Agama mengajarkan kita untuk memberikan pipi yang lain ketika ditampar, tetapi dalam prakteknya, pengampunan itu mungkin tampaknya mustahil. Kita mungkin merasa dibenarkan dalam kebencian, atau percaya hal tersebut akan melindungi kita dari luka baru, akan tetapi para ahli mengatakan kita akan membayar harga yang tinggi untuk menyimpan dendam lama.

Mencari dukungan

Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa memegang dendam dapat menyebabkan penyakit. Tapi bagi seseorang yang sudah didiagnosis dengan kondisi serius, men¬emukan bahwa kemampuan untuk mengampuni dan melepaskan bahkan menjadi yang lebih penting lagi.

Menurut Katherine Puckett, seorang pekerja sosial klinis dan direktur nasional Mind-Body Medicine di Cancer Treatment Centers of America (CTCA), pasien mendapat manfaat dengan memahami apa yang hilang dari diri mereka ketika memegang erat kemarahan.

“Ketika kita berada dalam kondisi stres, ada hal-hal yang benar-benar negatif terjadi di dalam tubuh,” kata Katherine. “Tubuh kita menganggap bahwa stres sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup kita. Ada pelepasan sekitar 1.400 bahan kimia berbeda yang digelontor melalui tubuh, ketika kita berada dalam respon stres. Ketika orang berada dalam kondisi mendendam, di mana mereka mengalami kesulitan melepaskan kebencian, maka mereka hidup dalam keadaan di mana hormonnya mengalami kerusakan, jika Anda mau.”

Menurut Katherine, mengembangkan hubungan yang saling mendukung adalah salah satu langkah pertama dalam membantu pasien mencapai kondisi pengam¬punan.

“Kami ingin bisa menjelaskan apa yang kami alami,” katanya. “Ketika mengalami banyak luka dan penderitaan, maka akan sulit untuk belajar melepaskannya, terutama tanpa bantuan seseorang di sepanjang perjalanan.”

Mengidentifikasi dendam

Untuk mencapai bagian dasar dari perasaan dendam, membutuhkan refleksi diri untuk mengenali sumber asal perasaan negatif. Dalam pencarian mereka untuk memahaminya, para pasien kanker bisa jadi menunjukkan berbagai hal sebagai fokus “kambing hitam” mereka, misalnya hubungan yang buruk, ayah yang kasar, atau pekerjaan stres tinggi. Mengidentifikasi sumber sakit merupakan langkah penting untuk membebaskan diri.

Sering kali, pasien membutuhkan bantuan untuk memaafkan diri mereka sendiri. Sebagian besar dari program pengampunan di CTCA adalah membuat pasien untuk dapat melihat nilai perawatan diri. Katherine ingin orang memperlakukan dirinya sebanyak kebaikan mereka ketika memperlakukan seorang sahabat.

“Jadi sering kali orang merasa tidak pantas untuk menjadi bahagia, atau mereka tidak pantas untuk terbebas dari rasa bersalah atau dendam,” katanya. “Ini hanya cara hidup yang berbeda bagi orang. Mereka tidak pernah melakukan hal-hal yang baik dalam mengurus diri sendiri. Ini adalah kurva pembelajaran, namun sangat berharga. Ini sangat bermanfaat, saya pikir.”

Dwayne Bratcher (57), seorang pasien CTCA mengatakan pengampunan-diri memainkan peran besar dalam proses penyembuhannya. Ketika ia didiagnosis menderita kanker payudara, ia merasa malu menderita “penyakit perempuan” dan malu bahwa ia telah merokok selama lebih dari 20 tahun. Dwayne juga menggambarkan dirinya “gila kerja”. Sebelum datang ke CTCA, ia telah menabung 970 jam cuti sakit. Semua yang ia pikirkan tentang pekerjaannya.

“Saya harus memaafkan diriku sendiri karena tidak menghabiskan banyak waktu dengan keluarga. Sejak saya menderita kanker tahun lalu, itu membuat saya dan keluarga lebih dekat bersama-sama,” kat¬anya. “Kini, saya berbicara dengan putri saya setiap hari, padahal sebelumnya satu-satunya hal di pikiran saya adalah pekerjaan.”

Dukungan spiritual

Tidak lagi malu dengan penyakitnya, Dwayne Bratcher sekarang berpartisipasi dalam pelayanan kanker payudara dan sangat terbuka untuk berbicara tentang hal itu. “Setelah saya memaafkan diri sendiri karena menjadi seorang pria yang menderita kanker payudara, kini saya bisa berbicara dengan siapa pun,” katanya.

Dwayne menganggap penyakitnya sebagai panggilan untuk bangun dan mengatakan kankernya adalah berkah yang tersembunyi. Banyak dukungan datang dari gerejanya. “Saya memiliki seluruh jemaat gereja berdoa bagi saya agar saya lebih baik. Hal ini sangat membantu saya untuk keluar,” katanya.

Bagi mereka yang tidak memiliki sebuah komunitas spiritual, CTCA menawarkan dukungan pasien dari pendeta non-denominasi (bukan dimiliki oleh salah satu golongan tertentu). Menurut Carl Williamson, manajer tim pelayanan pastoral di CTCA Midwestern Regional Medical Center, pendeta dapat memberikan pasien kesempatan untuk berbagi rasa bersalah, malu, dan kebencian mereka tanpa penghakiman.

“Pasien kanker sering kali merasa sulit untuk memaafkan diri mereka sendiri karena mereka tengah melalui pengalaman yang menyebabkan banyak tekanan finansial dan emosional pada keluarga,” katanya. “Karena kami memberikan dukungan kepada mereka, mereka dapat mengeluarkan banyak dari apa yang mereka pendam.”

Kadang-kadang beberapa pasien mengatakan mereka marah kepada Tuhan, tapi sebagian besar adalah masalah keluarga. Apa pun masalahnya, pendeta dapat berfungsi sebagai advokat dengan berkomunikasi kebutuhan khusus pasien ke seluruh tim asuhan, atau mereka hanya dapat menyimpan rahasia dalam keyakinannya.

“Baru-baru ini salah seorang pendeta kami mengatakan kepada saya bahwa seorang pasien menceritakan sesuatu yang dia tidak pernah ceritakan pada orang lain,” kata Carl Williamson. “Dia sendiri yang tahu apa yang si pasien alami.”

Pada akhirnya pengampunan adalah sebuah keputusan, akan tetapi ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapainya. Beberapa pasien mungkin tidak pernah mencapai kondisi pengampunan, akan tetapi Katherine bilang hal itu masih cukup penting untuk bertahan di sana dengannya.

“Dibutuhkan orang yang berbeda jumlah waktu yang berbeda, dan mungkin beberapa orang tidak pernah sepenuhnya sampai ke titik melepaskan atau memaafkan,” katanya. “ Akan tetapi jika mereka merasakan dukungan di sepanjang perjalanan, maka akan mengurangi stres apa pun yang mereka alami.” (Prm)

(Selesai)

Share

Video Popular