Keterangan foto: Perlahan penulis menemukan, AL atau secara umum di Amerika, sangat memperhatikan kesehatan tubuh. Saat kami mulai latihan bersama, setiap orang mendapat kartu A4 dengna lipatan tengah yang disebut kartu medis. Hasil uji kesehatan, kemampuan fisik dan renang semua tercatat di kartu tersebut. (Photo by Gin Kai)

Oleh: Mu Chunxiao

Uji fisik selanjutnya kembali berliku-liku. Pukul 5 pagi hari, perwira rekrut Mr. Zhu datang menjemput saya untuk pergi ke rumah sakit pangkalan militer di South Bay. Saat berbincang di mobil dalam perjalanan, Mr. Zhu berkata, kediamannya tak jauh dari tempat tinggal saya, tapi pagi hari ia harus mengemudikan mobil pribadinya ke kantor, kemudian mengganti mobil AL untuk menjemput saya. Rumah sakit ini adalah tempat saya mengikuti ujian ASVAB. Setelah pemeriksaan keamanan dan pengambilan sidik jari, uji kesehatan pun dimulai.

Siang hari, calon prajurit yang datang untuk uji kesehatan tiba di suatu ruangan untuk makan siang. Setelah menemukan namanya di daftar nama, peserta mencoret nama sendiri, kemudian mengambil sendiri sebuah hamburger, buah dan minuman. Diam-diam saya salut pada detil dan kedisiplinan kerja pemerintah AS. Soal makan siang ini, setelah kami selesai uji kesehatan dan hendak pergi, di meja resepsionis disiapkan bungkusan berisi makan siang yang tersisa, dan kami diberitahu boleh membawa pulang. Hamburger itu adalah untuk para peserta uji kesehatan, yang tersisa pun diberikan pada kami, staf di sana tidak boleh mengambilnya. Teringat saat saya masih di Tiongkok, pimpinan perusahaan selalu menjamu tamu perusahaan atau tamu pribadinya dengan uang kantor. Karyawan biasa pun akan mengambil bahan makanan di kantin perusahaan. Sangat berbeda dengan di Amerika Serikat.

Lokasi ujian ditempatkan di rumah sakit, ini juga tak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Kemudian perlahan saya menemukan, AL atau bisa dikatakan AS, sangat memperhatikan kesehatan tubuh. Saat kami mulai latihan bersama, setiap orang mendapat sebuah kartu berukuran kertas A4 yang dilipat menjadi dua, kartu ini disebut kartu medis, hasil uji kesehatan, ujian, uji kemampuan fisik dan renang peserta semua tercatat di dalam kartu tersebut. Dari segala jenis tes ini, dapat dilihat betapa pemerintah sangat memperhatikan kesehatan warganya, bisa dirasakan perhatian yang besar terhadap hidup setiap orang.

Saat uji kesehatan saya bertemu dengan seorang gadis dari AD, dia meminta nomor telepon perwira rekrut AL pada saya, dan berkata ia lebih menyukai AL dan ingin dimutasikan ke AL. Saat itu saya baru tahu hasil ujian ASVAB berlaku di seluruh jajaran militer.

Tuntutan kesehatan fisik di AL terhadap prajurit baru tidak kejam, tidak sepihak, dan biasanya menyesuaikan dengan tuntutan pekerjaan yang ada. Seperti ketika saya bersekolah, seorang murid perempuan berkata saat dia berusia 4 tahun sudah menjalani operasi ginjal, dia hanya memiliki 1 ginjal, jadi tidak bisa tumbuh tinggi. Jika di RRT, saya pikir kondisi seperti dia tidak memungkinkan untuk diterima di militer. Kriteria tinggi badan minimal di AL adalah 145 cm, baik pria maupun wanita. Seorang gadis asal Tianjin yang menetap di Los Angeles berkata, dia tidak berhasil diterima di militer saat di RRT, kini di AS ia berniat bergabung dengan AL.

Dalam uji kesehatan mata saya tidak lolos. Saat mengantar saya pulang, Mr. Zhu menghibur dengan berkata, tidak apa-apa, masih ada kesempatan. Ia berkata, RS militer lebih ketat, tugas mereka adalah mencari masalah fisikmu agar tidak bisa bergabung. AL juga tahu akan hal ini, jadi mereka akan mempertimbangkannya sesuai dengan kebutuhan dan menyuruhmu untuk diperiksa lagi di rumah sakit lain.

Memang benar, beberapa hari kemudian Mr. Zhu mengantarkan saya dan seorang pria lainnya yang juga tidak lolos kesehatan mata untuk diperiksa lagi di RS mata umum. Ayah dan kakak pria itu adalah anggota AL, jadi ia juga ingin bergabung di AL. Tapi sialnya, mata kami berdua tetap saja tidak lolos uji. Kata Mr. Zhu, ia akan melaporkan kondisi kami ini pada RS AL, jika mereka merasa kondisi mata kami tidak akan berpengaruh pada pekerjaan di AL di kemudian hari, ada kemungkinan kami akan mendapatkan keringanan (waver), ini adalah peluang terakhir. Saya bertanya, seberapa besar peluang mendapatkan keringanan itu, ia menjawab 50%. Ia juga berkata, hampir setengah peserta yang tidak lolos uji kesehatan di AL adalah akibat masalah mata. Beberapa hari kemudian, saya menerima selembar waver.

Tapi kemudian timbul lagi masalah, ada sedikit persoalan dalam hal riwayat medis saya. Pihak AL berharap agar saya dapat memberikan riwayat medis saya sebelumnya, karena pertimbangan status suaka politik saya maka tidak bisa kembali ke RRT, saya diperbolehkan untuk mencari satu rumah sakit dimana saja bisa membuktikan bahwa bekas luka di tubuh saya disebabkan karena penyebab yang saya ceritakan. Dokter di RS tempat saya berobat mengatakan, jika Anda memberikan riwayat medis Anda kami baru dapat membuktikannya, saya terjebak lingkaran setan. Setelah mencari dari satu RS ke RS lain, semua dokter mengatakan hal yang sama. Meskipun hati saya gusar, tapi secara objektif, dokter Amerika sangat bertanggung jawab, aturan medis yang ketat sangat adil di dalam kerangka undang-undang yang ada, tidak seperti di RRT, cukup mencari orang yang dikenal baik, surat apapun bisa dibuat, setelah menerima amplop, dokter pun menjadi kehilangan moral.

Kemudian saya menemukan seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang memiliki klinik pribadi, menurut penuturan saya dokter itu pun membuat surat pernyataan yang ditulisnya dengan sangat hati-hati, sangking hati-hatinya terkesan tidak begitu jelas. Di AS, surat dokter tidak semudah itu dibuat bahkan bagi dokter dari RRT yang buka praktek di AS sekalipun sangat berhati-hati dalam hal ini dan harus mentaati aturan. Di AS, jika kedapatan membuat pernyataan palsu, dokter akan kehilangan ijin prakteknya. Jerih payah studi di fakultas kedokteran sekian tahun berikut karir dokter akan pupus begitu saja hanya gara-gara sepucuk surat pernyataan palsu, kepentingan yang dipertaruhkan sangat besar.

Tidak ada jalan lain, terpaksa surat pernyataan medis yang “tidak begitu jelas” itu saya serahkan. Ternyata benar, AL tidak mau menerimanya, lalu saya diberitahu untuk melakukan pemeriksaan di sebuah rumah sakit yang ditunjuk oleh pihak AL. Saya pikir, seharusnya sejak awal sudah seharusnya seperti itu. Bola panas ini seharusnya diselesaikan oleh pihak AL, bukankah pemerintah bisa menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan seorang pribadi?

Setelah menunggu beberapa hari tanpa kabar, saya berpraduga RS AL juga mengalami lingkaran setan yang sama. Beberapa hari kemudian, Mr. Zhu menelepon saya dan berkata, lagi-lagi saya mendapat selembar waver, tidak perlu melakukan uji kesehatan, dan bisa langsung memilih pekerjaan.

Saya segera menelepon ke rumah untuk mengabarkan berita baik ini, waktu itu persis di pagi hari sehari sebelum Hari Raya Imlek. Jika ini adalah balasan pada saya karena telah berkata jujur, saya sangat berterima kasih pada belas kasih dari Sang Maha Kuasa: Tuhan memberkati umat yang rajin dan umat yang baik hati. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular