Menteri Perindustrian, Menteri ESDM dan Kepala Bappenas saat kunjungan ke Freeport Indonesia (Humas Kemenprin)

Tembagapura – Menteri Perindustrian Saleh Husin meminta perusahaan tambang asal Amerika Serikat, PT Freeport Indonesia menggunakan komponen dan produk dalam negeri dalam membangun infrastruktur tambang dan operasional tambang.

Menurut Saleh, Freeport telah menjadi bagian dari industri nasional, maka perlu didukung oleh industri-industri lainnya. Oleh karena itu dalam operasionalnya perusahaan itu diminta lebih banyak menggunakan produk buatan dalam negeri.

“Sejalan dengan komitmen investasi dan operasi Freeport di Indonesia, saya minta mereka menggunakan lebih banyak produk yang sudah bisa dihasilkan di dalam negeri seperti baja dari Krakatau Steel, semen dari Semen Indonesia, batu bara dari PTBA dan lain-lain,” kata Menperin saat mengunjungi kawasan tambang Freeport di Kabupaten Mimika, Papua, Sabtu (19/9/2015).

Dari segi kualitas, kualitas produk Indonesia mumpuni untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan BUMN, swasta dan pemerintah. Faktor kedekatan lokasi juga menjadi keunggulan dibanding produk luar negeri.

Menperin berkunjung ke Timika bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Sofyan Djalil dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.

“Makanya, kami sengaja mengajak direksi BUMN antara lain Pindad, Dahana, Krakatau Steel, Pertamina, Semen Indonesia dan PT Bukit Asam  ke sini,” tegas Saleh Husin.

Pada 2015 ini, Freeport Indonesia berencana membelanjakan dana untuk proyek-proyeknya sebesar USD 1,659 miliar atau sekitar Rp 22,41 triliun jika menggunakan perhitungan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS Rp 13.500.

Rincian investasi yaitu sebesar USD 1,16 miliar belanja lokal dan USD 498 juta belanja impor. Pemerintah, ujar Saleh, berharap investasi yang besar itu idealnya mengalir juga ke perusahaan penghasil komponen dan manufaktur domestik. Ini sekaligus menggerakkan aktivitas bisnis dan lapangan kerja, apalagi pemerintah sedang memacu ekonomi melalui paket kebijakan deregulasi pada pertengahan September kemarin.

Senada, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sofyan Djalil meminta BUMN-BUMN mengkaji peluang kerja sama bisnis dengan Freeport. “Misalnya membangun pabrik semen. Selain berpotensi menguntungkan, juga menumbuhkan ekonomi Papua,” ujarnya pada kesempatan yang sama. Sementara itu, Menteri ESDM Sudirman Said berharap kerja sama yang nantinya terjalin dapat saling menguatkan kedua belah pihak.

Pada kesempatan itu, Freeport menegaskan komitmen penggunaan produk dalam negeri. Per 10 Juli 2015, realisasi belanja lokal mencapai 36 persen atau sebesar USD 422 Juta. “Kami membuka kesempatan pada BUMN dan perusahaan nasional untuk melakukan penjajakan, apa saja produk dan kerjasama yang dapat dijalin dalam format B to B (business to business),” kata Direktur Utama Freeport Indonesia, Maroef Sjamsuddin.

Share

Video Popular