Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar sejumlah cerita, tidak peduli apa pun kisahnya, dalam buku cerita terkait banyak mengandung hikmah yang bisa dipetik. Filsafat dari orang-orang dahulu membuat kita banyak memperoleh kearifan yang tak terhingga dan cara-cara mengatasi masalah yang dihadapi, karena itu, seusai membaca suatu buku tidak ada salahnya untuk merenungkan isi pengetahuan yang terkandung di dalam buku terkait, dan salah satu kisah inspiratif berjudul “Iblis dan Petani” berikut ini, semoga dapat dipetik hikmahnya. .

Suatu hari, iblis melihat dunia manusia tampak begitu nyaman dan tenang, lalu ia pun berpikir : kalau begitu, lalu untuk apa ada setan ? karena itulah, ia segera mengutus setan kecil untuk mengganggu seorang petani yang tampak giat membajak sawahnya.

Dengan kekuatan gaibnya, setan kecil itu kemudian menyulap lahan pertanian menjadi keras, maksudnya agar sang petani berhenti membajak sawahnya, namun, petani itu tetap saja melanjutkan kerjanya, sedikitpun tidak mengeluh. Melihat itu, sang iblis kemudian mengutus setan kecil kedua, dalam benak setan kecil itu berpikir, jika nasi dan air minum petani itu di bawa kabur, maka petani itu pasti akan kehausan dan kelaparan, hingga terpaksa menghentikan kerjanya di sawah. Tapi petani itu justru berpikir : tidak apa-apa jika memang orang itu lebih membutuhkannya, setan kecil kedua yang diutus sang iblis itu tampaknya gagal lagi. Ketika sang iblis mencoba berbagai cara, setan kecil ketiga lalu berkata : “Saya bisa membuat petani itu menjadi jahat, percayalah!” Lalu, setan kecil ketiga menemui sang petani.

Pertama-tama ia (setan kecil ketiga) berteman dulu dengan si petani, kemudian dengan kekuatan gaibnya memberitahu petani bahwa akan ada kemarau panjang tahun depan, menyuruh si petani menanam padinya ke tanah basah. Dan pada tahun berikutnya, memang hanya petani itu saja yang memetik panen padinya yang melimpah, sehingga petani itu pun meraup untung besar. Perlahan-lahan petani itu pun menjadi kaya raya, mulai tidak membajak sawahnya lagi, beralih profesi membuat arak dari beras dan menjualnya. Setan kecil itu berkata pada sang iblis : “Lihatlah, petani itu sekarang punya darah babi!”

Si petani kemudian menyelenggarakan sebuah pesta perjamuan, semua orang-orang kaya datang menghadiri pesta perjamuan itu, mereka mulai mabuk berat, pakaian yang membaluti tubuh mereka tamapk mulai berantakan bak sekelompok babi gemuk. Kemudian, setan kecil itu berkata lagi : “Lihatlah, petani itu sekarang punya darah srigala!” Petani yang sedang marah itu mencaci maki seorang pesuruh miskin. Melihat itu, sang iblis lalu berkata : “Hebat sekali, bagaimana kamu melakukannya, sehingga bisa seperti itu ?” Setan kecil itu kemudian berkata : “Saya hanya memberinya melampaui apa yang dia (petani) inginkan,” setan kecil itu membangkitkan keserakahan si petani, sehingga ia kehilangan sisi baiknya, dan disesatkan oleh uang, seseorang yang bebas tak terkendali perlahan-lahan akan dibangkitkan oleh pikiran jahat, dan selanjutnya menjadi sesosok orang yang jahat

Dari cerita tersebut di atas memberi gambaran, selain jangan sampai disesati (pikiran) oleh orang lain. Kesenangan orang-orang modern sekarang menjadi pemandangan sehari-hari, bukan saja tidak menghargai segala sesuatu di sekitarnya, dan jika sudah seperti sang petani dalam cerita tersebut di atas, maka itu berati telah menghancurkan masa depan mereka. Jadi jangan menyia-nyiakan segala sesuatu dalam keseharian kita, jangan serakah, hidup harus “bisa bersyukur dan menghargai”, dengan begitu baru tidak akan menjadi iblis ! (Jhn/Yant)

Share

Video Popular