Keterangan foto: Presiden Obama bersama Presiden Xi Jinping dalam konperensi pers bersama yang diadakan di taman bunga mawar dalam Gedung Putih pada 25 September. (Win McNamee/Getty Images)

Oleh: Liu Fang

Presiden AS Obama menerima kunjungan Presiden Tiongkok pada Jumat (25/9/2015) di Gedung Putih, dan menggelar konferensi pers bersama. Obama mengumumkan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk tidak melakukan kegiatan pencurian intelijen bisnis melalui jaringan internet. Saat ini, serangan terhadap jaringan milik swasta dan pemerintah AS yang didukung dan dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (KPK) sudah menjadi ancaman serius bagi hubungan bilateral kedua negara.

Washington Post memberitakan bahwa konsensus tersebut dicapai setelah Xi Jinping tiba di Washington DC dan melakukan pertemuan dengan Obama pada Kamis (24/9/2015).

Obama dalam konperensi pers hari Jumat itu menekankan, “Pertanyaannya sekarang adalah apakah komitmen tersebut mampu diimplemantasikan ?”

Sebelumnya, AS menuduh PKT telah mencuri hingga miliaran dollar kekayaan intelektual dan rahasia dagang milik perusahaan AS. Dan mengatakan akan menjatuhkan sanksi ekonomi kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok yang memperoleh keuntungan melalui kompetisi tidak jujur tersebut.

Terhadap tuduhan itu pihak PKT terus tidak mau mengakui. Xi Jinping dalam konperensi pers itu mengatakan, “Pemerintah Tiongkok sangat menentang dan menolak adanya pencurian rahasia dagang melalui jaringan internet dan semua jenis serangan hacker”.

Kedua kepala negara bersepakat untuk membentuk mekanisme dialog kelas tinggi untuk membasmi kejahatan siber. Bila salah satu pihak dituduh melakukan kejahatan itu, maka pejabat tinggi kedua negara berhak untuk melakukan penyidikan bersama demi pengungkapan. Selain itu, menyediakan sebuah hot-line guna membahas isu-isu yang muncul dalam proses.

Menteri Departemen Keamanan Nasional dan Menteri Departemen Kehakiman telah ditunjuk mewakili pemerintah AS untuk membentuk mekanisme dialog bersama pihak Tiongkok. Perjanjian juga mencakup pemberian sanksi kepada pihak yang melanggar ketentuan.

Obama mengatakan bahwa ia telah memberikan masukan kepada Xi Jinping agar menggunakan aparatur dari masing-masing negara untuk mencegah dan menghukum pelaku serangan siber. Sebagai contoh, tahun lalu AS mengeluarkan tuntutan pidana kepada 5 orang pejabat militer Tiongkok yang melakukan kegiatan spionase terhadap commercial cyber AS.

Spesialis jaringan dari CSIS (Center for Strategic and International Studies) AS, James Lewis mengatakan, “Masalah yang dihadapi sekarang adalah kita ingin memastikan apakah konsensus tersebut dapat diimplementasikan, serta bila mereka tidak dapat memenuhi komitmen itu, akibatnya mereka akan menerima konsekuensinya.”

Namun, kesepakatan tersebut tampaknya hanya menyentuh persoalan serangan siber terhadap dunia bisnis, tanpa melibatkan praktek spionase tradisional PKT di masa lalu, seperti contohnya yang baru terjadi yaitu pihak Tiongkok melalui jaringan sistem komputer mencuri lebih dari 22 juta data personil aktif dan non aktif pegawai pemerintahan Federal AS.

Menurut Obama, masih banyak aspek yang harus dilakukan dalam mencegah dan memerangi spionase cuber. AS di masa mendatang masih akan terus bekerjasama dengan Tiongkok dan negara lainnya untuk melindungi jaringan internet setiap negara agar beraktivitas sesuai dengan standar yang ditentukan asosiasi jaringan internasional. Ia juga menyebutkan bahwa AS masih akan terus menggunakan aparatur negara untuk melindungi kepentingan yang sah dari perusahaan dan warga AS.

Dalam urusan perubahan iklim global, Obama mengatakan bahwa AS telah memiliki ‘Clean Power Plan’ yang baru diumumkan bulan lalu. Program tersebut dimaksudkan untuk mencegah polusi udara yang diakibatkan oleh pelepasan emisi karbon dari industri dalam negeri AS.

“Hari ini saya ingin meminta kepada pihak Tiongkok untuk berupaya lebih keras dalam mengurangi pembuangan emisi karbon ke udara oleh para industri Tiongkok,” kata Obama.

Obama juga mengatakan bahwa AS tahun lalu telah berjanji untuk mengeluarkan dana sebesar USD. 3 miliar guna membantu negara-negara berkembang dalam menangani perubahan iklim global.

“Hari ini, saya menghimbau pihak Tiongkok juga bisa memberikan bantuan serupa kepada negara-negara yang ekonominya masih lemah,” pinta Obama.

Selain itu, Obama juga berharap Tiongkok mau mematuhi norma-norma internasional, bersedia memikul tanggung jawab dan kewajiban internasional. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular