Keterangan foto: Presiden Obama melakukan pidato di Majelis Umum PBB pada 28 September, mengkritik Rusia, Tiongkok dan Iran. (Don Emmert/AFP)

Oleh Qin Yufei

Pidato Presiden Obama di Majelis Umum PBB pada Senin (28/9/2015) bernada cukup keras. Ia mengkritik Rusia, Tiongkok dan Iran yang justru melakukan tindakan yang mengancam stabilisasi di antara berbagai konflik dunia.

ABC News melaporkan, Obama membuka pidato dengan langsung mengutuk, negara yang berusaha untuk memaksakan kehendaknya diterima oleh negara yang lebih lemah.

Ia kemudian menyinggung soal dukungan Rusia kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad. Paginya, pidato Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyerukan kepada pemerintah Suriah untuk menyerahkan kasusnya kepada Mahkamah Pidana Internasional.

Putin juga melakukan pidato setelah Obama. Senin sorenya mereka juga direncanakan untuk bertemu dalam pembahasan masalah keterlibatan Rusia dalam konflik di Ukraina dan Suriah.

Dalam sebuah fragmen wawancara yang dirilis oleh media Rusia, Putin menjelaskan bahwa Rusia pada akhir-akhir ini memberikan dukungan yang besar kepada pemerintah Assad, sebagai upaya untuk memerangi teroris ISIS.

Obama kemudian meminta Rusia untuk meredakan ketegangan konflik di Ukraina, mengatakan bahwa “dunia tidak bisa berpangku tangan.” Menyaksikan Rusia yang berusaha untuk memberikan pengaruh pada negara-negara berdaulat lainnya.

Sementara itu, Obama juga mengkritik Tiongkok melakukan kegiatan reklamasi pulau di Laut Selatan. Amerika Serikat tidak mengklaim kedaulatan atas wilayah di sana.

“Tetapi seperti keinginan setiap negara yang saat ini berkumpul dalam ruang ini, bahwa kita wajib untuk menjaga prinsip-prinsip dasar kebebasan navigasi dan menjamin aliran bebas dari kepentingan perdagangan,” kata Obama.

Meskipun kesepakatan baru berhasil mengekang program nuklir Iran, namun Obama daalam kritikannya menyebutkan bahwa negara tersebut masih terus menggunakan ‘Agen-Agen Kekerasan’ dalam memprioritaskan kepentingannya di Timur Tengah.

“Upaya (Iran) yang dilakukan dalam sengketa dengan negara-negara tetangga tampaknya lebih memberikan manfaat kepada Iran. Tetapi konflik antar sektarian yang memburuk justru menambah ancaman bagi seluruh wilayah,” tambah Obama.

Menurutnya rakyat Iran memiliki sejarah yang membanggakan karena mereka memiliki potensi kemampuan yang luar biasa. Namun teriakan “Matilah Amerika” tidak akan menciptakan lapangan kerja atau untuk membuat Iran menjadi lebih aman.

Obama menyebutkan bahwa keterlibatan dalam perang di Irak dan Libya merupakan pelajaran berharga, tetapi pada saat yang sama ia mempertahankan penggunaan tindakan militer dalam menghadapi Islamic State.

Ia kemudian mengisyaratkan bahwa Iran dan Rusia bisa bekerjasama untuk memulihkan perdamaian di Suriah, tetapi itu hanya bisa dilakukan bila kedua negara itu mendukung digulingkannya pemerintahan Assad.

“Assad bersama sekutunya tidak akan semudah itu untuk menenangkan mayoritas penduduk yang menjadi korban senjata kimia dan pengeboman yang menghancurkan mereka”.

“Kenyataannya kompromi memang diperlukan, dan pertempuran akhirnya akan berhasil memberantas ISIS, tetapi kenyataannya juga memerlukan Assad untuk secara tertib menyerahkan kekuasaannya kepada pemimpin baru,” jelas Obama .

Obama memuji perbaikan hubungan Kuba- AS dan berjanji untuk membebaskan embargo kepada Kuba.

AS memiliki militer yang paling kuat di dunia

Washington Post melaporkan, Obama dalam pidatonya di Dewan PBB menggambarkan AS sebagai negara yang membela tatanan global dan mengatakan bahwa era kediktatoran sudah berakhir.

Dalam pidatonya Obama mengatakan pemerintahannya bisa menerima kenyataan bahwa AS perlu bekerjasama dengan negara-negara dunia, meskipun beberapa negara sering melanggar norma-norma internasional atau melakukan pelanggaran HAM.

Amerika akan terus mempertahankan norma-norma dasar perilaku internasional. Kepada masyarakat dunia Obama menekankan, “Saya memimpin tentara yang paling kuat di dunia. Di saat yang diperlukan, saya tidak akan pernah ragu untuk menggunakan kekuatan militer sepihak dalam upaya melindungi negara saya dan para sekutu AS.”

Ia menyebutkan bahwa sanksi ekonomi terhadap Rusia adalah untuk menjaga ketertiban dunia, bukan dimaksudkan untuk menghukum Moskow atau memprovokasi ketegangan antara dua rival yang pernah terlibat dalam Perang Dingin.

Tren kejatuhan diktator sulit dibendung

Dalam konteks yang lebih luas, Obama menyebutkan bahwa era kediktatoran sudah berakhir, tetapi ia juga mengakui, ketika diktator negara itu jatuh, Amerika beserta para pemimpin dunia lainnya harus memastikan bahwa negara yang bersangkutan tidak terjatuh ke dalam kekacauan.

Ia mengakui, setelah Muammar al-Qaddafi jatuh, koalisi pimpinan AS seharusnya berbuat lebih banyak untuk menjaga ketertiban di Libya. Dia mengatakan bahwa setelah penggulingan terhadap rezim Assad yang tak terelakan itu terjadi, dunia memiliki tanggung jawab untuk membantu membangun kembali Suriah.

Obama mengatakan bahwa kejatuhan diktator di dunia sudah merupakan tren yang sulit untuk dibendung.

“Diktator tidak menjamin stabilitas. Orang kuat hari ini justru menjadi sasaran revolusi di hari esok. Meskipun Anda berhasil untuk memenjarakan tubuh lawan Anda, tetapi Anda tidak akan berhasil untuk memenjarakan pikirannya. Anda juga tidak mungkin bisa mengubah kebohongan menjadi kenyataan. Bukan program yang didukung oleh AS yang berhasil mengungkap kejahatan korupsi, meningkatkan harapan rakyat dunia, tetapi kemajuan teknologi, media sosial dan perkembangan dari aspirasi rakyat seluruh dunia yang tidak mungkin bisa dibendung itu yang membuat mereka memilih pemerintahan yang terbaik bagi negara mereka sendiri,” pungkas Obama. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular