Zaman dahulu kala di sebuah kota kecil di Persia, ada seorang pemuda lajang yang menjual roti, bila ada waktu luang selalu dipergunakan untuk bermain seruling kesayangannya. Selama mendapatkan uang yang cukup untuk makan dan kebutuhan hidup sehari-hari, pemuda setelah pulang akan bersantai dan meniup seruling. Suara tiupan serulingnya sangat merdu, semua tetangganya senang mendengar suara serulingnya. Dia benar-benar menikmati hidupnya, dan juga bisa menghibur tetangganya. Jadi, setelah beberapa tahun, banyak orang mengagumi dia.

Diseberang rumah pemuda ini, tinggal seorang kaya. Orang tersebut walaupun kaya raya, tetapi sepanjang hari sangat tertekan, melihat pemuda penjual roti yang setiap hari hidup dengan bahagia dan gembira, hatinya timbul rasa iri hati.

Suatu hari orang kaya itu mengatakan kepada penjual roti: “Dik, menjual roti harus bekerja keras, mengapa tidak mengubah profesi yang lain?” Penjual roti mengatakan: “Saya sangat senang menjual roti, mengapa harus mengganti profesi lain?” Orang kaya berkata: “Jual roti walaupun baik, tetapi penghasilanmu sangat kecil, jika kamu sakit, atau tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga, kamu harus bergantung pada apa untuk menjalani hidup ini?” Penjual roti termenung sejenak lalu mengatakan:” Lalu saya harus bagaimana? Tolong Anda jelaskan. “

Orang kaya berkata: “Saya akan memberikan uang banyak kepadamu. Saya pastikan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan hidupmu sehari-hari, dan jika kamu sakit atau terjadi sesuatu, masih ada uang cadangan, dibandingkan dengan penghasilanmu menjual roti, lebih banyak lagi.” Pada awalnya ia tidak setuju, tetapi orang kaya tersebut bersikeras meminjamkan kepadanya, akhirnya dia setuju menerima.

Setelah orang kaya tersebut memberikan uang yang dijanjikan kepada penjual roti, segera para tetangganya tidak pernah lagi mendengar suara seruling lagi, dan hanya bisa mendengar bunyi suara sempoa (kalkulator jaman kuno), rupanya sang pemuda pikirannya jadi keterikatan terus dengan uang tersebut dan takut hidup kekurangan, sehingga para tetangga merasa kehilangan.

Setelah setengah bulan kemudian, penjual roti merasa tubuhnya sangat tidak nyaman, dan hatinya juga sangat tidak bahagia. Dia segera memahaminya: Ini semua gara-gara uang, dia sangat menyesal! Oleh sebab itu, dengan cepat dia mengumpulkan semua sisa uang di rumahnya, mengembalikan kepada orang kaya, dan mulai menjual roti lagi, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga sebagian kini ia tabung untuk “hari hujan”.

Keesokkan harinya, suara serulingnya mulai berbunyi, semua tetangganya sangat gembira. Penjual roti menghibur dirinya sendiri juga menghibur para tetangganya, dia mulai lagi hidup dengan gembira dan bahagia.

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular