Keterangan gambar: Gambar beberapa orang pengungsi sedang melintasi perbatasan melalui kawat berduri yang berlubang. (Attila Kisbenedek/AFP/ Getty Images)

Oleh: Hai Ning

Negara Eropa yang menyalakan lampu hijau bagi pengungsi kini mulai kewalahan dan memperlakukan langkah-langkah untuk membatasi datangnya pengungsi. Pemerintah Jerman sedang mempertimbangkan untuk mengurangi kesejahteraan bagi para pengungsi. Kroasia mengumumkan penutupan tanpa batas waktu jalur perbatasannya dengan Serbia.

Jerman menerapkan aturan yang ketat terhadap pengungsi

‘Washington Post melaporkan, Jerman sedang menyempurnakan aturan tentang penerimaan pengungsi untuk mencegah tak terkontrolnya arus pengungsi yang masuk. Sementara itu, Departemen Dalam Negeri Jerman juga mengatur pengurangan kesejahteraan bagi pengungsi untuk menghindari diposisikannya mereka sebagai mercusuar bagi pengungsi Timur Tengah dan Afrika utara. Selain itu, peraturan baru tersebut juga akan dijadikan ‘alat’ untuk mendeportasi para imigran gelap, sekaligus untuk menghukum mereka yang mengajukan pernyataan tidak benar atau memalsukan dokumen untuk meminta suaka.

Dalam peraturan pengungsi yang diusulkan itu disebutkan bahwa untuk menghadapi krisis pengungsi pemerintah Jerman menganggap penting untuk menerapkan beberapa kebijakan yang ketat terhadap para pengungsi. Diperkirakan Jerman akan kedatangan 80.000 orang pengungsi pada tahun ini, angka tersebut setara dengan 1 % dari penduduk Jerman yang berjumlah 81 juta jiwa.

Peraturan baru tersebut menyebutkan bahwa Jerman akan memberikan kepada masing-masing pemohon suaka persediaan makanan dan tiket pesawat untuk membantu mereka kembali ke negara Uni Eropa yang pertama didatangi. Jerman tidak menyediakan tempat tinggal dan uang tunai kepada para pengungsi. Ini berarti bahwa hanya segelintir orang yang betul-betul mendapatkan suaka dari pemerintah Jerman dan Uni Eropa.

Selain itu, pemerintah Jerman akan menolak memberikan kesejahteraan bila para pengaju suaka ditemukan ada menyembunyikan informasi penting (seperti paspor dan asal negara). Di masa lalu, para pengungsi sudah memiliki hak atas perumahan yang disubsidi negara bila sudah menghabiskan waktu 3 bulan hidup di Pusat Pengungsian. Dalam peraturan baru nanti, waktunya akan diperpanjang hingga 6 bulan.

Terhadap mereka yang sudah memperoleh instruksi tertulis untuk meninggalkan Jerman tetapi tetap membandel, maka pemerintah Jerman akan melakukan pemaksaan atau deportasi tanpa pemberitahuan lebih lanjut. Rancangan undang-undang ini akan diberlakukan segera setelah pengesahan oleh Parlemen Jerman.

Kroasia ‘tenggelam’ oleh membanjirnya pengungsi

Pemimpin Kroasia menolak untuk merealisasi komitmen mereka pada hari sebelumnya yang berbunyi “dengan lengan terbuka menyambut para pengungsi”, memutuskan untuk menutup jalan masuk negara itu dari Serbia. Keputusan tersebut diduga merupakan upaya untuk mendorong para pengungsi melalui daerah yang sudah dipenuhi oleh sejumlah ranjau yang sudah ditanam pada saat perang Balkan pada tahun 90-an. Hutan-hutan dan daerah perbatasan yang jauh dari penduduk Kroasia penuh dengan ranjau.

Menteri Dalam Negeri Kroasia Ranko Ostojic mengatakan bahwa Kroasia telah menerima total 11 ribu orang pengungsi dalam sehari pada 17 September 2015.

“Para pengungsi jika ingin menyelamatkan hidup sebaiknya pergi ke Serbia, Makedonia dan Yunani, jangan lagi datang ke Kroasia. Dan isu-isu yang menyebutkan bahwa Uni Eropa membuka pintu untuk menampung para pengungsi dan mereka boleh mendatangi Jerman dan Slovenia itu jelas tidak benar,” tegas Ranko.

Kamis lalu, ribuan pengungsi yang kebanyakan datang dari Iran, Irak dan Suriah berbentrok dengan Polisi anti huru-hari Kroasia di stasiun KA Tovarnik. Ratusan pengungsi menerobos garis larangan polisi dan sebagian dari mereka mengalami luka-luka akibat bentrokan.

Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic telah memberi instruksi kepada militernya untuk bersiaga menunggu perintah untuk diterjunkan ke wilayah perbatasan.

Uni Eropa tak berdaya

Krisis pengungsi kian mendalam tetapi kesepakatan antar negara Uni Eropa dalam mengatasi pengungsi juga belum diperoleh. Presiden Dewan Eropa Donald Tusk berencana mengadakan pertemuan darurat pada Rabu depan. Sampai sekarang, hanya 40.000 pengungsi yang diterima oleh 22 negara anggota Unii Eropa. Tambahan 120.000 orang pengungsi telah ditentang keras oleh negara Eropa bagian Tengah dan Timur.

Hari kamis, ‘inisiator’ pemicu gelombang pengungsi Manfred Schmidt mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan karena ‘alasan pribadi’. Kantor Imigrasi Jerman pada 25 Agustus 2015 lalu, melalui Twittter mengklaim bahwa Jerman akan memberikan suaka kepada semua pengungsi dari Suriah, dan tidak akan memulangkan mereka ke negara di Uni Eropa yang pertama didatangi (Umumnya adalah Yunani dan Italia). Ketegasan ini mendorong para pengungsi berduyun-duyun datang ke Jerman. Gelombang pengungsi akhirnya semakin tinggi.

16 negara bagian Jerman dengan suara bulat mengecam tindakan yang dipimpin oleh Schmidt, mereka juga sudah memperingatkan Pemerintah Federal Jerman soal kedatangan pengungsi, tetapi tidak memperoleh tanggapan yang serius. Oposisi Jerman mengatakan bahwa yang harus menerima kritikan tidak hanya Kantor Imigrasi, tetapi juga termasuk Departemen Dalam Negeri, Menteri Departemen Dalam Negeri Jerman Thomas de Maizière dan Angela Merkel juga harus ikut bertanggung jawab.

Wakil Perdana Menteri Jerman Sigmar Gabriel pada mengatakan bahwa pemerintah Jerman sudah berusaha untuk mengulurkan tangan bantuan, namun permasalahannya adalah siapa yang bisa membantu Jerman?

Ia menuduh beberapa negara Eropa justru menyembunyikan diri di saat bantuan mereka diperlukan.

Pemerintah Hungaria dinilai paling keras dalam menghadapi gelombang pengungsi. Pihak berwenang mengerahkan polisi menggunakan gas airmata, semprotan merica dan meriam air untuk membubarkan para pengungsi yang melempari polisi dari luar kawat perbatasan.

Pemerintah Hungaria menyebutkan bahwa jumlah pengungsi telah banyak berkurang sejak pagar kawat dipasang di perbatasan. Jumlah itu menurun dari 9.380 orang pada Senin lalu menjadi hanya 277 orang pada Rabu. Jurubicara pemerintah mengatakan, pemasangan kawat di perbatasan memang efektif. Sehingga kawat baja akan terus digunakan selain menambah lagi sejumlah aparat penjaga perbatasan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular