Oleh: DR Frank Tian, Xie

Parade Militer September Partai Komunis Tiongkok/ PKT telah berakhir, yang paling banyak dikomentari oleh pihak dalam maupun luar negeri adalah terkait perlengkapan senjata PKT. Bagaimana bertransformasi dari meniru persenjataan Rusia menjadi meniru persenjataan AS. Sistem komando militer sepertinya juga semakin mendekati sistem militer Amerika, dan berbagai “hasil” militer yang diperoleh pabrik militer bajakan. Ada juga komentar tentang kedua kubu PKT yang berseteru, kenapa mereka tampil di podium berbarengan, membuat orang sulit menebak ada apa gerangan di balik batu. Ada juga yang terus berspekulasi, di tengah trio-krisis ekonomi-sosial-politik seperti sekarang ini. Sebetulnya berapa lama lagi PKT masih akan bertahan?

Satu hal yang barangkali kerap diabaikan oleh masyarakat adalah sebelum dan sesudah parade militer PKT kali ini, strategi perang psikologis diterapkan dalam ruang lingkup luas dan lintas negara. Dalam penerapan strategi perang psikologis parade militer ini selain bertujuan jangka panjang, namun juga bertujuan jangka pendek. Menganalisa strategi perang psikologis dari parade militer PKT bisa dibahas penerapannya pada beberapa lapisan mulai dari para pejabat tinggi PKT, masyarakat awam di RRT, para jendral militer PKT, para pemimpin negara asing, dan juga dunia internasional.

Perang psikologis juga disebut perang mental, adalah salah satu strategi dan taktik perang dalam ilmu militer sejak zaman Tiongkok kuno. Sebenarnya, “menaklukkan pasukan musuh tanpa berperang” (Sun Tzu) adalah teknik taraf tertinggi dalam seni perang, yakni strategi perang psikologis. Prinsip mengerahkan pasukan, utamakan menyerang psikologis musuh, kemudian baru menyerang benteng musuh; perang psikologis adalah yang utama, perang pasukan adalah yang kedua (Zhuge Wuhou), memiliki makna inti yakni perang psikologis.

Yang dimaksud dengan “perang psikologis” (Psychological Warfare), adalah menggunakan teori, cara dan metode di dalam ilmu psikologi, memanfaatkan kelemahan dan ilusi pada manusia, menggunakan cara seperti isyarat, induksi, pancingan, ancaman, propaganda, pengucilan, panduan dan lain-lain, guna mempengaruhi dan mengubah psikologi musuh, sehingga membuat pikiran, tekad, spirit, konsep nilai, keyakinan, perasaan, motivasi dan perilaku musuh berubah sesuai yang diharapkan, menggunakan cara-cara non-konvensional seperti ini untuk mencapai tujuan perang.

Meskipun ilmu psichologi sebagai sebuah disiplin keilmuan telah dilahirkan di Barat, tetapi di dalam tradisi budaya Tiongkok, penggunaan perang mental, tidaklah lebih lambat dibandingkan berbagai negara Barat. Pemerintah Taiwan saat bersiap membalas serangan balik ke daratan Tiongkok pada 1950-an pernah mengemukakan taktik “Sifat mendasar perang untuk melawan komunis dan membangkitkan negeri Tiongkok (Nasionalis), adalah dengan 30% militer dan 70% politik”, yakni dengan mengandalkan perang psikologis.

Perang psikologis, karena tak berwujud dan tidak menggunakan senjata tajam zaman kuno maupun senjata api modern, membuatnya tidak terbelenggu oleh hukum internasional terkait aturan dan kebiasaan perang, waktu dan ruang perang pun hampir tidak terbatas. Karena penerapan prinsip perang psikologis adalah “adu otak” dan bukan “adu nyali”, bisa diterapkan selama masa perang, juga di masa pra-perang, pasca-perang, bahkan pada saat damai sekalipun. Ini adalah semacam perang tak berwujud, dan ada juga sebagian orang menyebutnya semacam “perang dingin”.

Perang psikologis bisa dikembangkan pada tingkatan strategi perang untuk mencapai tujuan perang secara menyeluruh dan jangka panjang; juga dapat dikembangkan ke tingkatan taktik militer untuk mencapai tujuan perang secara parsial dan jangka pendek. Teknik perang psikologis dalam parade militer PKT, meskipun kebanyakan bersifat taktis, sekaligus mengandung sasaran strategis; secara bersamaan, saat taktik perang itu diterapkan secara internal maupun eksternal, akan sekaligus memiliki dwifungsi menyerang sekaligus bertahan.

Di kalangan akademis dan militer Barat, perang psikologi disebut “Psychological Warfare” atau PSYWAR, termasuk MISO (Military Information and Support Operation), Psy Ops (Psychological Operations), Political Warfare (perang politik), “Hearts and Minds” (hati dan jiwa), serta Propaganda. Propaganda dan cuci otak yang diterapkan oleh PKT terhadap rakyat Tiongkok, serta propaganda dan penipuan pada masyarakat internasional, juga mutlak merupakan metode perang psikologis.

Dalam sejarah Barat, saat menaklukkan Eropa dan Timur Tengah serta merebut Kekaisaran Persia, Alexander the Great berhasil menerapkan strategi perang psikologis. Ia bahkan membayarkan mahar bagi para prajurit Yunani untuk menikahi pengantin setempat, agar dapat menyebarkan budaya Yunani dan membatasi budaya lokal. Pada abad ke-13 Jengis Khan juga menggunakan strategi perang psikologis, bangsa Mongol membuat musuh kehilangan tekad perangnya, kemudian baru menyerang. Pasukan berkuda Jengis Khan juga bisa menciptakan kegemparan, dengan menyuruh setiap prajuritnya membawa 3 bilah obor atau mengikatkan sapu di ekor kuda mereka, menciptakan ilusi seolah jumlah pasukan Mongol sangat banyak.

Penerapan strategi perang psikologis modern telah dimulai sejak PD-I, lewat berbagai media massa baik Jerman dan Inggris telah menyebarkan selebaran dan poster dalam jumlah luar biasa besar, menyebarkan poster lewat pesawat terbang, berbagai metode propaganda digunakan. Pada saat PD-II, menurut Hitler kekalahan Jerman pada PD-I sangat besar kemungkinan karena efektifnya propaganda perang psikologis yang dilakukan Inggris, maka Hitler pun menggunakan Goebbels yang terkenal jahat untuk melakukan anti-propaganda. Dalam buku panduan Angkatan Darat AS yang diungkap tahun 2013, juga terdapat sasaran perang psikologis dan perang informasi yang jelas berikut penanggung jawab khususnya.

Perang psikologis saat ini banyak diterapkan di berbagai negara dalam kancah politik internasional, diplomatik, budaya dan banyak bidang lainnya, juga digunakan pemerintah otoriter di politik dalam negeri, ekonomi, budaya dan perdagangan. Pada 2011, banyak negara Timur Tengah yang mengalami revolusi berwarna dan gelombang demokrasi, yang juga merupakan hasil dari perang psikologis. Dalam konflik antara Korsel dan Korut, pihak Korsel menggunakan balon udara melewati garis batas demarkasi militer dan masuk ke wilayah Korut untuk menyebarkan selebaran, uang dolar AS, makanan, DVD, dan barang keperluan sehari-hari. Ini juga merupakan penerapan perang psikologis. Yang mungkin tidak disadari masyarakat Tiongkok adalah, ketika media massa PKT gembar gembor tentang upaya negara menyelamatkan bursa, masuk ke pasar dan prop up the market, sedangkan disaat itu gelagat para taipan dari kelompok peraih keuntungan pada melarikan diri serta membisu secara massal, ratusan juta investor saham kecil sebenarnya telah menjadi korban telak perang psikologis PKT!

Sasaran Perang Psikologis Parade Militer Adalah Para Pejabat Tinggi

Strategi perang psikologis dalam parade militer PKT kali ini, agak sulit dipercaya, tapi lawan yang menjadi sasarannya terutama adalah para pejabat tinggi PKT, atau sebagian dari pejabat tinggi PKT!

Mengenai siapa pejabat tinggi PKT yang akan hadir atau tidak hadir, lebih lanjut merefleksikan banyak analisa terhadap wujud dan akhir dari konflik internal PKT. Seolah lenyap seketika dengan adanya parade militer itu, karena kedua pihak atau beberapa pihak yang terlibat konflik sama-sama terlihat hadir di podium di Lapangan Tiananmen itu. Tapi dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh para pejabat tinggi PKT, serta dari frekuensi dan durasi munculnya wajah setiap pejabat itu di dalam tayangan TV, berikut dari wajah-wajah yang diatur muncul bersamaan atau tidak bersamaan, bisa disimpulkan konflik internal tersebut sama sekali masih sangat jauh dari kata berakhir.

Di dalam tubuh PKT selalu ada konflik sengit hidup dan mati, tapi dalam menghadapi pihak luar selalu terlihat damai, menjaga “kekompakan partai” dan tradisi “kepentingan partai” serta “citra partai”, dan sejumlah kekompakan lainnya yang tidak tertulis. Sebelum terjadi buka kartu atau duel akhir, setiap orang merasa bernasib baik, setiap orang tidak merasa dirinya kalah, setiap orang tidak rela lenyap dari pandangan publik, setiap orang juga terus melakukan perlawanan habis-habisan untuk terakhir kalinya. Bagi kubu Xi dan Li yang sedang menguasai situasi sangat mungkin akan menjaga kekompakan bersama di permukaan bagi para lawannya yang secara psikologis tidak ingin menghilang perlahan. Tapi satu persatu bidikan kamera TV di podium Lapangan Tiananmen telah mengungkap “bebek yang berenang di air, terlihat tenang di atas permukaan tapi menendang gelisah di dalam air.” Momen terjadinya duel, tinggal tunggu tanggal mainnya. (sud/whs/rmat)

 

SUD/whs 021015

Share

Video Popular