Keterangan gambar: Tiongkok komunis menerapkan ‘ekonomi sangkar’ yang meletakkan ekonomi yang berorientasikan pasar dalam sangkar ekonomi terencana sosialis. (AFP)

Oleh: Qin Yufei

Usaha Beijing untuk mengintervensi pasar saham dan devaluasi mata uang mendapat semakin banyak kritikan masyarakat internasional, namun Tiongkok masih terus berupaya untuk mempercepat proses perolehan pengakuan dari Organisasi Perdagangan Dunio (WTO) atas status ekonomi mereka yang katanya sudah berorientasikan pasar.

Financial Times pada Minggu (20/9/2015) memberikan laporan bahwa satu ketentuan yang memungkinkan Tiongkok untuk bergabung dalam WTO di waktu lalu itu adalah karena ia bersedia diperlakukan sebagai negara yang memiliki ekonomi non orientasi pasar oleh negara-negara lainnya. Ketentuan tersebut akan jatuh tempo dan perlu ditinjau kembali pada bulan Desember tahun depan. Uni Eropa mungkin akan ditunjuk untuk menyusun satu rancangan peraturan perdagangan baru yang berkaitan dengan ini sebelum 2015 berakhir.

Seorang diplomat di Beijing mengatakan, “Bagi Tiongkok, status ekonomi pasar adalah masalah prestise yang serius. Namun bagi kita, itu adalah keputusan politik yang menentukan”.

Status ekonomi pasar akan membuat lebih mudah bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk melakukan pembelaan dalam kasus anti dumping, sehingga beberapa pakar memperingatkan bahwa itu akan membawa konsekuensi berupa bencana bagi negara-negara di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Beijing kembali memperjuangkan status ekonomi pasar pada saat sebelum KTT dengan keempat mitra dagang terbesar mereka diadakan. Ini juga menjadi misi utama yang akan dibicarakan oleh Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke Amerika bulan ini. Perdana Menteri Li Keqiang pada akhir bulan September ini akan bertemu dengan para petinggi Uni Eropa, termasuk Kanselir Jerman Angela Merker yang rencana akan berkunjung ke Tiongkok sebelum tahun ini berakhir.

Beijing percaya bahwa sesuai perjanjiannya dengan WTO, maka status ekonomi pasar itu akan secara otomatis diperoleh pada bulan Desember 2016 nanti. Tetapi para pakar perdagangan mengingatkan bahwa dalam perjanjian dengan WTO itu memiliki klausula yang menghendaki para eksportir dari negara yang mengajukan status untuk menunjukkan secara otentik bukti mereka tidak menerima subsidi pemerintah dan perlakuan istimewa yang menyangkut nilai tukar.

Seorang sumber yang paham permasalahan ini mengatakan, “Dalam beberapa hari atau pekan mendatang, kita akan melakukan lebih banyak dengar pendapat tentang masalah status tersebut. Tetapi saya sungguh akan terkejut bila Amerika bisa menerima Tiongkok, khususnya tahun depan akan ada pemilihan presiden”.

Perolehan status ekonomi pasar akan berdampak pada pengurangan kesempatan kerja bagi 1.6 juta orang Eropa

Laporan Financial Times menyebutkan bahwa Beijing menjadi target populer bagi kebanyakan calon presiden Amerika untuk memenangkan pemilu. Dalam laporan penelitian The Economic Policy Institute di Washington yang dibuat atas permintaan Organisasi Perdagangan Eropa, menyebutkan bahwa status ekonomi pasar akan mampu menaikan jumlah ekspor Tiongkok tetapi berdampak buruk terhadap pasar tenaga kerja Eropa, sehingga 1,6 juta pekerja di Eropa akan kehilangan lapangan.

Direktur bagian penelitian bidang perdagangan dari The Economic Policy Intitute, Robert E. Scott mengatakan bahwa pemerintah Tiongkok telah memberikan banyak sudsidi kepada berbagai industri dalam negeri dan memanipulasi mata uang guna mendukung produksi dan ekspor, agar kelebihan kapasitas dapat diekspor dengan nilai di bawah harga.

“Pemberian status kepada Tiongkok bisa merusak produsen barang sejenis yang berada di Eropa, Amerika dan negara lainnya karena barang-barang produksi Tiongkok itu akan membanjiri seluruh pasar dunia,” kata Scott.

Devaluasi Renminbi oleh Tiongkok bulan lalu mengejutkan para investor dunia. Mereka umumnya berpendapat bahwa Tiongkok mencoba untuk merancang sebuah penurunan besar nilai tukar mata uang guna mendukung pertumbuhan ekonominya.

Rencana kontroversial dalam penyelamatan pasar saham dan cetak biru reformasi perusahaan BUMN yang belum juga digubris menimbulkan kecurigaan masyarakat dunia tentang keseriusan pemerintah Tiongkok dalam usaha mereformasi ekonomi seperti yang mereka gembar-gemborkan. Tentu hal ini juga mempengaruhi para politisi Barat yang masih enggan untuk mengumumkan bahwa ekonomi Tiongkok sekarang sudah berorientasi pada pasar. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular