Keterangan gambar: Setelah serangkaian kasus pembunuhan, warga desa Nanping yang ketakutan terpaksa angkat kaki meninggalkan kampung halaman mereka untuk berlindung di tempat yang lebih aman. (Greg Baker/AFP)

Oleh Qin Yufei

Sepotong kawat berduri yang panjangnya 3 meter dan bengawan Tumen yang berliku-liku merupakan batas yang memisahkan wilayah antara Tiongkok (desa Nanping) dengan Korea Utara. Setelah serangkaian kasus pembunuhan, warga desa Nanping yang ketakutan terpaksa angkat kaki meninggalkan kampung halaman mereka untuk berlindung di tempat yang lebih aman. Warga desa sudah beranggapan bahwa bengawan dan pembatas wilayah sudah tidak cukup kuat untuk memberikan perlindungi bagi kehidupan mereka.

AFP pada Senin (28/9/2015) memberitakan bahwa dalam satu tahun terakhir sedikitnya 10 orang warga desa Nanping telah dibunuh oleh orang (kebanyakan adalah anggota tentara) Korea Utara. Menurut berita yang dirilis pemerintah serta media Tiongkok bahwa mereka itu dibunuh oleh orang-orang Korea Utara yang datang melakukan penjarahan.

Ketahanan pangan merupakan masalah dalam negeri Korea Utara yang belum mampu diatasi selama bertahun-tahun. Hal ini menyebabkan warga Korea yang frustasi nekad untuk berbuat kejahatan dengan cara menjarah warga desa seberang (Tiongkok) yang dianggap kaya.

Nanping menjadi desa hantu

Sensus penduduk resmi mencatat bahwa jumlah total penduduk desa Nanping ada sekitar 6.000 jiwa, tetapi desa tersebut kini sudah tergolong desa hantu akibat rumah-rumah sudah tak berpenghuni, kaca jendela pecah berserakan di tanah, reruntuhan dinding terlihat di mana-mana dan sudah dipenuhi oleh rumput-rumput liar.

Laporan menyebutkan bahwa penduduk desa ini termasuk keturunan Korea (Utara), karena generasi muda warga desa Nanping ini menguasai lebih dari satu bahasa, maka mereka memiliki kesempatan lebih banyak untuk mencari nafkah di tanah rantau, dan mereka ini sekarang sudah banyak yang bekerja di perusahaan-perusahaan Korea (Selatan).

Dengan demikian, warga yang tinggal di desa semakin sedikit dan berusia lanjut, dan sekelompok kecil kontingen militer yang memang sejak lama ditempatkan di sana. Seorang warga bernama Wu Shigen yang kini berusia 30 tahun lebih, dikukuhkan sebagai Sekretaris PKT (Partai Komunis Tiongkok) Komisi Desa Nanping karena tak ada pilihan lain, ia adalah warga termuda di desa itu sekarang.

Dia memiliki 2 cara untuk menjaga keselamatan warga, yakni memberlakukan jam malam sukarela dan atau pemblokiran informasi.

“Saya memberitahu semua warga desa untuk tidak keluar rumah di waktu malam agar keselamatan pribadi lebih terjamin,” katanya.

Meskipun pada kenyataannya, mayoritas dari warga yang tewas tu dibunuh oleh penjahat di dalam rumah mereka.

“Karena tidak ada satupun saksi mata, sehingga tidak banyak yang bisa saya laporkan kepada warga desa. Namun, makin sedikit yang mereka tahu makin baik, karena ini bisa mengurangi rasa ketakutan,” tambahnya.

Kamera sirkuit untuk memantau situasi perbatasan sudah dipasang oleh pemerintah, melalui sirkuit itu dua jalanan yang searah dengan garis perbatasan bisa terlihat. Selain itu, pemeruntah Tiongkok di awal tahun ini juga pernah berjanji akan mendirikan unit Pertahanan Sipil yang berfungsi membantu menjaga keselamatan warga desa di sini.

Namun, sampai sekarang belum terwujud. Dan akibat beberapa kasus kekeraasan yang timbul di bulan-bulan terakhir ini, para pemilik toko dan warga lansia makin ketakutan sehingga ikut rombongan pengungsi meninggalkan desa.

Warga Tiongkok dibunuh oleh orang Korea Utara

Menurut pihak berwenang setempat dan media resmi Tiongkok bahwa pada April tahun ini, 3 orang warga desa Nanping tewas akibat dibunuh oleh 3 orang anggota tentara Korea Utara yang masuk desa untuk menjarah.

Pada Desember tahun lalu, seorang anggota tentara Korea Utara membunuh sepasang warga desa tua di Nanping hanya untuk menjarah beberapa makanan dan uang tunai 100 Yuan.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Tiongkok Hong Lei mengatakan bahwa pemerintah Tiongkok telah mengajukan tuntutan kepada pihak Pyongyang untuk meminta pertanggungjawaban dari kejadian itu.

Namun, statement dari kedua negara hanya sampai pada dipandang sebagai masalah yang sangat serius.

Menurut media resmi Tiongkok bahwa tiga bulan sebelumnya seorang warga Korea Utara yang masuk desa untuk melakukan penjarahan dan membunuh 3 orang warga desa telah berhasil dibekuk.

Analis mengatakan bahwa berbagai kasus kejahatan oleh pelakunya warga Korea Utara di wilayah Tiongkok menjadi lebih gencar dipublikasikan pihak Beijing, mungkin menunjukkan bahwa Beijing sudah semakin frustasi menghadapi Pyongyang.

Kedua negara berideologi komunis ini sudah lama bersahabat. Saking dekatnya, Beijing sampai mengirim jutaan sukarelawan menyeberangi sungai Yalu untuk membantu Korea Utara berperang di Semenanjung Korea. Sampai sekarang Tiongkok masih merupakan pemberi bantuan utama bagi Korea Utara. Tetapi di sisi lain, Beijing juga punya kekhawatiran terhadap stabilitas di Korea Utara yang mungkin bisa berpengaruh kepada mereka. Meskipun Pemimpin Besar Korea Utara Kim Jong-un sampai saat ini masih belum berniat untuk berkunjung ke Beijing. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular