Li Yuan Wai berasal dari Shandong, kaya, dermawan, berbudi luhur, dan murah hati. Di kota mereka ada seorang pengusaha yang bernama Hu Se, Hu dalam menjalankan bisnis selalu kekurangan modal, sering meminjam kepada Li Yuan Wai, selama bertahun-tahun selalu meminjam dan mengembalikan, hubungan mereka berdua cukup harmonis.

Pada satu tahun, Hu meminjam seratus ribu yuan kepada Li Yuan Wai, karena bisnisnya rugi, hutang yang seratus ribu pada tahun ini dia tidak mampu membayar, timbul niat untuk menyangkal hutangnya. Pada tahun baru, Hu pergi bermain ke rumah Li Yuan Wai, Li mengambil keluar buku-buku catatan piutangnya, mengatakan kepada Hu: “Hu, musim semi tahun ini Anda meminjam seratus ribu.”

Hu segera berkata: “Yuan Wai, Anda tidak salah, tahun ini saya tidak meminjam uang” Siapa tahu Yuan Wai mengatakan : “Mungkin saya yang salah,” sambil berkata sambil mencoret surat hutang Hu, Li Yuan Wai dengan mimik wajah tenang, dan sambil tersenyum berkata. Meskipun hal tersebut telah berlalu, tapi jauh di dalam hati nurani Hu tetap tak tenang.

Pada musim semi berikutnya di suatu malam, Li Yuan Wai bermimpi Hu dengan wajah sangat memalukan berdiri dihadapannya berkata :”Li Yuan Wai, saya hari ini datang membayar hutang saya.” Li Yuan Wai setelah bangun dalam hati bertanya-tanya, tapi tidak mengerti arti mimpinya, dia melanjutkan tidur, dan mimpi aneh ini bahkan terulang tiga kali, Li Yuan Wai tidak bisa tidur lagi, di depan matanya berulang kali muncul wajah Hu.

Ketika Li dalam keadaan bingung, pembantunya datang mengetuk pintu kamarnya dengan senang mengatakan: ” Tuan, keledai kita melahirkan seekor keledai tapi bayi keledainya gendut, sangat lucu,” Li Yuanwai segera tahu dan dia sangat terkejut kenapa dia bisa bermimpi, dengan tergesa-gesa mengatakan kepada pelayannya: “Cepat! Pergi bunuh anak keledai tersebut!”

Pelayan tersebut tertegun, dalam hati berpikir kenapa majikannya melakukan hal tersebut?, Li Yuan Wai melihat pelayannya tertegung berdiri diam disana, dengan keras berkata: “Apakah engkau mendengar perkataanku, cepat pergi bunuh keledai kecil tersebut, cepat! cepat !” Pelayan melihat desakan majikannya, lalu mengambil sebuah selimut besar, sesuai dengan perintah majikannya menutup kepala anak keledai, nafas anak keledai yang baru lahir segera putus.

Pada malam hari yang sama, Hu ternyata mengalami kecelakaan parah, luka di kepala dan koma, buru-buru dibawa keluarganya ke rumah sakit, denyut nadi sudah dikatakan dokter tidak ada, tapi tidak lama kemudian, berdenyut lagi, Hu memahami dirinya reinskarnasi menjadi keledai, dan lebih merasa bersyukur kepada Li Yuan Wai yang menyelamatkan nyawanya, setelah ia keluar dari rumah sakit, dia segera menjual asetnya untuk membayar hutang kepada Li Yuan Wai.

Beberapa hari kemudian, Hu membawa seratus ribu ke rumah Li Yuan Wai membayar hutang, tetapi Li tidak mau menerima, mengatakan tahun lalu dia hanya bercanda tentang hutangnya, Tetapi Hu mendesak harus membayar, Li tetap tidak mau menerima, setelah menghadapi jalan buntu untuk waktu yang lama, Hu mengatakan: “.Jika Anda tidak mau menerima saya akan melaporkan hal ini ke hakim”

Akhirnya, Hu melaporkan kasus ini ke hakim, hakim merasa ini adalah kasus aneh, meminta penjelasannya, Hu menceritakan kepada hakim ceritanya. Hakim mencoba menyuruh polisi membujuk Li Yuan Wai menerima uang tersebut, tetapi Li Yuan Wai bersikeras bahwa Hu tidak meminjam uangnya, tidak akan menerima uang tersebut.

Akhirnya, hakim berkata: “Jika Anda tidak mau menerima juga bisa, tetapi engkau harus setuju dengan syarat saya yaitu engkau harus memberikan kepada saya 100 ribu lagi.” Li Yuan Wai langsung setuju.

Akhirnya hakim secara terbuka mengumumkan: Hu membayar seratus ribu, tetapi Li mengatakan tidak meminjam uang kepada Hu, bertekad tidak menerima, sedangkan Hu bertekad membayar, mereka berdua karena menghadapi jalan buntu menyelesaikan masalah ini melapor ke saya.

Maka untuk menyelesaikan gugatan berikut: “Hu membayar 100 ribu diserahkan ke saya, saya anggap engkau telah membayar hutang. Li mengeluarkan 100 ribu diserahkan ke saya, semua uang ini akan saya bangun menjadi kuil dan sekolah untuk mendidik anak-anak desa yang putus sekolah.”

Ketika dibangun, ternyata kebutuhannya melebihi 200 ribu yuan, sang hakim menyumbang 100 ribu juga, dan banyak penduduk desa juga memberi sumbangan, saat selesai, hakim secara pribadi menandatangani prasasti di depan kuil “kuil kebajikan.” Akhirnya kuil tersebut menjadi kuil yang sangat populer, dan ceritanya diteruskan dari generasi ke generasi.

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular