lebih pendek?

Dari sini bisa ditarik kesimpulan, perkataan mengenai orang kuat dalam politik, hingga kini sama sekali tidak berdasar. Sebagai kesimpulan dari seluruh buku, Xia Ming telah mencoblos tembus mimpi indah para penguasa Zhongnanhai, ia mengatakan begini, “Red Sun dari PKT hanyalah bayangan dari sekelompok orang jahat yang berada di dalam gua gelap yang diproyeksikan ke dinding batu saja.”

Kesimpulan yang betul-betul memekakkan telinga, yang cukup membuat orang-orang di dalam maupun di luar tembok merah merenungkan dan memikirkan dalam-dalam. (lin/whs/rmat)

 

 

 

 

Share

Video Popular