Dikatakan, cuka telah ditemukan sekitar 5.000 SM, diawali dengan jus anggur yang tanpa sengaja berubah menjadi minuman wine (anggur) dan kemudian menjadi cuka. Awalnya cuka digunakan sebagai pengawet makanan, kemudian penggunaan cuka sebagai obat segera terungkap.

Hippocrates menggunakan cuka untuk menyembuhkan luka, sementara praktisi medis pada tahun 1700-an menggunakannya untuk mengobati segala kerunyaman akibat poison ivy dan batuk hingga sakit perut. Cuka bahkan juga digunakan untuk mengobati diabetes.

Vinegar (cuka) yang berarti “anggur asam” dalam bahasa Perancis, dapat dibuat dari hampir semua karbohidrat yang dapat difermentasi, termasuk anggur, kurma, kelapa, kentang, bit, dan tentu saja apel.

Secara tradisional, cuka dibuat melalui proses fermentasi yang lambat dan panjang, membuatnya kaya akan komponen bioaktif seperti asam asetat, asam galat, katechin, epicatechin, asam caffeic, dan banyak lagi. Cuka memberikan antioksidan kuat, antimikroba, dan banyak khasiat yang bermanfaat lainnya.

Sebagaimana dilaporkan dalam medscape kedokteran umum:

“Metode lambat umumnya digunakan untuk memproduksi cuka anggur tradisional, dan budidaya bakteri asam asetat tumbuh pada permukaan cairan, dan fermentasi memprosesnya secara perlahan selama beberapa minggu atau bulan.

Panjangnya masa fermentasi memungkinkan untuk mengakumulasi lendir tak beracun yang terdiri dari ragi dan bakteri asam asetat, yang dikenal sebagai induk (biang) cuka.

“Induk” cuka, sebuah substansi dasar mirip jaring laba-laba (seperti asam amino) ditemukan tanpa di diproses, cuka tanpa difilter, menunjukkan bahwa cuka tersebut adalah kualitas terbaik. Kebanyakan produsen mempasteurisasi dan menyaring cuka untuk mencegah pembentukan induk cuka, tapi jenis yang “keruh” adalah yang terbaik, terutama jika Anda berencana untuk mengonsumsinya.

Cuka tidak hanya berguna untuk memasak, ia juga berguna untuk tujuan kesehatan, pembersih, perawatan taman, higinis, dan banyak lagi. Bahkan, sebotol cuka menjadi salah satu solusi yang paling ekonomis dan serba guna diseputar rumah.

Menggunakan kesehatan untuk cuka sari buah apel

Secara internal tidak ada pedoman resmi mengenai dosis cuka. Beberapa orang mengonsumsi 1-2 sendok teh sehari, dicampur dengan segelas air, sebelum makan atau saat pagi hari, dan mereka telah melaporkan manfaatnya. Risiko mengonsumsi sejumlah kecil cuka adalah rendah, dan penelitian menunjukkan bahwa hal itu malah memiliki beberapa manfaat kesehatan yang nyata.

Diabetes

Cuka dikatakan anti-glisemik dan memiliki efek menguntungkan bagi kadar gula darah. Diperkirakan bahwa asam asetat dalam cuka dapat menurunkan gula darah dengan mencegah pencernaan yang lengkap dari karbohidrat kompleks, yang dilakukan baik dengan mempercepat pengosongan lambung atau meningkatkan penyerapan glukosa oleh jaringan tubuh.

Salah satu teorinya bahwa cuka mungkin menonaktifkan beberapa enzim pencernaan yang memecah karbohidrat menjadi gula, sehingga memperlambat konversi karbohidrat kompleks menjadi gula, dari makanan ke dalam aliran darah Anda.

Ini memberikan tubuh lebih banyak waktu untuk menarik gula dari darah, mencegah kadar gula abnormal. Ada sedikit penelitian yang mendukung penggunaan cuka sebagai pengobatan diabetes.

Dalam salah satu studi menemukan bahwa pengobatan cuka dapat meningkat sensitivitas insulin hingga 19 persen dari individu yang menderita diabetes tipe-2 dan meningkat 34 persen dari mereka yang mengalami pra-diabetes.

Namun penelitian lain menemukan, mengonsumsi dua sendok makan cuka sari apel sebelum tidur dapat menurunkan kadar gula darah hingga 6 persen bagi penderita diabetes tipe-2, saat pagi harinya.

Kesehatan jantung

Cuka mendukung kesehatan jantung dalam beberapa cara. Sebagaimana dijelaskan dalam Journal of Food Science:

“Polifenol seperti asam chlorogenic, yang terkandung dalam kadar tinggi dalam cuka sari apel, bisa menghambat oksidasi LDL dan meningkatkan kesehatan dengan mencegah penyakit kardiovaskular.”

Sementara studi lainnya menunjukkan bahwa cuka bisa menurunkan kolesterol pada tikus laboratorium, sementara penelitian lain pada tikus menemukan bahwa tekanan darah mereka bisa diturunkan oleh asam asetat dalam cuka.

Cuka juga telah ditemukan untuk mengurangi tingkat trigliserida dan tingkat VLDL (bentuk merusak kolesterol) pada hewan percobaan.

Berat badan

Cuka dapat membantu menurunkan berat badan, karena memiliki efek anti-obesitas dengan meningkatkan rasa kenyang dan mengurangi jumlah total makanan yang dikonsumsi.

Misalnya, ketika relawan mengonsumsi sejumlah kecil cuka bersama dengan makanan tinggi karbohidrat (roti dan jus), mereka akan mengonsumsi lebih sedikit makanan untuk sisa hari. Pengurangan disamakan dengan sekitar 200-275 kalori per hari – jumlah yang akan berakibat pada penurunan berat badan bulanan hingga lebih dari setengah kilogram.

Selain itu, penelitian terpisah yang ditemukan saat mengonsumsi cuka bersama dengan roti tidak hanya respon yang menurunkan glukosa dan insulin, tetapi juga meningkatkan rasa kenyang. Rating rasa kenyang berhubungan langsung dengan tingkat asam asetat dalam cuka.

Sinus tersumbat

Cuka sari apel dapat membantu memecah dan mengurangi lendir di dalam tubuh, membantu untuk membersihkan sinus. Ia juga memiliki sifat antibakteri, sehingga berguna untuk infeksi.

Sakit tenggorokan

Sifat antibakteri dalam cuka sari apel mungkin berguna bagi penderita sakit tenggorokan. Berkumur dengan campuran sepertiga cangkir cuka sari apel yang dicampur dengan air hangat.

Pencernaan dan asam refluks

Asam refluks biasanya timbul dari asam yang terlalu sedikit di dalam perut. Anda dapat dengan mudah meningkatkan kadar asam lambung dengan mengonsum-si satu sendok makan cuka sari apel yang tanpa difilter dalam segelas besar air setiap hari. Kandungan pektin dalam cuka sari apel juga dapat membantu untuk menenangkan kejang usus. (Ajg/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular