Agama mengajarkan kita untuk memberikan pipi yang lain ketika ditampar, tetapi dalam prakteknya, pengampunan itu mungkin tampaknya mustahil. Kita mungkin merasa dibenarkan dalam kebencian, atau percaya hal tersebut akan melindungi kita dari luka baru, akan tetapi para ahli mengatakan kita akan membayar harga yang tinggi untuk menyimpan dendam lama.

“Anda akan menanggung akibatnya nanti,” kata Dr. Everett Worthington, seorang penulis, psikolog klinis, dan profesor psikologi di Virginia Commonwealth University, AS. “Kita marah dan stres sepanjang waktu, dan kita tidak segera melihat efeknya. Namun pada akhirnya mereka akan muncul jika kita terus melatihnya dalam waktu yang lama.”

Pengampunan adalah sebuah ide yang utamanya tetap berada dalam ranah agama. Meskipun terdapat ulasan tebal Sigmund Freud untuk setiap subjek psikologis lainnya, namun ia tidak pernah menyinggung masalah pengampunan. Pendahulu Sigmund juga hanya menaruh sedikit perhatian pada pengampunan, tetapi sesuatu telah terjadi pada 1980-an, sehingga membuat psikolog mengamatinya lebih dekat.

Sejak itu, ilmu pengetahuan telah meneliti bahwa kebencian yang kronis dapat menyebabkan tekanan darah yang lebih tinggi, meningkatkan ketegangan dan peradangan, serta tingkat kortisol yang tinggi, yang mengganggu hampir setiap proses dalam tubuh.

Dr. Everett adalah salah satu peneliti pertama yang mengubah lensa ilmu pengetahuan tentang pengampunan, dan subjeknya tetap fokus pada karyanya. Ia menjadi tertarik pada pengampunan saat melakukan konseling pernikahan pada awal 1980. Beberapa tahun kemudian, ia menerbitkan salah satu artikel jurnal pertama tentang pengampunan, yang menguji perannya dalam terapi pasangan.

“Salah satu mahasiswa pascasarjana saya pada waktu itu mulai tertarik dengan topik ini, dan kami mulai melihatnya secara ilmiah, dan mengupasnya,” katanya. “Pada tahun 1996, ibu saya terbunuh, dan hal semacam ini baik untuk mengujinya dan benar-benar meningkatkan perhatian saya pada pengampunan setelah itu.”

Bagaimana memaafkan

Menurut Dr. Everett, salah satu hambatan terbesar untuk mencapai pengampunan adalah kurangnya metode untuk melakukannya.

“Saya pikir orang tidak tahu bagaimana untuk bisa sering memaafkan,” katanya. “Mereka mendapatkan banyak dorongan untuk memaafkan. Banyak orang berpikir memaafkan adalah hal yang baik. Dan Anda mendengar khotbah, Anda membaca artikel majalah yang mengatakan memaafkan baik untuk kesehatan Anda.”

“Namun orang mengatakan, ya, hal itu juga sungguh baik jika saya bisa melompat 20 kaki di udara, tapi saya tidak bisa melakukannya.”

Meskipun Dr. Everett mengaku dirinya seorang Kristtiani, ia mengatakan bahwa seseorang tidak memerlukan kepercayaan kepada Tuhan untuk melihat betapa bernilainya pengampunan. Bahkan, penelitian telah menunjukkan bahwa agama sendiri sering kali tidak cukup untuk mencapai kondisi pengampunan.

“Jika Anda berpikir itu tugas saya untuk mengampuni karena saya di bawah kewajiban agama saya, well, ternyata Anda bisa memaafkan sedikit seperti itu, tapi tidak banyak. Motivasi dari kewajiban agama tampaknya tidak efektif dalam mempromosikan banyak pengampunan,” katanya.

Menurut Dr. Everett, kunci untuk sukses memaafkan adalah menumbuhkan rasa empati, kerendahan hati, dan kasih sayang. Penelitian telah menunjukkan bahwa pengampunan datang lebih mudah bagi orang-orang yang lebih tertarik pada kemajuan orang lain dari pada keuntungan pribadi.

Melalui penelitian dan pengalaman klinis, Dr Everett telah mengembangkan metode bagi orang yang ingin belajar bagaimana untuk memaafkan. Disingkat menjadi REACH:

•R (recall) adalah meng¬ingat-ingat rasa sakit yang menimpa Anda seobjektif mungkin.

•E (empathize) adalah berempati, mencoba memahami sudut pandang orang yang bersalah pada Anda.

•A (altruism, sifat mendahulukan kepentingan orang lain), pikirkan ketika Anda menyakiti seseorang dan diampuninya, kemudian tawarkan kebajikan pengampunan kepada orang yang menyakiti Anda.

•C (committing) adalah untuk melakukan, di depan publik memaafkan orang yang bersalah pada Anda.

•H (holding) adalah untuk berpegang, jangan melupakan rasa sakit, tapi mengingatkan diri sendiri bahwa Anda membuat pilihan untuk memaafkan.

Tujuan dari REACH adalah untuk mempertimbangkan perasaan sakit tanpa menyalahkan orang lain atau menjadi korban yang disebabkan oleh ketidakadilan. Rincian lebih lanjut topik ini, tersedia dalam bentuk dokumen Word, yang dapat diunduh gratis di situs Dr. Everett Worthington.

Buku terbaru Dr. Everett, Moving Forward: 6 Steps to Forgiving Yourself and Breaking Free from the Past (Berjalan ke depan: 6 Langkah untuk Mengampuni Diri Sendiri dan Terbebas dari Masa Lalu), menawarkan wawasan dan strategi lebih lanjut.

Memaafkan dan melupakan

Salah satu kesulitan yang ditemui peneliti dalam mempelajari pengampunan adalah menentukan definisi yang akurat. Banyak dari apa yang orang anggap sebagai pengampunan benar-benar sesuatu yang lain.

“Pengampunan bukanlah satu-satunya cara untuk menghadapi ketidakadilan yang kita alami. Ada banyak cara,” jelas Dr. Everett. “Salah satunya adalah hanya menerima: ‘Hei, beginilah hidup. Saya terus berjalan.’ Lainnya adalah mencari alasan pada apa yang telah terjadi atau membenarkan apa yang telah terjadi atau menyerahkannya kepada Tuhan. ‘Saya hanya akan menyerahkan kepada Tuhan untuk menyelesaikannya.’ Atau, ‘Saya akan menyerahkannya kepada Tuhan karena itu bukan masalah saya.’”

Pengampunan yang sejati membutuhkan usaha ekstra. “Pengampunan tidak hanya berupa Anda telah berhenti memegang perasaan negatif terhadap seseorang, tetapi sebenarnya mulai bisa melihat (dia) sebagai sosok yang berharga lagi -sebagai orang (yang) dapat ditebus,” jelas Dr. Everett.

Pandangan untuk menemukan nilai dalam diri orang lain ini, sering kali bertentangan dengan budaya kita yang sangat kompetitif dan politik terpolarisasi. Akan tetapi Dr. Everett percaya bahwa perubahan besar bisa dilakukan dengan mempromosikan secara aktif kesadaran masyarakat terhadap pengampunan. Penelitiannya baru-baru ini mengambil topik melihat pengampunan sebagai inisiatif kesehatan masyarakat.

“Apa yang akan terjadi jika Anda pergi ke sebuah komunitas, katakanlah New York City, dan Anda mengusung kampanye peningkatan kesadaran publik yang memenuhi seluruh kota dengan perhatian terhadap pengampunan?” Katanya. “Jika terdapat hubungan dosis-respons yang kuat, orang-orang yang terpengaruh banyak pada hal ini dan menganggapnya secara serius bahwa mereka ingin memaafkan, dapat berakhir memaafkan.”

Percobaan seperti ini telah dilakukan di universitas-universitas. Bagi sekolah yang mengadopsi kampanye kesadaran atas pengampunan, hampir semua orang di sekolah tersebut telah melihat manfaat positif dalam kesehatan mental dan fisik.(Prm)

Baersambung

Share

Video Popular