- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Kisah Dua Jenderal, Sebuah Ramalan dan Pencarian

Strategi Sun Zi yang yang tercurah dalam kitab “Seni Berperang” tak lekang oleh waktu , telah membimbing pemikiran banyak orang, mulai dari jenderal hingga CEO perusahaan, dan juga telah menyelamatkan keturunan Sun sendiri di Tiongkok, serta Sun Bin sendiri dari mara bahaya dan pengkhianatan.

Namun ajaran buku kebijaksanaan, ketulusan, kebajikan, keberanian, dan ketegasan yang membimbing pemuda Sun Bin (hidup pada Periode Negara Berperang, sekitar 481 SM – 403 SM) melalui hari-harinya yang paling gelap atas pengkhianatan dan penghinaan Pang Juan, mantan saudara angkatnya.

Satu guru, dua murid

Sejak dari usia muda, baik Sun dan Pang sama-sama belajar pada seorang pertapa Tao bernama Guiguzi, di lembah Tiongkok timur. Master khusus ini tidak hanya ahli dalam strategi tetapi juga dalam membaca nasib, debat, dan kultivasi pribadi.

Dia memiliki nubuat tentang kedua muridnya: Pang, berjiwa ambisius, perlu untuk setia kepada Sun, dan jika ia gagal dalam hal ini, ia akan bertemu ajalnya oleh seribu panah.

Pang kemudian pergi untuk mengabdi kepada kerajaan kuat Wei, dan berhasil menjadi seorang jenderal yang tak tertandingi. Namun dia lupa atas nubuat Guiguzi ini.

Sun Bin belajar kitab klasik rahasia

Sementara Pang Juan berhasil mendapatkan ketenaran dan kemuliaan di luar sana, Sun Bin masih tetap tinggal bersama Gurunya di lembah terpencil. Tak lama kemudian Guiguzi mengungkapkan bahwa dia adalah pemilik “Seni Berperang”, yang terdiri dari 13 bagian pedoman strategi militer yang telah ditulis lebih dari seratus tahun yang lalu oleh nenek moyangnya Sun Zi. Teks ini pernah hilang, akan tetapi pertapa tua itu berhasil membuat salinannya.

Siapa pun yang menguasai ajaran yang ada di dalam “Seni Berperang”, kata Guiguzi, akan memiliki kemampuan untuk menguasai seluruh dunia tanpa tertandingi. Guiguzi memutuskan, Pang Juan tidak memiliki karakter yang sesuai dengan pengetahuan tersebut, namun itu akan aman di tangan Sun Bin. Dalam waktu tiga hari, Sun telah mempelajari teks tersebut dengan sepenuh hati.

Ketika Sun Bin pergi bergabung dengan Pang Juan di Kerajaan Wei, Guiguzi memperingatkan ia bahwa suatu hari ia akan mencapai kebesaran, tetapi hanya dalam pelayanan di tanah kelahirannya, Kerajaan Qi.

Sebuah hati yang kelam

Tidak lama setelah Sun Bin tiba di Kerajaan Wei, Pang Juan mulai mengerjai dirinya. Pang menginginkan pelajaran rahasia Sun yang diajarkan oleh gurunya saat Pang tidak ada. Pang bersekongkol memutilasi lutut Sun Bin dan menato wajahnya, yang menandainya sebagai pengkhianat dan mezmasuk dalam perlindungan Pang Juan.

Pada awalnya, Sun Bin berpikir bahwa Pang telah menyelamatkan nyawanya, Sun mulai menulis buku “Seni Perang” untuk membalas budi. Akan tetapi karena intervensi seorang hamba simpatik yang tepat waktu, Sun baru menyadari rencana jahat dari saudara angkatnya. Jadi dia berpura-pura menjadi gila, dan membakar teks yang telah dibuatnya, lalu Sun diam-diam melarikan diri ke Kerajaan Qi, di mana ia mulai memenuhi nubuat sang guru Guiguzi ini.

Kembalinya seorang ahli strategis

Tidak menyadari pelarian Sun Bin, Pang Juan terus meraih kemenangan untuk kerajaannya. Akhirnya kedua mantan saudara ini bertemu dalam pertempuran, dan Pang berhasil dikalahkan untuk pertama kalinya. Tidak lama setelah itu, mereka memiliki pertemuan kedua, di mana nubuat Guiguzi telah terbukti.

Saat melintasi Maling pada malam sebelum pertempuran, Pang menemukan bahwa pohon-pohon telah ditebang untuk memperlambat jalannya; ia membesarkan hati atas teror yang dilakukan musuhnya. Namun satu pohon tetap berdiri, kulitnya dilucuti. Terukir ada delapan aksara Tionghoa, yang masih terbaca dalam kegelapan. Jadi Pang menyalakan obor, dan tertulis: “Pang Juan akan bertemu kematian di bawah pohon ini”.

Saat itu, 10.000 pemanah dari tentara Sun Bin, bersembunyi di bukit, dan mulai melepaskan anak panah mereka dari segala arah. Kata-kata yang sulit dipahami tersebut, mengingatkan Pang akan sumpah yang dilanggarnya, yang sekarang menjadi kenyataan.

Begitu Pang terbaring sekarat, Sun Bin mendekatinya, ia mendengar serapah Pang yang mengutuk dirinya sendiri karena tidak membunuh Sun sebelumnya. Sebelum Sun balas berbicara, Pang Juan sudah menarik pedangnya dan bunuh diri.

Kemenangan rendah hati

“Seni Berperang” menyajikan perang sebagai kejahatan yang diperlukan yang harus ditangani pembedahannya dan dilakukan sebagai tegas mungkin. Sun Zi mengajarkan efisiensi pengendalian diri, terlepas dari keberhasilan dan kemunduran sementara. Dengan cara ini, para komandan terbaik dapat menyelesaikan konflik mudah.

“Karena kemenangannya tidak membawakan dia reputasi atas kebijaksanaan atau pujian atas keberanian. Dia memenangkan pertempuran dengan membuatnya tidak terdapat kesalahan,” tulis Sun Zi.

Pang Juan, selain mengkhianati rekan seperguruannya dan mengabaikan pesan gurunya, ia sangat terikat pada kemuliaan dan keberuntungan yang menjadikannya seorang jenderal. Dia suka berprasangka buruk dan paranoid, yang menyebabkannya menjatuhkan Sun Bin, setelah bersumpah saudara, malah menjadi musuh yang mematikan.

Sebagai “Seni Perang” akan membabarkan kedua murid tersebut, “Demikianlah bahwa ahli strategi perang hanya hanya mencari pertempuran setelah kemenangan telah diraih, sedangkan ia ditakdirkan untuk mengalahkan pertempuran pertama, dan sesudahnya mencari kemenangan”.

Meskipun semua perbuatan jahat Pang telah dilakukan terhadap Sun Bin, namun Sun tidak menaruh dendam. Ada pun Sun Bin sendiri, hanya mengikuti jejak leluhurnya. Setelah memercayakan “Seni Perang” kepada pihak berwenang Kerajaan Qi, Sun kembali ke padang gurun dan tinggal di pengasingan. (Prm)