Keterangan foto: Janet Yellen tidak menghadiri pertemuan tahunan para pimpinan Bank sentral dunia the Jackson Hole, ada apa ? (Chip Somodevilla/Getty Images)

Oleh: Li Yang

Dewan Federal Reserve AS minggu lalu memutuskan penundaan kenaikan suku bunga untuk menenangkan kegelisahan pasar. Dalam pidatonya di sebuah universitas pada Kamis (24/9/2015), Ketua Dewan Janet Yellen kembali menegaskan bahwa suku bunga masih bisa dinaikkan sebelum tahun ini berakhir. Tetapi kenaikan secara bertahap di waktu yang tepat dengan menyesuaikan kebutuhan kebijakan di masa mendatang tidak kalah pentingnya. Ia pun mengatakan bahwa dewan beserta anggota lainnya percaya, perkembangan ekonomi dan moneter akhir-akhir ini tidak berpengaruh terhadap keputusan yang diambil,

Yellen membuat pernyataan di atas dalam pidatonya yang berjudul ‘Dinamika Inflasi dan Kebijakan Moneter’ di kampus UMass Amherst pada Kamis (24/9/2015) pukul 17.00 waktu setempat. Menurut situs the Fed bahwa panjang draft pidato Yellen sampai 40 halaman yang mencakup 40 buah kutipan akademik, 34 catatan kaki (footnotes) dengan 9 buah grafik dan 1 lampiran.

Yellen dalam pidato yang bahannya sudah dipersiapkan sebelumnya memberikan penjelasan rinci tentang alasan penundaan kenaikan, ia memandang perlu untuk sebelumnya memberikan sinyal dan peringatan kepada pasar keuangan dunia bahwa peninjauan kenaikan suku bunga masih bisa dilakukan pada akhir tahun nanti. The Fed tidak akan tanpa batas mempertahankan suku bunga yang mendekati 0 % untuk menunda pelaksanaan kebijakan tentang pengetatan moneter.

Disebutkan juga setelah pasar tenaga kerja kian membaik dan tingkat inflasi kembali menyentuh 2 % maka kenaikan secara bertahap akan dilakukan dan diprediksikan bisa dimulai pada akhir tahun ini. The Fed hanya akan mengubah kebijakan moneter menjadi uang longgar yang terkontrol bilamana terjadi kejutan besar dalam pertumbuhan ekonomi.

Yellen mengatakan bahwa harga barang kebutuhan di AS yang belakangan ini melemah terpengaruh oleh kuatnya nilai dollar dan menurunnya harga minyak mentah. Faktor-faktor ini secara bertahap akan mereda sehingga memungkinkan tingkat inflasi AS dalam tahun-tahun mendatang kembali naik menjadi 2 %. Federal Open Market Committee (FOMC) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi AS cukup mampu membuat tingkat pengangguran AS menjadi 0% dan membuat inflasi berjalan stabil di tingkat yang terekspektasi.

“Untuk merealisasikan target tersebut, the Fed perlu sebelum tahun ini berakhir mulai menaikkan suku bunga lalu secara bertahap mengeterapkan kebijakan pengetatan” kata Yellen.

The Fed dalam beberapa bulan lalu terus mengingatkan adanya rencana untuk menaikkan suku bunga AS. Setelah pasar menduga-duga kenaikan bisa terjadi pada September, ternyata keputusan the Fed tidak demikian, sehingga timbul pertanyaan pasar apakah kebijakan the Fed itu dipengaruhi oleh situasi ekonomi dan keuangan baru-baru ini.

Dalam konperensi persnya pada 17 September 2015 silam Yellen mengatakan bahwa mengingat tingginya ketidakpastian internasional dan tingkat inflasi AS yang melemah, maka seluruh anggota dewan sepakat untuk menunggu waktu yang lebih tepat dengan bukti yang lebih banyak guna menunjang dilakukannya peninjauan kenaikan suku bunga.

Menghadapi sikap berhati-hati dewan dalam melakukan peninjauan suku bunga, para investor mengeluhkan soal informasi yang simpang siur sehingga memicu dugaan yang bermacam-macam. Bahkan ada yang memprediksikan bahwa the Fed bisa saja akan kembali mengubah jadwal kenaikan dari Desember ke Maret tahun depan. Menanggapi suara demikian, Yellen dalam konperensi pers itu mengatakan bahwa peninjauan masih mungkin dilakukan pada Oktober mendatang.

Wall Street Journal memberitakan, keputusan the Fed yang mengandung sifat ketidakpastian telah membawa dampak pada skala global. Indeks industry Dow Jones rata-rata pada pekan lalu telah anjlok sebanyak 3.2 % sejak diumumkannya keputusan.

Dampak dari keputusan the Fed menyebabkan Bank sentral dari beberapa negara beralih pada kebijakan moneter dengan suku bunga yang lebih lunak. Dalam pekan ini, Norwegia, Taiwan dan Ukraina telah menurunkan tingkat suku bunga mereka.

Ekonom J.P. Morgan David Hensley dalam pembicaraannya sebelum Yellen berpidato mengatakan bahwa kebanyakan Bank-Bank sentral terutama dari negara berkembang tidak berani untuk mengambil keputusan dan bertindak sendiri tanpa peduli terhadap kebijakan the Fed AS. Keputusan penundaan oleh the Fed mungkin secara tidak sengaja telah membukakan pintu kepada dunia keuangan untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif dalam batas waktu tertentu.

Pidato Yellen di Universitas Massachusetts pada hari Kamis itu menyampaikan sebuah pesan kepada dunia luar untuk tidak menunggu waktu terlalu lama dalam mengambil keputusan. “Pendekatan yang lebih bijaksana adalah suku bunga dinaikkan secara bertahap pada saat yang tepat dan harus sesuai dengan kebijakan berdasarkan data kebutuhan di masa mendatang”.

Pasar langsung bereaksi sebelum Yelen menyelesaikan pidatonya pada hari Kamis itu. Harga emas naik sebesar 1.8 % dalam 4 jam transaksinya hingga mencapai harga tertingginya USD. 1.156,8 per troy ounce. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular