Setiap tahun, orang-orang di seluruh dunia, turut merayakan Paskah. Seperti kebanyakan hari besar lainnya, pasti memiliki berbagai hidangan simbolik dan perjamuan besar dalam komunitas masyarakat. Dan ini selalu berakhir dengan pertanyaan sebagian besar kerabat, “Mengapa kita makan begitu banyak?” Segera diikuti oleh kalimat ratapan, “Saya tidak dapat mengontrol diri terhadap makanan!”

Ini adalah perasaan yang saling berkaitan. Kita semua memiliki pengalaman dengan makan berlebihan di beberapa titik dalam hidup kita. Namun kegagalan dalam kontrol diri ini disebabkan tidak memiliki “cukup” pengendalian diri, atau bisa jadi ada faktor lain seperti kepercayaan dan pola pikir.

Pengendalian diri bersifat tidak tetap

Banyak orang berpandangan bahwa pengendalian diri adalah kualitas yang tetap stabil di sepanjang hidup seseorang, mirip dengan IQ (kecerdasan intelektual) atau kepribadian. Penelitian dalam psikologi juga umumnya mendukung pandangan ini.

Sebagai contoh, sebuah percobaan yang terkenal menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menahan diri untuk tidak makan marshmallow untuk jangka waktu 15 menit – 1 jam akan mendapatkan dua marshmallow, kemudian dilanjutkan untuk berbuat baik di sekolah dan dalam kehidupan sosial mereka, 10 tahun kemudian mereka dibandingkan dengan anak-anak yang tidak dapat menahan godaan.

Namun, setelah diamati lebih dekat ide pengendalian diri sebagai sifat tetap mulai tergoyahkan. Tingkat kontrol diri seseorang cenderung makin bertambah atau berkurang selama sehari. Jadi pengendalian diri mirip kapasitas mental seperti kecerdasan, lebih seperti sumber daya berfluktuasi seperti energi fisik.

Mengapa kita terkadang gagal mengendalikan diri?

Mengingat kontrol diri itu bersifat fluktuasi, maka pertanyaan tentang kegagalan bukanlah tentang siapa yang baik atau buruk pada hal pengendalian diri. Melainkan justru tentang kapan atau di mana kondisi kontrol diri lebih atau kurang berhasil.

Kita tahu, misalnya faktor-faktor seperti suasana hati yang negatif, kelelahan, dan alkohol memainkan peranan besar dalam kegagalan pengendalian diri. Jadi saya sering memberitahu keluarga saya bahwa empat gelas anggur yang kita minum selama jamuan Paskah berkontribusi setidaknya sebesar kerakusan kita daripada aspek kelemahan tekad.

Upaya sebelumnya merupakan salah satu faktor yang diteliti, terutama faktor yang menurunkan pengendalian diri. Semuanya setara, upaya pengendalian diri kedua terjadi setelah pada awalnya mungkin mengalami kegagalan, muncul setelah periode yang relatif tenang ketika tidak berupaya mengendalikan diri? Hal ini berlaku bahkan jika pengendalian diri diarahkan pada perilaku yang berbeda. Efek pengurangan upaya pengendalian diri seseorang pada orang lain begitu umum, yang disebut dengan “pengikisan ego”, dan kini telah ditemukan di lebih dari 100 studi.

Pada pengikisan simpanan ego, kerabat saya yang menghabiskan sebagian besar malam perayaan tersebut dengan mengencangkan ikat pinggang untuk menghindari kebangkitan kembali argumen lama akibat makan berlebihan.

Pada kenyataannya, para peneliti yang melakukan percobaan marshmallow klasik menafsirkan temuan mereka dalam hal strategi belajar, lebih dikarenakan oleh kemampuan bawaan. Hal ini menunjukkan bahwa alasan anak-anak yang menolak marshmallow untuk mendapatkan yang lebih baik di kemudian hari adalah karena mereka telah diajarkan kapan dan bagaimana meng¬gunakan teknik kontrol diri yang efektif.

Dapatkah memperkuat kontrol diri?

Akhir-akhir ini para profesor psikologi sudah mulai mencari hal-hal apa yang dapat meningkatkan kontrol diri berkaitan dengan makan berlebihan dan perilaku kejahatan.

Suasana hati yang negatif dapat mengurangi pengendalian diri, begitu sebaliknya suasana hati yang positif dapat meningkatkan. Begitu awalnya mengerahkan pengendalian diri, maka selanjutnya akan mengurangi kemampuan dalam pengendalian, kegiatan restoratif seperti doa, meditasi, dan penegasan diri yang akan menguatkannya.

Seperti dengan banyak konsep psikologis lainnya, kontrol diri juga sangat tergantung pada keyakinan kita terhadap diri sendiri. Misalnya, orang yang dituntun untuk percaya bahwa mereka cukup memiliki energi meskipun mereka baru saja melewati tugas pengendalian diri sulit yang telah menyebabkan “pengikisan ego”, masih dapat melakukan tugas pengendalian diri berikutnya.

Demikian pula, orang yang percaya bahwa pengendalian diri tidak terbatas daripada yang terbatas, tidak sesuai dengan pola pengikisan ego. Implikasi untuk makan berlebihan adalah pengendalian diri di seputar makanan mungkin sesuai ramalan: tingkat kontrol diri Anda “sebenarnya” jauh lebih penting dalam menentukan keberhasilan Anda dibanding seberapa banyak kontrol diri yang Anda memiliki atau seberapa efektif Anda percaya diri un¬tuk menggunakannya.

Sebuah revisi pemahaman kontrol diri

Pemberitahuan saya pada titik ini adalah pengendalian diri memang sebuah sumber daya, namun suatu psikologis yang terbarukan. Kita telah lama mengenal bahwa tujuan yang termotivasi dari dalam alasan yang pribadi penting bagi kami lebih mungkin untuk berhasil daripada mereka yang termotivasi dari luar.

Aturan yang luas ini tampaknya berlaku untuk pengendalian diri secara khusus dalam kasus keinginan untuk mengonsumsi makanan yang tidak sehat dan kegemaran lainnya. Godaan yang ingin kita atasi memang lebih mudah untuk diatasi daripada merasa kita harus mengatasinya.

Berhasil dalam pengendalian diri adalah tentang keinginan daripada kemampuan untuk melakukannya. Dalam perjamuan, kita tahu bagaimana untuk berhenti makan dalam arti harfiah; kita hanya tidak tahu bagaimana untuk berpikir tentang makan berlebihan dengan cara yang memotivasi kita untuk berhenti. Mungkin dengan ilmu masa depan akan memiliki lebih banyak cara untuk kita mewujudkannya. (Elliot Berkman/Ajg/Yant)

Share

Video Popular