Keterangan gambar: Seorang warga Republik Dominika yang terlahir sebagai perempuan kemudian berubah menjadi lelaki saat usia puber. (video screenshot)

Oleh: Chen Juncun

Kerap terjadi di desa yang terletak di Las Salinas, Republik Dominika, bayi-bayi yang dilahirkan sebagai perempuan kemudian berubah menjadi lelaki dan memiliki alat kelamin laki-laki setelah mereka memasuki usia remaja. Banyak yang bilang kejadian aneh itu disebabkan oleh sejenis penyakit keturunan.

Las Salinas berada di tenggara negara itu dan terisolir dengan dunia luar. 1 dari 90 anak di sana mengidap suatu penyakit keturunan yang langka. Ketika lahir, mereka tidak memiliki kelamin lelaki sehingga dianggap perempuan. Tetapi setelah mereka mulai menginjak usia 12 tahun, penis dan tetis akan mulai tumbuh sehingga mereka menjadi remaja laki-laki.

Kejadian ini disebabkan oleh tubuh penderita kekurangan enzim bernama 5-alpha reductase (5a) sehingga tidak mampu mengubah testosterone (hormon yang diproduksi oleh testis dan bertanggung jawab untuk pengembangan karakteristik seksual laki-laki) menjadi dihydro-testosterone (hormon dengan tindakan androgenik kuat yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan banyak karakteristik fisik yang terkait dengan laki-laki dewasa). Oleh karena itu, alat kelamin laki-laki saat lahir akan cenderung tidak tumbuh, sampai saat puber di mana hormon laki-laki mulai berlimpah dan akan merangsang pertumbuhan alat kelamin laki-laki.

Anak-anak penderita penyakit tersebut sejak kecil diperlakukan sebagai perempuan, termasuk diberikan nama perempuan, masuk sekolah dengan pakaian perempuan dan seterusnya. Namun setelah mereka berubah menjadi lelaki, mereka akan mengubah nama dan memulai kehidupannya sebagai lelaki. Meskipun ada beberapa orang yang memilih untuk tetap bertahan denggan status wanitanya, mereka lalu melakukan operasi kelamin.

Penyakit keturunan tersebut baru ditemukan dunia medis sekitar tahun 70-an. Gangguan hormonal ini ditemukan oleh seorang ahli endokrinologi dari Universitas Cornell, AS ketika melakukan perjalanan wisatanya di Republik Dominika dan mendengar adanya kasus wanita berubah menjadi pria di sana, ia lalu melakukan penelitian yang lebih mendalam.

Di Papua Nugini juga ada kasus serupa. Tetapi masyarakat lokal di sana sebagian besar akan memperlakukan anak-anak tersebut sebagai orang cacat dan menjauhi mereka. Dibandingkan dengan Dominika tampaknya masyarakat Dominika lebih bisa menerima kenyataan soal perubahan kelamin. Akibat terisolirnya desa, maka gangguan kesehatan yang sudah terjadi dari generasi ke generasi sudah dapat dikenal dan diterima oleh masyarakat desa di Las Salinas.

Beberapa ahli dan perusahaan farmasi belakangan ini sedang melakukan riset untuk menemukan metode terbaik atau obat yang efektif untuk mengatasi gangguan ini. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular