- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Apakah Perolehan dari Peristiwa WTC-911?

Keterangan gambar: One World Trade Center pengganti Gedung Kembar Word Trade Center di New York yang sudah dioperasikan sejak 3 November 2014. (Wikipedia)

Oleh: Cao Changqing

Di tengah peringatan 14 tahun, 11 September WTC, menengok kembali ke tragedi ini semakin membuat masyarakat dunia melihat jelas “beban berat tak tertahankan”. Majalah Newsmax AS pernah menerbitkan “Statistik Kerugian Serangan Teroris, dengan angka konkrit yakni: 91, di hari serangan itu terjadi, hampir 3000 jiwa menjadi korban. Perang anti-teroris setelah itu, lebih dari 6.000 prajurit Amerika Serikat gugur di medan tempur Irak dan Afganistan, dan lebih dari 45.000 orang lainnya terluka. Selain itu sebanyak 126.000 warga sipil Irak maupun Afganistan juga jadi korban tewas maupun terluka.

Selain korban jiwa yang tak ternilai, kerugian ekonomi AS juga luar biasa besar.

Empat unit pesawat yang dibajak dan ditabrakkan (dua unit ditabrakkan ke WTC, satu unit ditabrakkan ke Pentagon, dan 1 unit terjatuh dari udara) bernilai USD 418 juta. Dua tower gedung WTC bernilai USD 22 milyar. Memperbaiki Pentagon bernilai USD 5 milyar. Dana santunan yang diberikan bagi keluarga korban bernilai USD 20,1 milyar (total nilai santunan ini hampir sama dengan nilai dua tower WTC, bisa dilihat betapa pemerintah AS sangat memperhatikan keluarga para korban).

Tragedi 11 September menyebabkan kerugian asuransi sebesar USD 19,6 milyar. Pada hari yang sama karena adanya pengawasan lalu lintas udara, pembatalan penerbangan dan peralihan destinasi menyebabkan sektor produksi di AS mengalami kerugian senilai USD 15 milyar. Biaya untuk membersihkan puing reruntuhan WTC sebesar USD 9 milyar. Pada 11 September itu transaksi di bursa efek AS ditutup. Ketika perdagangan dibuka lagi pada 17 September indeks Dow Jones langsung anjlok sebesar 684 poin, memecahkan rekor penurunan harian terbesar sepanjang sejarah bursa efek.

Minggu itu, bursa efek AS mengalami kerugian sebesar USD 1,4 trilyun. Tiga hari setelah bursa dibuka kembali pasca tragedi tersebut The Fed harus menyuntikkan dana segar sebesar USD 300 milyar ke bursa efek untuk menstabilkan bursa. Kerugian produksi di bursa efek New York akibat tragedi 11 September bernilai USD 72 milyar. Menurut laporan riset Brown University, pasca tragedi 11 September, biaya yang dikeluarkan pemerintah AS untuk perang di Irak dan Afganistan adalah sebesar USD 2,8 trilyun. Menurut berbagai hasil riset serangan 11 September menyebabkan kerugian ekonomi total, termasuk kerugian pada hari kejadian itu, membersihkan puing WTC, memperkuat keamanan, memberikan santunan bagi para korban, aktivitas militer anti-teroris, dan lain sebagainya, mencapai USD 7,33 trilyun (105.251.565.169.751.340.00 Rupiah)! Angka ini mendekati setengah dari total PDB AS (PDB Amerika tahun 2013 sebesar USD 16,8 trilyun)!

AS membayar mahal dengan nyawa, ekonomi, apa yang didapat?

Setidaknya ada dua hal “tak ternilai” yang bisa didapat.

Pertama, selama beberapa tahun ini wilayah AS menjadi aman. Bukan karena teroris tidak mau lagi menyerang Amerika, melainkan karena perang di Irak dan Afganistan telah memukul telak para teroris, perang melawan teroris di seluruh dunia cukup efektif untuk membuat teroris semakin sulit menyerang AS. Keamanan AS adalah efek dan imbalan terbesar.

Kedua, pemilihan demokrasi bagi rakyat Afganistan dan Irak, yang menggemparkan dan menyemangati dunia Arab, sehingga menyulut revolusi di Tunisia, Mesir, Libya, Suriah, Yemen, dan lain-lain untuk menyerukan demokrasi! “Imbalan” raksasa ini memiliki makna yang sangat panjang! Dalam hal ini, pakar masalah Timur Tengah yang merupakan peneliti dari Hoover Institute di Stanford University kelahiran Lebanon pada 1945 bernama Fouad Ajami pernah menulis artikel berjudul “From 911 to Arab Spring” di surat kabar “Wall Street Journal” mengulas secara mendalam akan hal ini.

Ajami melakukan riset yang mendalam terhadap Timur Tengah, ia adalah pendiri ASMFA (Asosiasi Studi Timur Tengah dan Afrika), ia juga anggota Komisi Opini Publik di tabloid “Middle East Quarterly”, dan saat ini Ajami merupakan salah seorang ketua dalam proyek riset “Islam and International Order” di Hoover Institute.

Setelah terjadinya serangan 11 September, Ajami sempat ke Mesir dan Saudi Arabia dan melakukan observasi. Ia mengatakan ada satu ungkapan dalam bahasa Arab yakni “Shamata” (dalam bahasa Jerman: Schadenfreude) untuk melukiskan perasaan orang-orang Arab pada waktu itu. Makna dari kata itu menyerupai “Xìng zāi lè huò 幸災樂禍” dalam bahasa mandarin. Tak hanya bagi kalangan muslim pada umumnya, bahkan para saudagar Arab yang pernah mengenyam pendidikan di AS pun cukup “mengagumi” sosok Bin Laden, dan beranggapan bahwa Osama telah membalas Amerika. Para cendikia Arab pun melontarkan pernyataan serupa, dengan kata-kata “tapi…” untuk menegaskan bahwa yang dialami AS ini ada penyebabnya. Terlebih lagi “teori konspirasi” adalah hal yang paling disukai media massa Arab, mengatakan WTC diledakkan oleh AS sendiri, dan pada hari kejadian itu ribuan orang Yahudi tidak pergi bekerja ke WTC dan lain sebagainya. Intinya seluruh emosional Timur Tengah merasa senang dan gloat (bersorak dalam hati melihat orang yang tidak disukainya mengalami duka) terhadap bencana yang menimpa warga AS!

Pakar Timur Tengah ini mengatakan, media massa Arab tidak menekankan kesulitan sesungguhnya yang dialami di wilayah Timur Tengah dan dunia muslim, seperti ototkratis dalam hal politik, kesulitan ekonomi, ketidak-adilan di masyarakat; melainkan justru semakin memprovokasi rasa nasionalisme, menghunuskan ujung tombak ke arah AS dan anti-Barat. Ia berkata, sebelum terjadinya peristiwa 11 September, sikap AS terhadap urusan Timur Tengah adalah tidak mengintervensi langsung. Tapi 911 telah mengubah segalanya, Amerika terjun ke dua ajang perang, mengakhiri kekuasaan Saddam Husein di Irak dan Taliban di Afganistan. Waktu itu Presiden Bush secara jelas menyatakan, kebijakan luar negeri AS adalah “menyebarkan demokrasi ke seluruh dunia”, dan menjadikannya sebagai target dan cara utama untuk mengakhiri terorisme.

Ajami adalah salah seorang akademisi keturunan Timur Tengah yang paling mendukung AS menggempur Irak, ia berpendapat bahwa Perang Irak adalah “upaya yang terhormat”: menyingkirkan diktator di Irak, menyebarkan demokrasi di Timur Tengah, sehingga menimbulkan pengaruh dan efek besar di dunia Arab.

 

Kini, fakta membuktikan, perubahan keseluruhan di Timur Tengah, terjadi setelah adanya pemilu di Irak dan Afganistan.

Menurut Ajami, Revolusi Tunisia, Mesir menggulingkan diktator, Libya meraih kemerdekaan, serta perubahan di Timur Tengah secara menyeluruh, ada “kaitan langsung” dengan perang di Irak dan Afganistan, adalah efek dari strategi mantan Presiden Bush “menyebarkan demokrasi ke seluruh dunia”. Ia berkata, terjadinya perubahan begitu besar di Timur Tengah dan Afrika Utara, “Bukanlah karena kendaraan tank AS, melainkan karena rakyat Mesir, Tunisia, dan Libya, mereka telah mengalahkan ketakutan mereka, turun ke jalan tidak lagi takut, terciptalah hal yang menggemparkan ini.”

Terhadap rakyat Suriah yang sedang berperang dan merebut kemerdekaan, Ajami mengatakan, “Topeng rezim Assad telah terlepas”. Ajami sangat yakin akan masa depan demokrasi di Suriah.

11 September, AS telah membayar mahal. Tapi, jika tidak ada “luka berat” ini, maka AS tidak akan terjun ke dalam kedua perang ini. Sebagai negara demokrasi, aksi militer besar apapun, harus didasari oleh aspirasi rakyat. Bahkan PD-II dulu, ketika Nazi Jerman dan Imperialisme Jepang merajalela, mayoritas rakyat Amerika tidak setuju AS terlibat perang; hingga akhirnya Pearl Harbor dibom, aspirasi rakyat AS bangkit dan mendukung pernyataan perang terhadap Jepang.

Kini, serangan 11 September ini juga memutar-balik aspirasi rakyat AS, waktu itu di Dewan Kongres dengan suara mutlak 420 banding 1, di Dewan Senat dengan suara mutlak 98 banding 0, memberi otoritas pada presiden untuk menempuh perang dan perlawanan bersenjata melawan teroris. Waktu itu hasil survey Gallup menunjukkan, sebanyak 88% warga AS mendukung perang melawan Irak.

Kini, efek dari kedua ajang perang itu sudah di depan mata. Rezim diktator di sana telah digulingkan, 50 juta rakyat telah meraih hak memberikan suaranya, dan “sinyal” tersebut menyebar ke seluruh Timur Tengah ibarat efek domino, membuat seluruh Timur Tengah bahkan juga Afrika Utara mengalami perubahan!

Di dalam hati setiap insan, siapapun dia, pasti mendambakan kebebasan! Jadi gelombang demokrasi di Timur Tengah yang sedang menggelora hari ini, pasti akan menjadi hari esok bagi negara-negara yang di hari ini masih terkungkung dalam sistem kediktatoran! (sud/whs/rmat)