Keterangan foto. Ilustrasi

Oleh: Mu Chunxiao

“Tetapi, saya memohon suaka politik justru karena hal ini!”, begitu saya menjelaskan pada perwira rekrut saat berada di Kantor Perekrutan AL di San Francisco AS. Tapi dengan wajah terkejut ia menatap saya, dan sekali lagi berkata tidak pada saya.

Sebelum memutuskan untuk memberitahunya pengalaman saya, telah saya pertimbangkan semalaman. Sehari sebelumnya saat mengisi formulir data latar belakang pribadi, salah satu kolom adalah “Baik di dalam wilayah AS maupun di luar negeri, apakah Anda pernah ditahan oleh polisi?”

Saya pun memberitahu perwira perekrut bahwa saya pernah dipenjara di “kamp kerja paksa” di Tiongkok karena saya adalah pengikut Falun Gong. Perwira yang bernama Mr. Zhu tersebut berkata, jika Anda tidak mengatakannya, kami pun tidak akan tahu, tapi jika Anda mengatakannya, sangat mungkin Anda tidak akan diterima. Karena di AS, dipenjara 2 tahun saja sudah merupakan kejahatan yang sangat berat. Saya katakan, justru “tiket kamp kerja paksa” itulah yang menjadi bukti bagi saya dalam pengajuan permohonan suaka politik pada pemerintah AS, AL juga merupakan profesi di pemerintahan, mengapa saya ditolak karena hal ini?

Mr. Zhu dengan tak berdaya menjawab, atasannya tidak akan memahami hal ini. Saya pun menutup map dokumen saya, dan berkata pada Mr. Zhu, saya akan pulang dan mempertimbangkannya sebelum mengisi.

Dalam perjalanan pulang, saya masih memikirkan untuk mengatakan atau tidak mengatakan hal itu. Jika dikatakan, artinya saya akan kehilangan pekerjaan tetap ini. Jika tidak dikatakan, ini akan sangat bertentangan dengan hati nurani dan kepercayaan saya. Bukankah saya justru datang ke Amerika karena mencari kebebasan berkepercayaan?

“To be or not to be” pun berkecamuk seketika, tapi dengan cepat mereda, saya pun memutuskan mengungkap fakta penindasan PKT terhadap saya. Saat menutup map itu kembali saya telah menentukan pilihan.

Reaksi dari perwira perekrut beretnik Spanyol itu sudah bisa ditebak. Karena bagi seseorang yang besar di suatu negara demokratis, akan sulit membayangkan betapa racun dari politik yang sesat dan hukum yang keji menindas rakyat, mungkin diantara mereka selamanya tidak akan pernah percaya hanya karena satu kata dan sebuah buku, suatu pemerintah diktator akan memenjarakan seseorang selama bertahun-tahun. Keluar dari kantor itu, saya pikir pintu itu akan tertutup selamanya bagi saya, karena tahun berikutnya usia saya telah melebihi batas.

Selama setengah tahun berikutnya, saya terus mencari pekerjaan dan di-PHK, hari-hari saya lalui dengan cari kerja dan di-PHK. Kadang saya mengingat kembali perekrutan AL, entah kenapa saya selalu merasa bahwa itu adalah pekerjaan saya. Tak terasa setengah tahun pun berlalu, suatu hari seorang teman memberitahu saya, perwira perekrutan San Francisco telah berganti orang, coba saja lagi. Saya menjawab, bahasa Inggris saya kurang fasih, tidak bisa menjelaskan dengan rinci. Dia berkata, perwira baru itu juga orang Tionghoa. Saya pun menelepon sesuai dengan yang tertera di kartu nama. Mr. Guan mengatakan, datanglah ke kantor untuk bicara. Saya katakan saya sudah pernah ikut ujian, mungkin hasil tes belum kadaluarsa. Saya menceritakan sepintas kondisi saya. Mr. Guan mengatakan, bawalah data permohonan suaka politik Anda ke kantor saya.

Saya menunggu beberapa waktu di sofa di luar kantornya, Mr. Guan keluar dengan tangan memegang “tiket kamp kerja paksa” saya, sambil berkata, hanya karena beberapa keping CD dan brosur Anda telah dipenjara 2 tahun? Kejahatan apa yang Anda lakukan?

Anda tidak bersalah, merekalah yang bersalah! Mr. Guan berkata, bicara soal kondisi di Tiongkok, sebelum peristiwa pembantaian Tiananmen ia juga pernah ber-aksi damai dengan duduk meditasi di Lapangan Tiananmen. Saya berkata, Anda sungguh beruntung masih hidup sampai sekarang. Kakak sepupu saya juga berada di Tiananmen sehari sebelum pembantaian itu, kakak saya berkata waktu itu terdengar suara desingan peluru, mereka semua mengira itu peluru karet, tidak seorang pun takut, tapi kemudian seorang gadis di belakangnya roboh, rok putihnya bersimbah darah. Saya berkata, masih hidup saja sudah beruntung, sungguh suatu keberuntungan tak terhingga. Bertemu dengan orang yang benar-benar memahami Tiongkok, bahasa pun sudah bukan kendala lagi.

Akhirnya jalan pun kembali terbuka, proses rekrut dinas militer itu pun dilanjutkan dan memasuki proses normal. Mr. Guan bertanya pada saya, mengapa bersikukuh memberitahu pengalaman 2 tahun dipenjara di kamp kerja paksa itu?

Saya menjawab, itu adalah alasan saya memperoleh suaka politik itu, alasan yang secara bermartabat mendapatkan suaka politik. Saya dipenjara secara ilegal adalah bukti kejahatan penindasan PKT terhadap Falun Gong, itu adalah aib bagi bangsa Tiongkok, bukan salah saya. Ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak saya bergabung dengan Angkatan Laut. AL adalah departemen pemerintahan, mengabdi pada negara, sangat tidak logis menolak saya dengan alasan itu. Jadi, saya ingin memberitahu fakta tentang penindasan Falun Gong pada mereka, memutar kesalahpahaman mereka akibat tidak memahami fakta.

Awalnya saya tidak merasakan hal yang istimewa dari AL, hanya suatu pekerjaan. Tapi ketika saya melihat topi berbentuk kapal di atas meja perwira perekrut itu, hati saya tergerak, teringat akan tontonan wajib dulu ketika masih duduk di bangku SD menyaksikan film perang antara Kuo Min Tang (Partai Nasionalis) dengan Partai Komunis. Setelah menyaksikan film itu, saya berkata pada ayah, topi tentara wanita dari Kuo Min Tang itu sangat bagus. Kata ayah, seragam mereka bagus-bagus. Saya pun mulai berkhayal, ingin memiliki sebuah topi seperti wanita itu. Saat melihat topi itu di meja perwira, khayalan semasa kecil itu pun melompat keluar, tanpa disadari saya bertanya pada Mr. Zhu, apakah itu topi tentara pria?

Mr. Zhu menjawab, baik pria maupun wanita topinya sama. Dalam hati saya kegirangan, inilah pekerjaan saya.

Siapa sangka yang terjadi kemudian diluar nalar, sehingga timbullah kisah di atas. Tapi, berbicara sesuai hati nurani tidak akan pernah salah. Mengungkap fakta dan kebohongan sudah seharusnya dilakukan. Hasilnya pasti akan indah pada waktunya. (sud/whs/rmat)

 

Share

Video Popular