Ilustrasi. Penebang kayu.

Pada zaman dahulu kala, nun jauh di sebuah tempat ada sebidang hutan belantara. Di pinggir hutan tersebut ada sebuah rumah keluarga. Keluarga itu memiliki tiga orang anak. Si sulung perawakannya pendek dan gemuk, anak kedua tinggi dan kurus, dan si bungsu lebih jujur dan baik hati, terhadap siapa saja rendah hati dan sabar. Akan tetapi, kedua kakaknya sama sekali tidak menganggapnya sebagai adik yang selayaknya diperhatikan, bahkan mereka selalu menyudutkan dan menertawakan dirinya. Biasanya mereka selalu memanggil dirinya dengan sebutan “bodoh” atau “tolol”.

Oleh karena si bungsu yang paling kecil polos dan baik hati, tidak pernah berdebat dengan mereka. Ia menganggap tidak masalah mendapat sedikit tekanan, karena biar bagaimanapun juga mereka itu adalah kakak-kakaknya. Dan sudah seyogianya ia memperlakukan mereka dengan sabar.

Hingga pada suatu hari, orang tua ketiga bersaudara itu menyuruh mereka pergi ke hutan menebang beberapa kayu bakar dan membawa pulang ke rumah, untuk melewati musin dingin. Karena mereka harus pergi selama satu hari, maka ibunya menyiapkan makan siang buat mereka. Akan tetapi, roti terigu dan anggur putih hanya cukup untuk dimakan dan diminum 2 orang saja. Kedua kakaknya itu tidak mau makan roti yang terbuat dari jagung dan minum anggur yang dicampur dengan air putih. Hanya si bungsu yang berkata pada ibundanya, “Saya mau makan roti yang terbuat dari jagung, dan penuhi saja anggur saya dengan air putih.”

Lalu dengan menggunakan tepung terigu, ibu membakar 2 buah roti gepeng yang besar, dan membuat sebuah roti menggunakan jagung. Mengisi penuh 2 kendi anggur putih, dan dalam kendi arak ketiga yang tidak berisi penuh diisi penuh dengan campuran air putih. Demikianlah ketiga bersaudara itu masing-masing membawa bekal makan siang mereka lalu mulai berangkat. Tidak lama setelah itu mereka mulai memasuki hutan, dan mulai menebang kayu bakar yang pernah ditebang untuk digunakan pada musim dingin.

Si sulung memilih sebatang pohon yang sangat kecil dan menebangnya, namun baru beberapa saat menebang saja napasnya sudah tersengal-sengal. Anak kedua bukannya pergi menebang kayu, melainkan mencari batang-batang pohon yang telah patah di atas tanah. Hanya si bungsu yang dengan serius menebangi kayu yang layak digunakan. Tidak lama kemudian, si sulung dan anak kedua sudah merasa jemu. Lalu, mereka istirahat di bawah pohon.

Hanya tinggal si bungsu yang masih rajin berusaha menebang kayu. Dan tidak lama kemudian, kedua kakaknya terbenam ke dalam mimpi. Ketika siang hari hampir tiba, mereka berdua dibangunkan oleh rasa lapar, kemudian mengeluarkan bekal makan siang mereka dan mulai menyantap. Sambil makan mereka menertawakan si bungsu yang masih tetap bekerja.

“Memang benar-benar tolol kau ini! Mengapa masih saja bekerja?” Kata Kakak-kakaknya.

“Jika tidak segera menebang kayu bakar dan membawa pulang ke rumah, sudah tidak ada waktu lagi karena beberapa hari lagi musim dingin tiba! Usia ayah dan ibu sudah senja, tidak tahan dingin,” jawab si Bungsu.

“Apakah kau tidak merasa lelah dan lapar? Kau memang benar-benar tolol!” Kata kakaknya lagi.

Bersamaan dengan itu, di tengah hutan muncul seorang kakek dan menghampiri ketiga bersaudara tersebut. Si kakek memanggul sebatang kayu usang, tampaknya sangat lelah dan lapar. Si kakek tiba di hadapan mereka dan berkata, “Saudara sekalian, apa kabar! Sudah beberapa hari saya tidak makan, apakah kalian bisa memberikan sedikit makanan pada saya?”

Si sulung mengibas-kibaskan lengannya mengusir kakek tua, “Cepat pergi! Dasar pengemis tua! Roti dan anggur hanya cukup untuk saya sendiri, mana ada sisa yang bisa diberikan padamu. Cepat pergi! Jangan disini membawa sial padaku, mengganggu suasana makan saya!”

Sedangkan anak kedua sedang mempertimbangkan apakah akan memberi makannya atau tidak kepada kakek tua itu? Dalam keadaan bimbang, dan melihat si sulung bicara demikian, sedang murung-murungnya tidak tahu bagaimana baiknya untuk menolak! Dan sudah sewajarnya tidak perlu banyak pertimbangan segera berkata, “Betul, betul! Kita punya hanya cukup untuk makan sendiri. Jika diberikan padamu, bukankah kami harus menahan lapar! Cepat pergilah kau! Cepat pergi!”

Pada saat itu, hanya si bungsu yang berkata pada kakek tua, “Jika Kakek tidak keberatan, saya mempunyai sehelai roti jagung dan sekendi anggur yang telah dicampur dengan air putih. Jika Kakek tidak keberatan terlalu sedikit, kita berdua bisa membaginya dan makan bersama.”

“Kenapa harus keberatan, itu saja saya belum mengucapkan terima kasih, bagaimana saya masih bisa mengeluh makanan ini dan itu! Sungguh, saya benar-benar sangat berterima kasih padamu! Kamu benar-benar seorang bocah yang baik hati. Kebaikan hati dan niat baikmu akan mendatangkan berkah padamu. Pepatah mengatakan, “Berbuat baik ada balasan, demikian juga sebaliknya berbuat jahat pasti ada balasannya,” jawab kakek itu.

Lalu, kakek dan anak bungsu itu duduk berhadapan dan siap menikmati bersama anggur yang tidak begitu banyak dan sebuah roti jagung.

Melihat adik mereka membagi makan siangnya dengan kakek tua, kedua kakaknya menganggap hina. Dan lebih tidak setuju lagi setelah mendengar sang kakek mengatakan tentang prinsip bahwa perbuatan baik ada balasan baiknya.

“Apa sih berbuat baik ada balasannya dan berbuat jahat ada balasannya. Saya tidak percaya! Jika semua orang di dunia sama seperti dengan apa yang kamu katakan, maka bukankah pengemis yang ada di dunia semuanya bodoh dan tolol!” hardik sang Kakak.

Di saat itu, anak kedua yang juga berada di samping menyambung kata-katanya.

“Betul! Betul! Jika bodoh dan tololnya si bungsu adalah kebaikan hati seperti yang kamu katakan, maka jika orang-orang seperti dirinya, bukankah tidak ada orang pintar lagi di atas dunia ini! Dan kami sudah barang tentu tidak ingin menjadi orang bodoh! Apalagi di atas dunia ini mana ada yang namanya balasan baik dan jahat! Saya belum pernah mengalami ada balasan jahat yang bagaimana pada diri saya, juga tidak pernah melihat si bungsu mendapatkan balasan baik yang bagaimana. Semua yang kamu katakan itu mutlak tidak dapat dipercaya, dan juga tidak mungkin,” katanya.

Sembari berkata keduanya tertawa terbahak-bahak. Tetapi, kakek tua malah berkata dengan acuh tak acuh.

“Prinsipnya bukan dikarenakan kamu tidak percaya lantas sudah tidak apa-apa lagi. Perbuatan baik dan jahat pasti ada balasannya. Bukannya tidak membalas tapi saatnya belum tiba. Dan ini adalah hukum langit, manusia tidak dapat mengubahnya.”

Si sulung yang egois sama sekali tidak peduli, dan segera setelah itu mulai menebang pohon. Saat itulah, kampaknya tidak berhasil mengenai pohon tersebut, malahan melukai lengannya sendiri, terpaksa ia pulang ke rumah mengobati lukanya. Dan berikutnya anak kedua, ia pun mengalami nasib yang sama. Kapaknya tidak mengarah ke pohon, malah melukai kaki sendiri, dan terpaksa pulang dengan kaki pincang.

Sebaliknya dengan si bungsu, ketika ia mengeluarkan potongan roti jagung itu, malah mendapati rotinya telah berubah menjadi sebuah roti yang harum semerbak, dan anggur yang telah dicampur dengan air putih itu juga telah berubah menjadi anggur wangi yang berkualitas tinggi. Si bungsu sangat terkejut gembira, kemudian ia dan sang kakek menikmati hidangan makan siang yang sedap dan nikmat itu sampai kenyang.

“Hatimu begitu baik, membagi makanan siangmu untuk saya, saya ingin membalas kebaikanmu. Di sana ada sebatang pohon tua, tebanglah pohon itu, dan di tengah batang pohon itu kamu bisa menemukan sejenis pusaka. Lain kali, jika ada kesulitan datanglah ke sini menemui saya,” kata Kakek.

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Bagaimana dengan kakak-kakak yang terluka akibat kesombongannya itu? Nantikan sambungan cerita berikutnya yaaaa. (et/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular